Hari Raya 1429H @ Batam

Berdasar pengalaman tahun lalu, aku dan Mama Ani memilih untuk menikmati Hari Raya di Batam pada tahun ini. Kurang seru dan tidak terasa suasana Hari Raya-nya adalah alasan utama kami tidak merayakan di Johor. Lagi pula tidak ada lagi saudara yang lain di Johor, semenjak Bayu memutuskan resign dari pekerjaannya dan pulang ke Jawa. Juga teman akrab Mama Ani, Weny yang mengambil kesempatan cuti satu minggu untuk merayakan hari Kemenangan bersama sanak saudaranya di Jawa Timur sana, jadilah tidak ada siapa-siapa lagi orang dekat keluarga kami untuk berbagi Hari Raya ini. Daripada sepi, Batam adalah pilihan terbaik jadi ke sanalah kami menuju.

Sabtu 27/Sept aku sudah booking ferry Penguin untuk keberangkatan Minggu petang 17.20 dari Harbour Front. Pertimbangan berangkat sore adalah agar bisa santai di perjalanan. ADA dan Mama Ani ingin mampir ke Vivo City S’pore untuk jalan-jalan, cuci mata sekalian cari anggur dan apel di salah satu supermarketnya. Kemudian juga untuk menyesuaikan dengan waktu berbuka puasa di Batam, mereka ingin berbuka di salah satu resto di Mega Mall Batam sebelum kemudian pulang ke rumah di Bukit Kemuning.

Acara sebelum Hari Raya tidak padat, kami cukup santai menjalaninya. Ada kunjungan ke Gramedia untuk beberapa buku, ada acara belanja baju baru, dan juga ke pasar basah di Pancur, Tj. Piayu. Wisata kuliner yang biasa kami lakukan sedikit tertahan karena masih bulan puasa ๐Ÿ™‚ Lagi pula banyak restoran yang tidak sepenuhnya buka.

Saat Hari Raya, kami shalat Ied di masjid dekat rumah ramai-ramai dengan tetangga satu perumahan. Cuaca cukup adem karena malam sebelumnya hujan (tepat pada pergantian hari, hujan deras turun mengguyur), membuat lapangan/jalan sekitar masjid terasa lembab. Meski sudah dialasi koran dan sajadah, tetap saja dinginnya terasa. Namun tidak demikian dengan Khatib yang menyampaikan ceramah berapi-api, penuh semangat menyambut sinar matahari pagi di hari yang suci. Allahu akbar… Allahu akbar… Allahu akbar…!!!

Selanjutnya acara 2 hari itu penuh dengan salam-salaman, senyuman, dan tentu saja makan-makan! ๐Ÿ™‚ Pada setiap rumah yang dikunjungi kami selalu disuguhi makanan khas Hari Raya yaitu lontong/ketupat opor ayam. Lebih dari 10 rumah para tetangga, sahabat dan kerabat yang kami datangi, semuanya menyuguhkan makanan yang sama. Walhasil, karena tidak sopan untuk menolak, perut sungguh terasa sesak. Tapi kebahagiaan karena bertemu dan bersilaturahmi dengan mereka tidaklah dapat digantikan dengan yang lain. Selamat Hari Raya, minal aidin wal faidzin, maaf lahir dan bathin…

Tidak bisa pulang kampung ke Payakumbuh atau Kediri tidaklah menghalangi kami untuk lancar berkomunikasi dengan keluarga. Jalur telepon adalah cara mudah dan murah, apalagi sejak perang promosi murah-murahan atau gratis-gratisan dari para provider kartu telepon pra-bayar, sangat memudahkan untuk berhubungan satu sama lain meski jarak yang terentang sangatlah jauh. Dengan itu jugalah kami sekeluarga menyampaikan salam dan permohonan maaf kami kepada orang tua dan sanak saudara yang tidak dapat kami temui. Mudah-mudahan tidak mengurangi makna dan maksud dari bermaaf-maafan dan merayakan Aidil Fitri yang suci.

Kembali ke Johor Sabtu 04/Oct kami membawa kebahagiaan dan senyuman.

