Kalau Lagi Sibuk

Pemandangan di meja kerjaku suatu waktu. Beberapa gadgets yang sedang dalam posisi siaga penuh. Ada PC (di samping meja, tak terlihat) dengan flat monitornya, sebuah laptop Toshiba yang sedang melayani sebuah modem 3G dan eksternal harddisk (lupa berapa GB kapasitasnya, nanti di-update), 2 flashdisk yang siaga jika sewaktu-waktu diperlukan (dan masih ada 2 lagi di dalam tas, tidak terlihat), kalkulator, dan 3 buah handphone berbeda tipe.

Biasanya begitu posisinya, kalau lagi sibuk di kantor. Kalau lagi mobile seperti ke mining site, cukup bawa laptop dan tetek bengeknya itu. HP tentu juga dibawa, kadang bisa tiga-tiganya! Kalau PC jelas ditinggal, karena ngga’ mungkin digotong-gotong ‘kan? Hahaha…

Advertisements

Kehidupan Yang Berbeda

Menikmati hari-hari yang baru di sebuah sudut desa di Pasuruan, Jawa Timur adalah menikmati irama dan suasana kehidupan yang sungguh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Tidak ada mall atau jalan toll. Tidak ada gymnasium, kolam renang atau arena bowling. Tidak juga kartu-kartu magnetic digital, dering handphone, grafik-grafik computer atau deru tembakan chip elektronik pada papan sirkuit. Tiada tekanan target kerja atau ketakutan tidak dapat memenuhi komitmen pada customer.

img0508a

Yang ada hanya alam, alam dan alam.

Lenguhan sapi yang sedang diperah susunya, tarikan nafas pada udara yang begitu segar dan bebas polusi, pandangan yang lepas dan teramat dekat pada bernas-bernas padi di sawah saat bertelanjang kaki menelusuri pematangnya, kelompok-kelompok petani yang tengah bungah bekerja memanen hasil satu musim, titik-titik murni embun di dedaunan, anak-anak yang bermain bola di sawah yang telah kering setelah panen, iringan bebek yang sedang mencari makan, senyum ikhlas dari orang-orang yang bahkan tidak dikenal dan belum pernah dijumpai, cericit burung di atas pohon…

This is life!

Kehidupan yang berasal dan menyatu dengan alam. Yang dimulai di awal Subuh dan berakhir tak lama setelah Isya. Rutin dijalani sebagai wujud pengabdian dan kepatuhan pada sang pemberi yang Maha Hidup dan Maha Mengatur.

Aku menikmatinya, sungguh!

Tidakkah engkau ingin, Kawan?

Rumah Impian Di Leisure Farm Resort

bayou Bak seorang juragan sukses dengan pundi-pundi penuh uang, aku ke Leisure Farm Resort pada akhir minggu lalu. Setelah lebih dari 1.5 tahun di Gelang Patah, baru kali ini punya kesempatan untuk berkunjung ke sana. Setiap kali melintasi highway 2nd Link menuju Singapore, kawasan ini menarik perhatianku karena pesona padang rumput hijaunya yang luas, rumah villa yang mempesona dan beberapa fasilitas yang terlihat dari jalan. Karena tidak memiliki kendaraan sendiri untuk ke sana, maka kesempatan saat kembali dari membeli ikan segar di Kampung Ujung Pendas (sebuah kampung nelayan, berbatasan selat sempit saja dengan Singapore) bersama Sashi, aku memintanya untuk ke Leisure Farm Resort. Kebetulan ketika berangkat ke Pendas, Sashi juga tertarik melihat sebuah spanduk promosi di depan pintu gerbang, sehingga jadilah kami masuk ke dalam kawasan perumahan eksklusif ini.

Kesan pertama, privasi dan keamanan penghuni sangat terjaga. Petugas keamanan adalah pasukan Gurkha dari Nepal. Pos penjagaannya besar, beberapa orang penjaga terlihat di dalamnya. Dari luar aku melihat pos ini dilengkapi dengan komputer (yang menunjukkan beberapa gambar hidup dari kamera pengintai), beberapa peralatan keamanan serta sepeda-sepeda yang terparkir rapi (kemudian aku ketahui bahwa mereka melakukan ronda keliling kawasan setiap 20 menit dengan mengayuh sepeda-sepeda ini). Meski riwayat keberanian pasukan Gurkha sangat terkenal, namun pasukan yang bekerja di kawasan Leisure Farm melayani tamu atau pengunjung dengan sangat baik, ramah serta penuh senyum. Kesan angker tak terlihat pada mereka. Yang jelas, mereka nampak sangat profesional.

