A Song For You, Dear…

Di meja sebelah sana di ruangan kantor, seorang teman sedang mengaktifkan music player di komputernya. Aku sendiri tengah asyik dengan tumpukan file yang harus kukerjakan. Sesekali kepalaku mengangguk-angguk mengikuti irama. Di lagu yang video-nya terpasang di bawah, aku menghentikan pekerjaanku. Nostalgia datang tiba-tiba. Pikiranku terbawa terbang, jauh ke negara tetangga Malaysia, tempat aku pernah bekerja dan bermukim bersama anak dan istri.

Kala itu aku selalu membawa MP4 player jika berangkat kerja. Dengan earphone terpasang, sambil menunggu mobil van datang menjemput, aku menikmati lagu-lagu terbaru yang kuunduh dari internet dari musik player tersebut. Yang paling kusuka salah satunya adalah lagu Sempurna dari grup Andra & The Backbone ini. Musiknya sederhana tapi keren sekali, liriknya menggugah dan petikan gitarnya terdengar sangat empuk di telingaku.

Versi lain lagu ini yang tak kalah kerennya adalah yang dibawakan dengan sangat manis oleh Gita Gutawa:

Angka/nilai 10 adalah nilai sempurna, begitu kata orang. Menjelang pernikahan timah 10 tahun kita yang akan tiba beberapa hari lagi, kupersembahkan lagu indah melalui tulisan singkat ini bagi pendamping sempurna hidupku, kekasihku, istriku Ani Destriana. Dear, this is for you!

kau adalah darahku, kau adalah jantungku

kau adalah hidupku, lengkapi diriku

oh sayangku, kau begitu… sempurna… sempurna…

Advertisements

Utusan Rindu

Meninggalkan ‘zona aman’  tentu bukan hal yang mudah. Tapi itu harus kulakukan seiring keputusan untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang telah diambil sebelumnya. Ada kegamangan dalam taraf tertentu, tapi harapan akan kebaikan di masa depan juga hadir menyambut. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan sebenarnya dengan keluar dari zona tersebut. Yang jelas aku meninggalkan Jurong HiTech is for good. Bertahan terus di sana dengan situasi krisis dunia yang menghantam telak sector industry elektronika dan beban hutang perusahaan yang begitu berat kepada banyak bank dimana memberi dampak langsung yang buruk bagi kesejahteraan karyawan, jelas bukan pilihan yang bijak untukku manakala ada prospek lain yang lebih baik terbentang di depan mata.

Mungkin ada sahabat yang mempertanyakan keputusanku, apakah tidak sayang meninggalkan pabrik yang penataan dan pengaturannya ikut aku bidani sejak awal itu (lihat tulisan-tulisan pertengahan 2007) atau apakah tidak terlalu premature meninggalkan perusahaan yang secara operasional masih berjalan? Sememangnya wajar pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Namun sebagai orang yang pernah berada 7 tahun di dalam sana dan berada di posisi yang cukup tinggi untuk dapat melihat dan memahami apa yang telah sedang dan akan terjadi, aku meyakini keputusanku bukanlah hal yang salah atau gegabah.

Yang lebih banyak muncul di kepalaku adalah justru pertanyaan-pertanyaan kenapa perusahaan bisa jatuh ke titik rendah seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan yang merupakan campuran dari keraguan, penyesalan, rasa sayang sekaligus keprihatinan. Mungkin itu yang membuat kenapa aku merasa biasa-biasa saja meninggalkan Jurong HiTech, tidak seperti kala meninggalkan TEC atau PCI di tahun-tahun sebelumnya yang terasa berat dan sedih.

present-2Dalam datarnya suasana hati itulah, sebuah kado kecil dari para bawahanku di Produksi hadir untuk membuat nuansa yang sedikit berbeda. Aku tak mengharapkan apa-apa, namun perhatian dan solidaritas mereka sangatlah lebih dari pantas untuk dihargai. Maka dari itu, aku ingin sekali berterima kasih kepada PH Gan, SW Liong, Poh Choo, Joanne, Nurhana, Ayu (Debug), Salina, Zulaini, Ninie, Lisma dan auntie Yong yang telah bersama-sama dengan ikhlas urunan demi menghadirkan kado tersebut.