Puasa ADA

Dalam 3 hari ke depan ini, ADA libur sekolah. UPSR bagi murid-murid darjah (kelas) 6 tengah berlangsung, sehingga murid-murid darjah 1, 2, dan 3 diliburkan. Kesempatan bagi ADA untuk bisa leye-leye sebentar dari pelajaran-pelajaran sekolah. Minggu sebelumnya memang kami fokuskan dia untuk menghadapi ujian tengah bulannya. Hasilnya belum keluar, minta do’anya dari semua semoga ADA bisa mempertahankan prestasi bagusnya. Nanti kalau buku record sudah dibagikan, akan di-upload di sini.

Liburan ini sekaligus kesempatan ADA untuk bisa berkonsentrasi belajar berpuasa penuh dari Subuh sampai Magrib. Sudah 8 hari Ramadhan berjalan, ADA berhasil melaluinya dengan prestasi berikut: 3 hari puasa penuh, 3 hari puasa setengah hari dan 2 hari tak puasa (lantaran susah dibangunkan saat sahur). Untuk memacu semangatnya, kami menjanjikan hadiah uang untuk setiap hari puasa yang dilaluinya. Jika berhasil berpuasa penuh satu hari ADA akan mendapatkan RM5, jika berpuasa setengah hari RM1, dan uang yang sudah ada akan dipotong RM2 jika ia tidak berpuasa. Di akhir bulan nanti, uang yang terkumpul katanya akan ADA manfaatkan untuk bersedekah dan membeli pakaian Hari Raya. Good girl!

Aku amati, sebenarnya ADA itu sudah kuat untuk berpuasa penuh. Tidak nampak kehausan atau wajah loyo karena tidak makan seharian. Padahal jika diingat-ingat kemampuan makannya yang ‘hebat’ itu, ada kekhawatiran juga kalau dia akan gagal puasa penuh. Yang lucunya, satu jam menjelang Magrib dia sudah standby di sekitar meja makan. Jam dinding terus yang diperhatikannya. Setiap lima menit ADA akan berteriak “50 menit lagi!” “45 menit lagi!” …. “10 menit lagi, Pa!” Sampai saat itu, Mama Ani belum boleh menghidangkan makanan di meja makan, “Bikin ADA ngiler aja” katanya. “Kok lama sih? 5 menit lagi!” Makanan disajikan di meja, bau lezat menguar dan ADA tambah seru, “Udah Magrib belum, Pa?” tanyanya terus-terusan. Dan begitu adzan terdengar, ia akan menyerbu duduk di meja makan dan menikmati makanan berbukanya. Hahahahaha….

Selamat berpuasa untuk semua.

Renungan 165: Membangun Spiritual Leadership

Bagaimana cara membangun spiritual leadership?

Setiap diri kita adalah pemimpin, oleh karenanya Al Qur’an telah menunjukkan bagaimana untuk menjadi seorang pemimpin yang baik:
Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Ali ‘Imran – 31).
Yang dimaksud disini adalah kepatuhan mengikuti jejak Rasulullah SAW.

Zero Mind Leadership (Shiddiq)
Pemimpin senantiasa menyadari ketidaksempurnaan dirinya dan senantiasa memohon ampunan Allah atas kesalahan yang dilakukan.
dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertobat kepada-Nya. (Jika kamu, mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat. (Hud – 3)

Rendah Hati Leadership (Fathonah)
Pemimpin yang rendah hati menyadari bahwa yang sempurna adalah Allah dan senantiasa berupaya menuju kesempurnaan.
Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang. (Thaahaa – 30)

Spiritual Commitment Leadership (Amanah)
Pemimpin yang berprinsip dan berkomitmen pada Allah Yang Maha Tinggi sebagai tujuan pengabdiannya.
Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang kepada (agama)-Nya, niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya (surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus (untuk sampai) kepada-Nya. (An Nisaa’ – 175)

Transformatif Leadership (Tabligh)
Pemimpin yang melakukan transformasi menuju hasil yang lebih baik dan hebat.
Dan katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”. (At Taubah – 105)

Demikianlah untuk menjadi renungan bagi kita bersama untuk selalu mengikuti suri tauladan dari Nabi Muhammad SAW karena padanya sebaik-baik pemberi peringatan.
Katakanlah: “Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu suatu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian kamu pikirkan (tentang Muhammad) tidak ada penyakit gila sedikit pun pada kawanmu itu. Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagi kamu sebelum (menghadapi) azab yang keras. (Saba’ – 46)