Memasuki kawasan dalam, kesan berikutnya yang muncul adalah rapi, sejuk, bersih, luas dan terawat. Jalannya ada yang diaspal dan di beberapa bagian menggunakan conblock, keseluruhannya dibuat 2 jalur yang dipisahkan oleh taman bunga di tengah-tengah. Di tepi jalan beraneka tumbuhan dan bunga berjejer rapi. Aku sempat melihat petugas keliling menyirami tanaman dengan selang air besar dari truk air. Porresia Golf and Country Club di sisi kanan adalah pemandangan indah lainnya. Demikian juga kontur tanah dan jajaran rumah-rumah mewah di sisi lainnya, sungguh memikat mata yang memandang.

drimbunan

Setelah berkeliling di beberapa areal (menurut website di atas seluas 1765 hektar), Sashi mengajak singgah ke kantor pemasarannya. Kantor itu dinamai D’Rimbunan.

serai1

Kami bertemu dengan Samantha Ann, seorang sales executive di sana. Dengan panjang lebar ia menjelaskan banyak hal kepada kami, terutama sekali syarat-syarat kepemilikan rumah dan fasilitas yang tersedia di dalam resort. Ia menunjukkan maket-maket kawasan dan rumah yang dipajang di dalam sebuah ruangan khusus. Bahkan kami dibawanya melihat rumah contoh untuk satu kawasan tema Bayou Water Village yang dinamai Serai.

Cantik, cantik sekali rumahnya! Bagi Leisure Farm, ia adalah tipe rumah paling kecil, namun ia terasa ‘besar’ dan fungsional. Rumahnya eksklusif sekaligus terbuka secara alami. Berada dalam lingkungan yang komunal namun mewah. Secara menyeluruh, barangkali inilah rumah impian bagi sebuah keluarga kecil dengan satu dua orang anak yang menginginkan ketenangan dan kedamaian.

Dan seperti impian, terkadang ia begitu sulit dijangkau. Rumah kecil bertingkat 2 dengan 4 kamar tidur itu dihargai lebih dari RM500 ribu. Silakan dikonversi ke Rupiah jika RM1=Rp3300 saat ini! Belum lagi nantinya ada biaya bulanan untuk perawatan sebesar RM440, tagihan listrik dan air, keanggotaan klub dan sebagainya. Dengan berbagai fasilitas di dalam resort (golf course, klub berkuda, taman agrikultur, fasilitas olahraga dan rekreasi, arena camping, danau, serta banyak lagi rencana pembangunan ke depan), sepertinya memang harus menjadi seorang juragan kaya raya untuk menikmati itu semua. Untuk saat ini, rumah di Leisure Farm cukup disimpan sebagai angan-angan saja.

Catatan: photo diunduh dari website resmi Leisure Farm Resort.

Condo Sepi

sepiPhoto ini diambil awal Januari. Dari lantai 4 tempat kami tinggal ke arah lapangan parkir dalam (samping taman bermain). Masih dalam suasana libur akhir tahun. Banyak penghuni yang sedang keluar kota/negara. Hanya beberapa mobil nampak terparkir di sana, yang pada hari-hari biasa selalu terisi penuh.

sepi2Holiday mood banget! Lihatlah beberapa penghuni yang sedang duduk berbincang santai di gazebo. Bahkan salah seorang menggelar koran di rerumputan dan tidur! Angin sepoi-sepoi, udara yang sejuk, ah asyik sekali…

Setelah libur akhir tahun dan kembali mulai sibuk bekerja, lha ini kok malah menulis tentang liburan lagi? Hihihi… ngga’ apa-apa. Bukankah tak lama lagi liburan tahun baru Cina segera tiba? Artinya, liburan lagi! Satu minggu gitu lho…

Sunset

Sebuah matahari yang hendak ke peraduan. Di penghujung hari di penghujung bulan. Meninggalkan segala gerak yang terpapar di hadapan sinarnya. Meski itu salah satu dermaga paling sibuk di dunia. sunset

Dan aku tengah menghala kembali ke sebuah pulau yang lebih damai, di negeriku tercinta Indonesia. Sedamai cahayanya yang terpantul lembut di samudera.

Lift Aneh – Part 2

Hayyahh…. terperangkap di lift lagi! Pagi-pagi mau berangkat kerja, bareng pak Chua, kebawa naik ke lantai 15, untungnya ngga’ begitu lama, selamat tak ada kejadian apa-apa.

Tapi blackout di dalam saat lampu mati sekitar 15 detik benar-benar pekat. Pak Chua yang hanya sejangkauan tangan tak nampak oleh mataku. Guncangan saat awal kejadian di lantai 3 tak seberapa, tapi saat lift mendadak naik ke lantai 15, berhenti dan berguncang di sana cukup bikin keder. Kebayang kalo sesuatu terjadi dan kotak besi itu terjun bebas ke bawah…

Bagusnya alarm berfungsi dengan baik saat ditekan. Suaranya kencang dan terdengar di seluruh lantai di blok A itu. Petugas keamanan yang sedang berjaga bertindak cepat memberi pertolongan. Ada 2 petugas yang naik ke lantai 15 membantu kami berdua keluar setelah pintu lift dibuka paksa. Posisi lift tidak rata dengan lantai 15, lebih tinggi sekitar 50 cm sehingga kami berdua harus melompat keluar. Bersama mereka kami turun dengan lift sebelah menuju lantai dasar dengan aman dan selamat.

