Halangan Cuti

Akhir minggu ini aku akan mengambil cuti kerja periodik 2 minggu. Penanganan tugas-tugas yang biasa kulakukan sudah dirancang dan diserahterimakan sejak minggu lalu. Ada orang baru yang aku latih untuk bisa membantu di saat aku tidak bekerja. Rasanya sudah tidak akan ada masalah lagi. Sampai pagi ini.

Lha kok ya salah satu orang yang kuserahi tanggung jawab paling besar tiba-tiba mengajukan pengunduran diri mendadak. Katanya harus keluar hari ini juga.

Ealaaah… jadi repot lagi nih! Aku harus mengajar orang lain lagi untuk bisa menangani beberapa pekerjaanku. Kalau tidak, cuti periodikku bisa terancam mundur! Padahal tiket sudah dibeli jauh-jauh hari agar bisa dapat yang ekonomis. Kalau saat-saat musim libur sekolah begini membeli tiket pesawat, wuah… harganya melangit pasti!

Huff… mulai dari bawah lagi dan waktunya semakin sempit!

Advertisements

Senandung Menjelang Pulang

Kalau sudah mendekati waktu cuti pulang ke Jawa begini, hati terasa riang dan bernyanyi-nyanyi. In fact, memang aku jadi bersenandung karenanya!

Lagunya? Yang paling memorable dari film Armageddon, yang dinyanyikan oleh Aerosmith yaitu “I Don’t Want To Miss A Thing”:

I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you’re far away and dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you
Is a moment I treasure

Don’t wanna close my eyes
Don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I’d still miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing

Laying close to you
Feeling your heart beating
And I’m wondering what you’re dreaming
Wondering if it’s me you’re seeing
Then I kiss your eyes and thank God we’re together
I just wanna stay with you
In this moment forever, forever and ever

Don’t wanna close my eyes
Don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I’d still miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing

I don’t wanna miss one smile
I don’t wanna miss one kiss
I just wanna be with you
Right here with you, just like this
I just wanna hold you close
Feel your heart so close to mine
And just stay here in this moment
For all the rest of time

Don’t wanna close my eyes
Don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
‘Cause I’d still miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing

Don’t wanna close my eyes
Don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I’d still miss you, baby
And I don’t wanna miss a thing

Don’t wanna close my eyes
Don’t wanna fall asleep, yeah
I don’t wanna miss a thing

Oke, sekarang saatnya bersiap-siap untuk packing…!

Aku Di tumblr.

Oh iya, mumpung ingat, sekalian saja aku beritahu mengenai akun-ku di tumblr. Belum digunakan sebenarnya, baru masuk beberapa saat dan masih dipelajari. Nampaknya sesuai dengan tag-nya yaitu “the easiest way to blog” maka cocok sekali bagi yang baru di dunia blog.

Silakan cari aku di sini, meski isinya di sana belum apa-apa.

Untuk saat ini cenderung akan kusimpan saja dulu.

Nge-Tweets

Karena belum pernah di-publish di sini, sekedar ngasih tahu aja kalau aku juga punya akun di microblog Twitter. Sebenarnya udah lama kepengen punya, tapi baru belakangan kesampaian. Lupa tanggal persisnya, tapi sekitaran akhir September atau awal October lalu.

Bagi teman-teman yang suka nge-twit di sana, silakan cari aku dengan id: a_ardal.

Yang jelas, nambah lagi satu tempat yang perlu didatangi tiap hari di dunia maya internet. Let’s tweets…!

Dikeroyok Laron

Aku merundukkan kepala. Pintu goa ini cukup rendah. Senter kuarahkan ke depan dan ke atas. Beberapa ekor kelelawar nampak terganggu oleh cahayanya. Sebagian mulai terbang turun dan berputar-putar.

Gelap dan licin sekali. Aku harus ekstra hati-hati melangkah. Semakin masuk dan semakin berbahaya di dalam goa. Kelelawar-kelelawar itu bertambah banyak berputar-putar dalam jarak yang dekat denganku. Sebagian mulai menabrak tubuh. Senut-senut rasanya.