present-4Semoga utusan rindu yang disampaikan oleh teman-teman di atas bisa menjadi pendorong semangat dan membangkitkan keinginan untuk berjuang lebih keras lagi ke depan, baik untukku dan juga untuk mereka sendiri yang masih bertahan di sana. Seperti yang ditulis di dalam kartu yang terdapat pada kado tersebut, ya… kenangan di Malaysia akan menjadi kenangan yang indah untuk dikenang selamanya. Bersama mereka aku pernah bekerja bahu membahu di Jurong HiTech Industries (M) Sdn Bhd.

Sedikit Tentang Bayu

Bak roda pedati, begitu orang tua dulu-dulu mengibaratkan kehidupan. Rodanya terus berputar, kadang berada di atas kadang berada di bawah. Ada masa susah, ada masa senang, ada saat pendakian, ada saat di puncak, juga ada saat menurun bahkan ketika berada di titik terendah kehidupan. Dan seperti sejarah, ia akan juga berulang dialami oleh manusia.

Aku mengalaminya seperti Anda juga mengalaminya (mungkin belum mungkin sudah). Begitu juga Bayu, adik iparku. Sejak ikut kami ke Batam tahun 2000, perputaran roda itu nampak padanya. Mulai dari jenjang paling bawah pada hierarki sebuah perusahaan, sebagai operator (bagian packing) ia mulai merangkaki roda pedatinya. Pelan-pelan naik menjadi rework operator, leader, lalu teknisi, kemudian teknisi senior sampai engineering assistant. Berpindah perusahaan. Beragam mesin dan alat testing PCBA. Bergaul dengan solder, osciloscop, pin, komponen elektronik, multimeter, ratusan software, dan sebagainya. Dari Batam, Singapore dan Johor.

Saat itu masih bujang, belum berkeluarga. Bekerja lembur tak masalah baginya, bahkan sepanjang bulan tiada henti. Keinginan untuk belajar dan menguasai bidangnya sangat kuat. Ia muda, ia kuat, ia bebas. Penghasilan bulanan lebih dari cukup untuknya. Hasil kerja kerasnya ia nikmati. Berbagai kebutuhan eksistensi anak muda ia punya. Rodanya terus bergerak.

Kemudian mulai memasuki pintu pernikahan. Tanggung jawab mengganda. Hal yang tadinya tak difikirkan, sekarang mulai menjadi faktor yang harus diperhitungkan benar-benar. Salah akan membawa akibat. Dan hukum sebuah roda pun bekerja, setelah puncak maka ia mulai menurun.

uyab

Langkah yang terburu-buru diambil. Berhenti bekerja, kehilangan pendapatan, kembali ke orangtua (di Jawa dan Sumatera) dan kehabisan tabungan. Padahal ada keluarga yang menjadi tanggungan. Ada tugas sebagai kepala keluarga. Dan kehidupan yang terus bergerak tiada henti untuk diikuti. Dijalani sampai jenuh, butek dan tertekan. Sampai tiba kesadaran untuk memulai kembali.

Ke Batam lagi. Menggali informasi dari awal, membuka koneksi sana sini, menelusuri jejak yang dulu lagi.

Di antara waktu senggang di Batam, ia mendempul dinding rumah kami yang retak, mengecat dan menambal atap yang bocor. “Ini pekerjaanku saat ini, jadi tukang,” katanya saat kami bertemu di Batam bulan lalu, “Di Jawa aku jadi peternak ikut Bapak pelihara kambing dan sapi. Kadang seperti tukang ojek mengantar Ibu atau Puteri ke sana-sini. Atau jadi peladang di Lintau kemarin.” Itulah caranya mendorong roda pedati hidupnya agar bergerak.

Dan kemarin roda itu mulai bergerak kembali, Bayu mengirimkan sebuah pesan pendek, “Aku diterima bekerja di PCI sebagai Asisten Test Engineer, mulai bekerja besok (hari ini).”

