Melipat Motor

Sore ini sedikit longgar, jadi meski di sini sudah bilang masih belum sempat, aku sempat-sempatin deh menuliskan sedikit tentang si GL Pro-ku. Bukan karena penting-penting amat (masa’ iya ngga’ penting sih?), tapi karena bisa dituliskan dengan cepat.

Intinya adalah si GL Pro sekarang sudah dilipat. Hah, motor kok dilipat? Gimana melipatnya? Kecelakaan ya, kena gencet mobil atau apa gitu? Aneh-aneh aja nih…

Iya, si GL Pro dilipat terus dimasukin ke dompet! Hahaha… benar banget! Motor GL Pro yang sudah setia menemaniku dan keluarga selama 1 tahun 3 bulan terakhir ini berhasil menemukan pemilik barunya setelah kujual hari Senin sore lalu. Ada seseorang yang ingin memiliki dan mencari motor GL Pro minggu lalu dan bertanya-tanya ke makelar motor bekas yang ada di sekitaran tempat tinggalku. Memang sebelumnya aku pernah menyebut ingin menjual motor (daripada tak terpakai dan nongkrong saja di rumah) kepada salah satu makelar itu, maka ketika ada orang yang ingin melihat motor milikku, sang makelar pun membawanya padaku sekembalinya aku dari Padang.

Setelah diperiksa sana-sini, ditaksir-taksir, di uji coba langsung oleh si pembeli dan bernegosiasi harga, dengan cepat GL Pro itu berpindah tangan! Bahkan saking cepatnya proses itu, aku yang tadinya ingin mengambil photo si Boncel (kata ADA, “nama motor kita itu kan si Boncel, Pa“) sebagai kenang-kenangan, ngga’ sempat memotretnya karena sudah keburu dibawa pergi si pemilik baru.

Ya sudahlah, mudah-mudahan si Boncel mendapatkan pemilik baru yang lebih bisa merawat dan menggunakannya dengan baik. Barang dunia tak ada yang abadi, apalagi aku memang melepasnya dengan ikhlas hati. Dan berharap semoga saja dapat segera memiliki kendaraan pengganti yang lebih baik… 🙂

Bye bye, Boncel!

Advertisements

GL Pro di hari Minggu

Barangkali karena sudah lama tidak begitu diperhatikan, si GL Pro agak menimbulkan kesulitan kemaren. Awalnya mulai terasa ketika pulang dari Tj. Uncang (menjenguk Bude Enny yang sedang bersedih karena mendapat kabar Papih-nya meninggal Sabtu sore di Banyuwangi) si GL Pro terasa agak tidak enak dikendarai, tidak semulus biasa. Karena itu Minggu pagi kemaren kubawa ke bengkel untuk service dan sekalian ganti oli serta ganti kanvas rem depan belakang yang sudah aus. Selesai itu si GL Pro kumandiin sampai bersih.

Ternyata ketika siangnya hendak kupakai membawa ADA pergi jalan-jalan menikmati hari Minggu, dia mogok ngga’ mau dinyalakan! Setelah kuperiksa, aliran api tidak masuk ke busi rupanya. Periksa kabel, CDI, accu, dll nampak tidak ada masalah. Akhirnya kudorong ke bengkel lagi deh… Ternyata key probe-nya (bener ngga’ nama onderdil ini?) udah rusak kata si montir. Begitu diganti, jreeeng…, si GL Pro nyala lagi ! 🙂

Akhirnya baru lepas Ashar aku bisa membawa ADA dan Mama Ani jalan ke Mega Mall. ADA main satu jam di KidsX, playground untuk anak-anak di lantai 1. Sementara kami berbelanja di Hypermart di Lower Ground memenuhi kebutuhan dapur bulanan. Setelah shalat Magrib di mushalla, kami langsung pulang karena aku juga merasa tidak begitu fit dan ingin istirahat.

Pajak Motor

Sebenarnya jatuh tempo tanggal 12/April (hari ini), tapi karena lebih baik mengurusnya sebelum jatuh tempo, maka aku membayar pajak tahunan sekaligus balik nama motor mulai hari Senin 09/April kemaren. Hari ini adalah hari ketiga pengurusan surat kelengkapan dan semua tetek bengek administrasi lainnya (hari Rabu tidak dihitung, ada keperluan lain), dan aku sekarang tinggal menunggu penyelesaian BPKB.