Ahhh… aku terpeleset! Senter terlempar dan jatuh di dekat kaki. Cahayanya menyorot ke arah kepalaku, menyilaukan. Teriakan kerasku dan sorot cahaya lampu semakin membuat kelalawar-kelelawar itu beringas. Aku yang dalam posisi terduduk mereka kerubuti. Menggigit lenganku. Menabrak kening. Menyerang telinga. Hinggap di badan. Semakin banyak dan banyak. Aku kewalahan. Dikeroyok tanpa henti.

Tak ada pertolongan. Suara teriakan tolong tak dapat keluar dari mulutku. Susah sekali berteriak. Aku juga tidak dapat membuka mata. Semuanya gelap. Hanya rasa sakit dan sakit yang terasa. Ratusan kelelawar mengerubungiku!

Tiba-tiba aku tersentak. Suara komentator pertandingan bola di televisi. Ahhh… aku tersadar, ternyata hanya kelelawar di dalam mimpi! Mataku berkeriap mencoba membuka. Mencoba meraih kesadaran. Rasa dikerubungi masih ada. Masih terasa ditabrak-tabrak makhluk kecil. Dan terasa nyata.

Saat sebagian kelopak mata membuka, aku kaget bukan kepalang! Hah, apa ini yang berterbangan? Banyak sekali, ribuan jumlahnya! Berputar-putar di seluruh penjuru ruang TV. Cepat-cepat aku belalakan kedua mataku. Astaghfirullah… ribuan laron terbang memenuhi ruangan. Paling banyak di sekitar lampu dan di depan TV. Ratusan yang sudah patah sayapnya tergeletak di lantai. Penuh, penuh ruangan ini oleh laron! Ternyata yang mengerubungi, menabraki dan merayapiku bukanlah kelelawar tetapi makhluk kecil ini!

Masih pukul 2.30 pagi. Otakku bekerja lambat. Yang terpikir hanya keinginan untuk pindah tidur ke kamar. Urusan laron nanti saja. Kumatikan lampu dan TV lalu naik ke kamar di lantai 2. Di anak tangga kulihat serpihan sayap-sayap bertebaran. Banyak sekali. Di lantai dapur juga. Untunglah pintu kamarku tertutup dan lampunya tidak dinyalakan, sehingga laron-laron itu tidak masuk ke dalam kamar.

Pagi setelah shalat Subuh aku menyapu. Membersihkan semua laron dan sayap-sayapnya yang berserakan di seluruh ruangan. Dapur, ruang TV, ruang tengah, ruang tamu dan sampai ke teras. Tak terhitung banyaknya. Juga yang nyangkut di pintu angin di atas jendela, tempat mereka menerobos masuk. Entah darimana datangnya laron-laron itu. Yang jelas sepertinya harus segera menutup lubang angin dengan kawat tipis untuk mencegah makhluk-makhluk kecil masuk. Agar tidur bisa lelap dan tak diganggu mimpi dikerubuti hewan lagi.

Aidil Adha 1430H Samarinda Yang Sepi

Aidil Adha 1430H. Hari Raya Qurban pertamaku di Samarinda, Kalimantan Timur. Dirayakan sendiri, jauh dari keluarga. Bukan perayaan namanya kalau begitu. Makanya terasa biasa saja.

Setelah shalat Eid di masjid At Taqwa depan perumahan elit Villa Tamara, praktis tidak ada kegiatan yang dapat kulakukan. Menyaksikan pemotongan hewan qurban di 2 masjid terdekat tidak bisa karena pemotongan hewan baru akan dilaksanakan hari Sabtu. Hendak jalan ke pusat keramaian tidak ada kendaraan di rumah, sementara angkutan kota tidak nampak beroperasi (pada hari biasa saja sangat jarang lewat, interval menunggu bisa lebih dari 15 menit). Silaturahmi ke rumah tetangga sekitar juga tidak karena tidak begitu kenal atau akrab dengan mereka (kapan bersosialisasinya? berangkat kerja pagi-pagi, pulangnya udah malam, ngga’ sempat ketemu tetangga).

