Pendidikan dan Tunas Bangsa

(Posting ini adalah email gue ke teman-teman kantor menanggapi kemenangan para pelajar Indonesia di ajang Olimpiade Fisika Dunia di Singapore 2006)

Ya, di tingkat pelajar, Indonesia memang sangat membanggakan. Baik itu di olimpiade Fisika, Kimia, maupun Matematika. Pelajar-pelajar kita sangat potensial dan hebat. Medali emas adalah langganan mereka. Bukan hanya sekali ini, tapi telah berlangsung cukup lama.

Itu karena mereka dilatih secara khusus, terpadu, dengan jadwal yang sangat padat dan materi yang berat, dan dilatih oleh para pakar di bidangnya. Untuk diketahui bersama, materi yang diajarkan adalah materi yang sama yang didapat oleh mahasiswa S2 !!

Masalahnya adalah, kenapa di tingkat lanjutan (ilmuwan, peneliti, dsb) nama Indonesia tak begitu terdengar? Karena tak banyak dari para pelajar ini yang sampai ke tingkat itu (ilmuwan/peneliti) pada akhirnya. Banyak yang ‘mati’ sebelum mencapai itu.

Kebanyakan para pelajar ini memang mendapatkan beasiswa, sebagian besar ke luar negeri (Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Singapore, dll). Mereka tetap hebat dan pintar selama sekolah/kuliah, tetap mengharumkan nama Indonesia. Tetapi setelah kembali ke Indonesia, mereka tidak mendapatkan wadah untuk berkembang. Indonesia memang punya LIPI, tapi hanya sebagai showroom dan menara gading. Hasil-hasil penelitian mereka tidak applicable dan jauh dari memasyarakat. Apalagi orang-orangnya, siapa rakyat Indonesia yang kenal?

Sistem birokrasi pendidikan dan pemerintahan kita sama sekali tidak mendukung untuk itu, malah cenderung mematikan mereka. Ada cerita beberapa tahun lalu mengenai seorang pelajar kita (namanya Iwan Suryaputra, kalau tidak salah ingat dari Sulawesi) yang dapat beasiswa S2 di Jepang. Karena kepintaran Iwan, setelah kuliah S2-nya selesai, Professor penelitiannya mengajak ia bergabung sebagai anggota tim peneliti untuk mengembangkan fusi dingin. Hingga saat itu, dunia kimia hanya mengenal fusi panas (fusi adalah penggabungan/peleburan inti atom kimia). Jadi bisa dibayangkan betapa langkanya kesempatan yang diperoleh Iwan (meneliti hal yang sama sekali belum pernah ada di dunia dan sebagai satu-satunya orang asing di tim penelitian Jepang itu) dan betapa akan sangat sensasionalnya keberhasilan penelitian tsb. Baru saja ia memulai penelitian tsb di bawah bimbingan sang Professor Jepang, Pemerintah Indonesia memanggilnya pulang. Meski Iwan telah menjelaskan keterlibatannya di proyek penelitian langka tsb, Pemerintah RI tetap memaksanya pulang dengan alasan membutuhkannya untuk tugas penting di Indonesia. Iwan mengalah dan mengundurkan diri dari tim penelitian dan pulang ke Indonesia. Tahu tugas penting apa yang menunggunya? Mengajarkan dasar-dasar komputer kepada teman-teman sekantornya !!!

Karena sistem yang tidak mendukung itulah, banyak yang ‘membangkang’ bertahan di luar negeri (tidak mau dipanggil pulang ke Indonesia) atau ‘melarikan diri’ untuk bekerja di lembaga pengetahuan/penelitian ternama di luar negeri. Mereka-mereka ini tidak lagi membawa nama Indonesia, tidak bekerja untuk kepentingan Indonesia, tidak memberikan hasil kecemerlangan otaknya untuk Indonesia. Lembaga/negara asinglah yang mendapatkan keuntungan atas kepintaran mereka.