Aku tidak panik atau khawatir, mungkin karena pengalaman sebelumnya. Apalagi sinyal Maxis dalam lift pada handphone kulihat cukup kuat, sehingga aku bisa menghubungi dan dihubungi oleh Mama Ani dan teman-teman yang sudah menunggu di dalam mobil van jemputan. Biasanya kalau di dalam lift ini sinyalnya lemah sekali, pembicaraan sering terputus jika masuk ke dalamnya. Inilah yang juga membantu cepatnya pertolongan datang (seorang teman memberitahu ke petugas di pos jaga), jadi aku dan pak Chua tidak lama-lama terperangkap di dalam.

Harus diusulkan kegiatan maintenance lift yang lebih sering nih ke pihak manajemen apartemen. Agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi.

Teman-Teman Mama Ani

Di lingkungan apartemen tempat kami tinggal, Mama Ani mampu beradaptasi dengan baik melalui cara bergaulnya yang dapat diterima oleh sesama penghuni. Meski dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda satu dengan lain, hal tersebut tidaklah menjadi penghalang untuk membina persahabatan. Awal pertemanan biasanya dimulai dengan perjumpaan-perjumpaan di wilayah bersama seperti di arena permainan anak, kolam renang, kantin atau di kedai. Yang kemudian berlanjut dengan perkenalan dan pertemuan yang lebih sering.

Ada beberapa yang menjadi teman karibnya. Kalis adalah salah satunya. Ibu 2 remaja putri, warga negara Malaysia keturunan India, suaminya bekerja di S’pore (tiap hari bolak balik JB ~ S’pore). Badannya tidak tinggi, tapi kalau bicara suaranya lantang dan sering ditingkahi dengan gerak mata yang seperti penari Bali. Pernah dioleh-olehi kain batik oleh Mama Ani dari Batam, dan ia suka sekali sampai titip beli jika ke Batam lagi. Dulu sebelum ADA bertukar kendaraan jemputan, setiap pagi selalu berjumpa dengannya karena kedua anaknya juga menaiki kendaraan yang sama.

Noe’ adalah teman yang lain. Juga ibu atas 2 orang putri. Bersama suaminya, mereka adalah keluarga yang ‘subur’. Noe’ keturunan Siam Thailand yang sehari-hari berbicara dalam bahasa suaminya yang keturunan Cina di rumah. Untuk mengisi waktu dan menambah pendapatan keluarga, Proton Saga tahun lamanya diberdayakan menjadi kendaraan antar jemput anak sekolah. Dengannyalah sekarang ADA berangkat dan pulang sekolah 5 hari dalam seminggu.

Khampaeng atau biasa disapa Paeng (baca: Peng) warga negara Thailand. Lebih tua 11 tahun dibanding Mama Ani tapi anak perempuannya 4 tahun lebih muda daripada ADA yang sekarang sudah 7 tahun lebih. Bersuamikan pria Belgia yang sibuk luar biasa (karena pekerjaannya menuntut ia harus terbang ke seluruh penjuru dunia sebagai konsultan bisnis, pernah menembus rekor 280 kali terbang dalam setahun!). Berbicara tergagap-gagap dalam bahasa Inggris sederhana tapi bagaikan berondongan senapan saat memarahi anaknya dengan bahasa Thai. Yang unik jika Mama Ani, Noe’ dan Paeng berkumpul maka ada 3 bahasa yang dipergunakan. Bahasa Melayu (antara Mama Ani dan Noe’), bahasa Inggris (antara Mama Ani dan Paeng) dan bahasa Thailand (antara Paeng dan Noe’). Jika salah satu dari bahasa itu dipakai, maka salah seorang dari mereka akan terbengong-bengong tidak mengerti. Noe’ tidak paham bahasa Inggris, Paeng tidak paham bahasa Melayu, dan Mama Ani tidak paham bahasa Thailand. Lucu ‘kan?

Ada beberapa orang lagi yang dikenal Mama Ani dengan baik. Weni (wanita Indonesia bersuamikan pria Taiwan), Ika (wanita Indonesia bersuamikan pria Malaysia), Auntie Chin (keturunan China Malaysia), Arul (keturunan India Malaysia), Emily (wanita Philipina bersuamikan keturunan India Malaysia) dan beberapa orang lainnya. Mudah-mudahan pertemanan yang baik antara Mama Ani dan teman-temannya akan terus berlanjut dan tidak menimbulkan friksi-friksi tertentu. Karena seribu teman tidaklah cukup tetapi satu musuh saja adalah terlalu banyak.