Mama Miar Pulang Haji (Lagi)

orchard-road-4-uwo.jpgAda hadiah untukku dan keluarga di awal tahun baru 1429H dengan telah kembalinya Mama Miar dari ibadah Haji. Siang tadi Mama sudah sampai dengan selamat di Padang setelah penerbangan nonstop 9 jam dari bandara King Abdulaziz, JeddahSaudi Arabia. Dari perbincangan di telepon tadi, Mama mengaku kelelahan (akibat perjalanan panjang) dan batuk (akibat perbedaan cuaca). Padahal selama beribadah di tanah suci, Mama tidak merasakan capek dalam melaksanakan ritual-ritual fisik haji. “Mungkin ada bantuan dari ‘tenaga malaikat’ yang membuat Mama kuat“, kata Mama. Dan kata orang, batuk pulang haji adalah oleh-oleh paling khas dari sana. Dengan beristirahat yang cukup dan obat dari dokter, Insya Allah kesehatan Mama akan pulih kembali.

Selamat menjadi Hajjah untuk kedua kalinya, Ma! Semoga ibadah-ibadah yang dilakukan selama perjalanan haji membukakan pintu-pintu surga seluas-luasnya untuk Mama, menjadi hajjah yang mabrur dan mendapatkan cinta, berkah dan karunia dari Allah SWT. Semoga do’a-do’a yang dipanjatkan ke hadiratNya di Baitullah diijabah oleh As Samii’ sang Maha Mendengar.

Note: Photo terpasang adalah saat Mama Miar di Orchard Road, Singapore bulan Juli 2005.

Tahun Baru 1429 Hijriah

Hari ini tanggal 10 Januari 2008 Masehi (atau disebut juga sebagai tahun Gregori) adalah juga merupakan tanggal 1 Muharram 1429 Hijriah. Sebagaimana diketahui 1 Muharram adalah awal perhitungan tahun pada kalender Islam Hijriah. Jadi untuk umat Islam: “Selamat Tahun Baru 1429 Hijriah!”

Sebenarnya hanya ingin menulis itu saja, tapi dipikir-pikir kok ya singkat banget. Ya udah, aku lanjutin sedikit mengenai sejarah dan statistik tahun Hijriah (halah… gayanya, padahal juga dapat dari Oom Wiki, hehehe…).

Kalender Hijriah sebagai kalender Islam mulai digunakan setelah Khalifah Umar Bin Khatab menetapkan saat hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah sebagai patokan awal perhitungan penanggalan tahun baru. Penetapan ini dilakukan 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Jika dihitung mundur, tanggal 1 Muharam tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622M. Tapi tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad SAW karena peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW terjadi di bulan September 622M. Perbedaan ini muncul disebabkan oleh penentuan patokan awal tahun baru yang menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun di Madinah.

Pada kalender Hijriah sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Ini berbeda dengan sistem kalender Masehi dimana sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Itulah kenapa 1 tahun kalender Hijriah (354 hari) lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun kalender Masehi (365 hari). Untuk tahun 2008M selisih jumlah harinya menjadi 12 hari karena tahun 2008 adalah juga tahun kabisat dalam sistem kalender Masehi.

Yang unik, tahun 1429H akan berlangsung satu tahun penuh di dalam tahun 2008M. Akibatnya, kita akan mengalami 2 kali perayaan tahun baru Hijriah pada tahun 2008 Masehi, yaitu pada 10 Januari (1 Muharram 1429H) dan pada 29 Desember (1 Muharram 1430H). Keunikan ini hanya dapat terjadi sekali dalam siklus 33 atau 34 tahun Hijriah!

Meski sedikit mudah-mudahan bermanfaat.

Aidil Adha 1428H di Gelang Patah

Kamis pagi (untuk hari kerja Rabu) aku pulang lebih awal dari pabrik. Jam 6 teng aku sudah di pintu keluar menunggu van yang akan mengantar pulang ke apartemen. Ya, tentunya karena hari Kamis 20/Dec 2007 adalah bertepatan dengan 10 Dzulhijjah Hari Raya Aidil Adha 1428H, jadi aku pulang awal untuk siap-siap Shalat ‘Ied pagi harinya.