Sangat disayangkan memang, tapi itulah yang terjadi.
Selama kebobrokan sistem pendidikan dan pemerintahan kita tetap seperti ini, potensi-potensi anak bangsa yang luar biasa tidak akan bisa tumbuh dengan baik di Indonesia. Pada akhirnya yang rugi adalah bangsa Indonesia sendiri, dan bangsa asinglah yang menikmatinya !!

Advertisements

Nadine dan Kecantikan

(Posting ini diambil dari email gue ke teman-teman di kantor menanggapi soal keikutsertaan Nadine Chandrawinata di ajang Miss Universe 2006)

Not so pretty, Bro’.
Nadine menurut gue menarik, tapi typical face-nya masuk kategori membosankan.
Kalau dari sudut pandang bule (Europe, Aussie & Amrik), kecantikan Nadine tergolong biasa saja. Silakan surfing di forum-forum diskusi internet tentang kecantikan wanita Asia (Indonesia adalah salah satu yang paling digemari, selain Vietnam!) untuk membuktikan.
Menurut mereka malahan Lola Amaria, Tiara Lestari, atau Anggun C Sasmi jauh lebih cantik dan eksotik !!

Masih ingat ketika Guruh Sukarno Putra menikah dengan seorang gadis keturunan Kyrgystan (eh atau Kazakhstan ya?, pokoknya negara pecahan Uni Soviet di Asia Barat gitu….) ? Dia disebut dan disanjung sangat cantik. Tapi ternyata kecantikan seperti istri Guruh itu sangat standar di sana. Malahan di salah satu surat pembaca di Kompas ditulis kalau pelayan resto McDonald di sana lebih cantik dari istri Guruh itu !!

So, kecantikan adalah soal sudut pandang, selera, dan budaya. Tak bisa disamaratakan, seperti yang dilakukan dalam berbagai pemilihan ratu-ratuan ini, baik di tingkat lokal, daerah, nasional, ataupun internasional. Memilih dan menunjuk satu orang sebagai simbol kecantikan adalah pembodohan terhadap publik serta juga pembuktian hegemoni tertentu terhadap masyarakat/dunia. Coba saja pikirkan; sekelompok kecil orang dalam panel juri memaksa bagian terbesar masyarakat untuk mengakui bahwa orang yang mereka pilih adalah yang paling cantik di masyarakat, sehingga layak menjadi simbol untuk diikuti/disanjung/diberi kehormatan, dsb. Tak masuk akal, kalau menurut gue!

Kembali ke soal Nadine, jika ia sukses di ajang Miss Universe ini (waktu nonton salah satu infotainment hari Senin lalu, disebutkan kalau ia masuk 4 besar dalam penilaian juri dan polling dunia), maka Indonesia harus bersiap-siap dengan banjirnya produk-produk yang menjadi sponsor utama penyelengaraan Miss Universe, masuk, menyerbu dan menguasai pasar Indonesia. Ya, ini adalah konsekwensi logis dari hasil setiap pemilihan Miss Universe / Miss World. Negara pemenang akan dibanjiri oleh produk-produk kosmetik, kecantikan, fashion, kesehatan, dll dari para sponsor !!!

Miss adalah ikon yang harus ditiru masyarakat. Masyarakat (yang dibodohi) akan membeli produk-produk yang digunakan sang ikon. Produk-produk tersebut akan menjadi budaya bagi masyarakat. Perusahaan yang membuat produk itu akan diuntungkan, semakin besar dan pemiliknya akan menjadi sangat kaya.
Jadi, pemilihan ratu-ratuan ini tak lebih dari sekedar trik bisnis, friends. Tak lebih dan tak kurang, dan itulah kenyataannya. Hanya saja selubung ini tak banyak dilihat orang.

Menilai kecantikan itu harus dengan hati, karena kecantikan itu ada di sana.
Bukan di wajah, bukan di tubuh.

Anybody with me ?