Selamat, Bayu! Dorong terus rodamu, dengan kuat dan bersemangat. Ia akan berputar naik dan turun tiada henti. Jangan mudah menyerah dan patah. Belajarlah dari masa lalu. Hidup harus diperjuangkan. Sampai nanti kembali pulang kehadapanNya untuk mempertanggungjawabkan semuanya.

Selamat Jalan, Pak!

Sebenarnya ingin menulis lebih panjang tentang berpulangnya tokoh besar yang satu ini, namun mengingat sudah begitu banyak opini, obituari, kritikan, inmemorial, obrolan, kenangan, dll yang ditulis di banyak media, aku pikir cukuplah tulisan di bawah ini mewakili sikap dan pandangan pribadiku atasnya. Lagipula, tidak ingin membuat keseragaman tulisan yang sudah begitu banyak itu.
“Selamat jalan, Pak Harto. Terima kasih atas bentangan pembangunan negeri ini dan semua yang telah kau berikan pada rakyat Indonesia. Hanya di pengadilan Allah lah manusia akan mendapatkan keadilan seadil-adilnya.”

Kredit photo: diambil dari sini.

Selamat Ulang Tahun, Sayang!

mama-ani04.jpgAku mendengar orang-orang berbicara tentangmu. Padahal kamu anak baru, baru saja datang dari Jawa. Tentulah kamu istimewa sampai mereka membicarakanmu. Sampai saat itu, itulah saja yang kutahu tentangmu.

Dari belasan anak, kamu termasuk yang kupilih untuk bekerja di tempatku. Karena kamu nampak percaya diri dan menarik. Teman-temanku menggoda, pilihan yang tepat kata mereka. Di situ aku mengetahui namamu.

Kamu cepat belajar. Kamu pintar. Kamu berbeda. Kamu manis. Aku mulai tahu tentangmu.

Hari berganti hari. Waktu berputar cepat. Aku mendengar orang-orang terus membicarakanmu. Dan hatiku ikut mendengarkannya. Aku tahu ada yang lain denganmu.

Dan hati itu juga yang terpaut sungguh denganmu. Dan setelahnya, semua berlangsung begitu cepat. Ketika kau mengangguki ajakanku. Ketika kita menangis di depan penghulu. Ketika buah cinta titipan Ilahi hadir mengiringi kehidupan kita. Ketika langkah itu sampai ke hari ini. Hati ini terus terpaut. Kita sudah jalani semua. Yang penuh senyum tawa. Yang diselimuti tangis dan derita. Sudah cukup lama. Atau mungkin masih terlalu sebentar?

Tiga puluh tahun usiamu hari ini, sungguhkah aku telah mengenalmu? Semoga hanya Allah SWTlah yang selalu mendekatkan hati kita.

PS: Aku tak punya kado yang lebih baik, terimalah ini sebagai gantinya.

Satu Tahun Mengenal ESQ

Desember tahun ini tepat satu tahun aku merasakan indahnya dunia bahagia spiritualitas ESQ. Dimulai sejak dari menjadi peserta training (angkatan 12 Batam), sebagai alumni, menjadi ATS, sampai ikut dalam kegiatan-kegiatan alumni ESQ di luar training. Senang dan bahagia rasanya berada di dalam kegiatan dimana hati, pikiran, dan badan bersatu bersama-sama.

Banyak manfaat yang sudah kudapat. Ilmu-ilmu 165 yang diajarkan telah membukakan hatiku selebar-lebarnya untuk menyadari siapa AllahAl Khooliq, siapa aku, untuk apa aku di dunia, dan hendak kemana aku akan pergi setelah kehidupan dunia. Pengalaman-pengalaman membahagiakan dan tak terlupakan sebagai ATS. Derai air mata dan senyum optimis kebahagiaan menghadapi apapun di dunia ini. Keikhlasan membantu tanpa keinginan mendapatkan balasan kecuali ridhaNya. Berjumpa sahabat-sahabat sejati. Perjalanan-perjalanan spiritual tinggi menembus batas pemikiran dan menukik dalam ke dasar hati. Banyak, sungguh banyak!