Rincian biaya-biaya yang aku keluarkan selama mengurus sendiri pajak dan balik nama motor ini adalah sebagai berikut:
1. Beli map dan fotocopy Rp. 7.500,-
2. Beli formulir pajak dan balik nama Rp. 10.000,-
3. Beli formulir cek fisik Rp. 20.000,-
4. Biaya cek fisik Rp. 5.000,-
5. STNK dan TNKB Rp. 40.000,-
6. Pajak motor dan bea balik nama Rp. 239.300,-
7. Administrasi BPKB Rp. 30.000,-

Dari semua biaya-biaya di atas, yang ada pengumuman resmi dan tanda terima hanyalah yang no 5 dan 6, sementara yang lainnya diminta begitu saja oleh petugas dan tanpa tanda terima (yang no 1 bisa dikesampingkan). Aku tidak tahu apakah biaya-biaya itu resmi atau pungli (pungutan liar), tapi yang jelas ini diberlakukan kepada semua orang yang mengurus surat-surat di kantor Samsat Batam, kantor mereka yang baru di kawasan Batu Ampar.

Bagiku, kembali ke pertanyaan ini. Jika memang resmi, syukurlah. Artinya benar ada perubahan di kantor layanan publik rawan pungli seperti Samsat ini. Jika itu pungli, biarlah mereka yang akan mempertanggungjawabkannya kelak!

Engkol Patah

Halah…. baru juga ditulis di sini kemaren, si GL Pro udah minta diceritain lagi. Kali ini tentang kick starter (engkol kaki) yang patah.

Selesai mengerjakan tugas-tugas di meja kantor sore kemaren jam 5 aku langsung turun ke tempat parkir untuk mengeluarkan si GL Pro. Waktu mengengkol lancar-lancar saja dan motor hidup seperti biasa. Tapi ketika engkol dilepas, tiba-tiba tuas engkol itu jatuh! Kaget juga aku dibuatnya, soalnya baru kali ini mengalami kejadian engkol bisa patah.

Mesin motor kumatikan kembali dan mengamati tuas engkol tersebut, bagaimana kira-kira mengatasi masalah ini. Kalau didorong ke bengkel dan ganti engkol baru, lumayan jauh bengkelnya dan ngga’ tahu apakah ada stock engkol untuk GL Pro ini. Kalau diperbaiki, cara satu-satunya adalah di-las. Tapi mengingat sempitnya area pengelasan, mungkin tidak cukup kuat (beberapa kali engkol bisa patah lagi). Tapi tidak ada salahnya mencoba.

Maka motor kudorong ke bagian Maintenance/Facility dan minta tolong pada salah seorang karyawan di sana (Mas Wahyu) untuk mengelas engkol itu. Setelah selesai dilas dan dirapiin pakai gerinda serta dipasang ulang ke motor, aku mengengkol motor. Benar saja, sekali engkol sudah patah lagi! Tuas engkol malah terlempar ke depan.

Setelah mencari-cari dan memutar akal, aku dan Wahyu kemudian menggunakan sebuah baut besar sebagai penyambung engkol ke pengunci bawah. Baut di las rapat dan memutar, kemudian dirapikan kembali dengan gerinda. Beberapa kali sempat bongkar pasang ke motor karena belum pas, akhirnya selesai juga. Kucoba mengengkol beberapa kali, tidak ada masalah. Hore!

Rencana pulang sore akhirnya terkendala. Pengerjaan perbaikan itu baru selesai dalam 2 jam, jadi praktis baru jam 7 malam lewat aku bisa keluar dari pabrik. Cape deh…!

Si GL Pro

Ngga’ tahu kenapa, hari ini pengen nulis tentang si GLPro-ku. Barangkali karena belakangan ini GLPro suka bikin aku mangkel, lantaran ban belakang yang sering gembos. Seminggu terakhir ini aja aku udah (terpaksa) ganti ban dalam 2 kali karena gembosnya ngga’ bisa ditambal. Sementara gembosnya sendiri ada 3 kali. Yang tambah bikin mangkel, justru terjadi pas dia lagi dibutuhkan untuk ngantar ke kantor atau sekolah si ADA!

Penyebab utama ban dalam bermasalah adalah karena ban luarnya udah luar biasa tipis termakan aspal jalan. Ditambah lagi beban yang harus dia tanggung saat aku dan keluarga menungganginya. Kami memang keluarga besar, dengan ‘besar’ dalam arti yang sesungguhnya 😉

Salah satu prioritas utama setelah terima gaji di akhir bulan ini adalah beli ban belakang buat si GLPro-ku, biar ngga’ gembos terus. Agar perjalanan kemana-mana bisa enak dan lancar tanpa gangguan.

O iya, photo di atas adalah ketika si GLPro ketahuan parkir tidak di area parkir perusahaan (alasannya waktu itu adalah karena hujan lebat, jadi kalau aku parkir motor di tempat parkir, maka aku bakalan basah kuyub). Dijepret sama uncle Tommie (yang selain membawahi Training Section juga punya tugas khusus menjaga tata tertib, kebersihan, keteraturan dan disiplin di perusahaan), tapi ngga’ di-publish ke khalayak perusahaan. Cingcai wo, kan teman sendiri hehehe…