Mama Ani tidak bisa ikut, sedang kurang sehat. ADA juga tidak ikut, belum bangun dan tak bisa dibangunkan. Jadilah aku sendiri yang pergi ke surau Taman Nusa Perintis untuk shalat ‘Ied. Saat sampai di surau, sudah cukup banyak jamaah yang datang. Sama seperti saat Aidil Fitri 2 bulan lalu, wajah-wajah yang hadir nampak bisa dibedakan suku bangsanya. Ada yang dari Bangladesh, India, Indonesia dan tentu saja Malaysia sendiri. Namun semua adalah satu keyakinan, satu ukhuwah dan satu kebahagiaan dalam Islam.

Ketika Ustadz menyampaikan khutbahnya, hujan mulai turun. Tapi itu tidak menggangguku dalam mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah itu. Justru yang datang menganggu adalah rasa kantuk (setalah bekerja semalaman). Berkali-kali aku menguap dan berkali-kali pula aku memaksakan mata dan badan untuk tetap ‘hadir’ di dalam masjid. Aku bertakbir di dalam hati, “Alahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa illahaillallah huwallahuakbar… Allahu Akbar wa lillaailham…” Cukup ampuh mengusir kantukku!

Hujan ternyata makin menderas. Banyak jamaah yang tertahan tidak bisa pulang termasuk aku. Ternyata malah membawa berkah tersendiri; aku jadi mengetahui satu tradisi di Malaysia di saat hari Raya. Makan nasi ambang ramai-ramai! Aku jadi teringat kebiasaan yang sama di Payakumbuh setelah shalat hari Raya, bahkan cara penyajiannya pun sama. Nasi disajikan di atas nampan besar dengan lauk berupa ayam gulai, daging sapi dan sambal. Satu nampan ‘dikeroyok’ oleh 4~5 orang. Entah kebetulan entah bagaimana, di nampan yang kumakan, selain aku hanya ada 2 orang lelaki lain yang menghabiskan suguhan besar itu. Barangkali faktor dingin cuaca dan (tentu saja, hehehe…) perut yang lapar, nasi ambang satu nampan itu habis kami makan bertiga! Mudah-mudahan menjadi tabungan amal untuk yang telah mempersiapkan makanan lezat tersebut.

Setelah makan, hujan belum kunjung reda. Aku coba telpon ke pool taksi tak ada yang menerima, persis sama ketika Aidil Fitri! Aku dan Mama Ani kontak-kontakan gimana aku bisa pulang. Sambil menunggu, aku mengobrol dengan pengurus surau itu. Darinya aku dapat keterangan bahwa hewan qurban yang akan disembelih hari ini ada 8 ekor lembu! Cukup banyak menurutku untuk ukuran surau kecil dengan penduduk sekitar yang tidak banyak dan merupakan percampuran antar bangsa (Malay, Chinesse, India, dll). Ada keinginan untuk ikut membantu dalam acara pemotongan hewan quran, tapi mengingat kantuk dan Mama Ani yang sedang tidak sehat, akhirnya niat itu kuurungkan.

Setelah beberapa lama, akhirnya berhasil juga menghubungi sopir mobil van perusahaan dan memintanya menjemputku di surau. Dengan begitu sampailah aku kembali ke apartemen tanpa basah kehujanan. Selanjutnya tidak banyak yang bisa diceritakan karena sampai siang lewat sedikit aku tertidur lelap. Halah… hari Raya kok malah tidur, hehehe…!

Rindu Baitullah

Di ferry saat menyeberang dari Batam ke Singapore sore tadi, aku merasakan gemuruh yang hebat di dada dan air mata bergulir membaca pengalaman spiritual salah seorang alumni ESQ di majalah Nebula edisi Desember 07 tentang perjalanan ibadah hajinya. Sesak terasa di dada menahan gemuruh keinginan untuk dapat merasakan pengalaman yang sama. Merebak air mata ini menggelorakan kerinduan teramat dalam untuk bisa bersujud di Ka’bah, lambang cinta tertinggi manusia kepada Allah. Tak terperi rasanya menahan kuatnya daya hisap magnet spiritual itu ke hatiku.

Aku sangat, sangat ingin ke Mekkah, ke Baitullah!

Panggil aku, ya Allah! Izinkan aku bertamu ke rumahMu. Mudahkan jalanku melangkahkan kaki ke Baitullah. Undang aku ya Allah, undang aku…!

Untuk Mama Miar tercinta yang sedang melaksanakan ibadah haji untuk kali kedua tahun ini, doโ€™akan kami anak-anak Mama untuk mendapatkan panggilan Allah dan merasakan nikmat yang Mama dan Emil pernah rasakan itu.