Dari pertama kali menjadi ATS di training angkatan 15 pada bulan Maret 2007, alhamdulillah aku tidak pernah absen membantu pelaksanaan training sampai angkatan 23 bulan Desember 2007 lalu. Segalanya dimudahkan oleh Allah Al Baari’ agar aku dapat hadir di ruangan training. Entah saat masih di Batam, pun jua ketika sudah bekerja di Johor Bahru, selalu ada waktu dan kesempatan yang diberikanNya untukku. Termasuk juga kemudahan ketika aku bisa mengikuti training lanjutan Mission Statement angkatan 2 Batam dan mengikutkan Mama Ani untuk juga dapat merasakan kebahagiaan spiritual ESQ.
Dan sebagai pengingat, bisa jadi iklan koran ini adalah kenang-kenangan paling indah bagaimana setahun yang lalu ia hadir untuk mengubah caraku memandang hidup!

Ada keinginan di hati yang sedang diupayakan untuk terwujud berkaitan dengan training ESQ dan keluarga. Mudah-mudahan secara perlahan akan bisa diwujudkan.

Undur-Undur Masa Kecil

Salah satu kenangan masa kecil yang masih melekat kuat di ingatanku adalah saat mencari dan bermain undur-undur. Umurku waktu itu aku masih sekitar 5~6 tahun, masih ingusan dan sedang senang-senangnya bermain-main. Makhluk kecil itu dahulu mudah kudapat di dekat kaki lumbung padi di bawah pohon jeruk bali samping kolam ikan mujair sebelah utara rumah gadang suku kami di Payakumbuh. Di tanahnya yang berpasir itu mudah sekali mengetahui keberadaan undur-undur karena bentuk sarangnya yang khas (berlubang seperti pusaran yang mengerucut ke bawah). Tinggal dicongkel saja dekat pusat lubang, maka akan nampak undur-undurnya, lalu ambil.

Mereka aku mainkan dengan meletakkan 2 atau 3 ekor di sebidang papan atau di lantai semen secara sejajar dan kulepas. Namanya balapan undur-undur. Sebuah balapan yang pesertanya tidak melesat maju ke depan tetapi malah bergerak mundur ke belakang! Seru abis! 🙂

Kenapa aku teringat undur-undur? Saat pulang ke Payakumbuh 3 minggu yang lalu, pagi itu aku berjalan sekeliling halaman rumah gadang kami. Banyak yang sudah berubah. Aku tidak menemukan lagi 5 kolam besar berisi ikan-ikan mujair, nila, mas, dan gurami ternakan. Aku ingat dengan jamban-jamban kayu di atasnya, dimana kalau ada orang yang buang hajat di sana, maka ikan-ikan di bawah akan berebutan memakannya. Aku juga tak menemukan lagi pohon durian, rambutan, jambu air, nangka, kelapa, pisang dan banyak lagi spesies tanaman lainnya. Dulu aku sering memanjati pohon-pohon itu dan memetik buahnya. Sekarang yang kujumpai adalah tanah yang rata, di atasnya ada kandang kuda, rumah-rumah kontrakan, bahkan bengkel motor. Di belakang bengkel itulah dulu lumbung padi tempat undur-undurku bersarang pernah ada.

Yang tersisa dari masa lalu itu dan masih ada sampai sekarang adalah kabut pagi. Waktu ternyata belum merubah kesetiaannya untuk datang. Walau tidak sepekat dulu, kabut pagi itu menunjukkan bahwa keasrian lingkungan rumah gadang kami masih tetap terjaga setelah puluhan tahun. Ya waktu memang cepat sekali berputar, ternyata sudah puluhan tahun masa itu berlalu. Mudah-mudahan kenangan indah akan masa itu tetap melekat di benak, tidak hilang secepat pudarnya kabut pagi ketika matahari menaik tinggi.

Note: Ketika sedang menulis ini dan mencari gambar undur-undur, aku malah baru tahu jika ternyata undur-undur adalah obat mujarab bagi penderita penyakit gula (Diabetes Melitus) !