Karena itu sampai siang aku hanya tidur-tiduran nonton TV hingga akhirnya ketiduran beneran. Terbangun persis setengah 12, saat yang tepat untuk berangkat shalat Jum’at. Makan siang? Nah, ini yang susah! Sepanjang jalan AW Syahranie tak ada satu pun warung yang buka. Berbelok ke arah Vorvoo, sama saja, tidak ada penjual makanan yang kujumpai. Daripada makan di KFC atau food court di Lembuswana Mall yang tidak sesuai dengan seleraku, aku memilih untuk menahan lapar dahulu dan masuk ke Gramedia.

Keluar dari sana, 2 buku ini kubawa pulang:

1. 5 cm karya Donny Dhirgantoro, terbitan Grasindo 2007

2. The Lost Boy karya Dave Pelzer, terbitan Gramedia 2001 (sudah pernah dibaca sebelumnya, dibeli sebagai pelengkap koleksi)

Pencarian makan siang berlanjut. Aku naik angkutan kota menelusuri jalan Juanda, berharap bisa makan nasi Padang atau apa saja yang akan kutemukan di jalan yang biasanya selalu penuh dengan gerobak makanan, warung, resto, atau cafe-cafe. Tapi nihil, sepanjang Juanda, semuanya tutup! Belok ke jalan Antasari mataku celingukan ke kiri dan kanan jalan mencari penjual makanan. Nasib baik, dekat pertigaan ke jalan baru, ada sebuah warung ayam goreng yang buka. Alhamdulillah, makan siangku akhirnya terlaksana jam 14.30 WITA!

Pulang ke rumah langsung ngebut baca 5 cm. Menarik sekali novel ini! Mungkin nanti kalau sempat akan aku buatkan resensinya. Membacanya sampai malam, diselingi makan nasi goreng ikan asin plus lauk ayam bakar yang diantarkan seorang teman yang berbaik hati. Barangkali karena dia tahu, Samarinda sepi dan sulit menemukan penjual makanan pada saat hari besar keagamaan seperti ini.

Menulis (Lagi) Yuuk…!

Seorang adik mengirimkan sebuah cerita padaku di sebuah situs jejaring sosial internet. Kubaca dan kunikmati. Bagus dan mengalir kisahnya. Dengan bahasa yang menarik dan ide cerita yang ‘berat’. Layaknya cerita/tulisan  seorang penulis terkenal yang telah menghasilkan banyak karya. Di akhir cerita si adik menuliskan namanya di situ sebagai penulis cerita. Wah, cukup mengagetkan bercampur senang ternyata adikku memiliki bakat menulis yang hebat. Maka kemudian aku telusuri kembali tulisan-tulisannya terdahulu dan semakin yakin bahwa ia memang berbakat di bidang ini.

Seorang teman menuliskan di catatannya bahwa Tuhan telah membimbingnya kembali untuk menulis. Dengan cara yang sangat mudah, indah dan sederhana, begitu katanya. Maka ia akan kembali menulis bersamaNya. Berpacu dan meminta dipacu.

Teman yang lain, baru kukenal setelah aku pindah ke Samarinda, ternyata adalah seorang blogger terkenal. Blognya selalu ramai didatangi ratusan orang setiap jamnya. Maka berbagilah ia cerita bagaimana menjadikan tulisan dan blognya sebagai sumber penghasilan tambahan.

Bak cambuk, itu semua melecutku hari-hari ini. Bagai kuda bagal yang tersentak, berlarilah aku ke sini. Ke rumah tempat segala yang terlintas di benak pernah ditumpahkan begitu sering. Sebuah rumah tempat bermanja-manja yang pernah dialu-alukan. Rumah yang sekarang terbengkalai tak terurus. Ah, sebuah rindu yang ingin terlampiaskan segera!

Maka rumahku, berharaplah aku akan selalu diselimuti semangat ini agar engkau selalu terisi. Seperti dulu. Saat setiap jengkal waktu tak ada yang terlewatkan tanpa sebuah catatan mengenainya. Saat setiap kisah mendapatkan tempat bercerita di ruang tamumu.

Tulislah apa yang kau mau. Tuliskan pada saat kau mau. Tulis dimana kamu bisa.