Kluntang-Kluntung

Waduh, sungguh ngga’ enak sepi sendiri di rumah. Dari pulang kerja Sabtu siang sampai Minggu malam, aku tak banyak aktifitas, diam manis di rumah saja. Mau jalan keluar rasanya malas. Keinginan sih ada, tapi si malas tadi selalu punya alasan untuk menahanku tidak keluar. Yang panaslah, yang ngantuklah, yang terusin baca novellah, yang mending nonton TVlah, yang harus masak untuk makanlah, sampai yang hemat-hemat duitlah. Semua menjadi alasan. Akhirnya ya aku memang tidak kemana-mana. Hanya sekali Minggu sore keluar melihat anak-anak muda bermain bola di perumahan sebelah.

Ada diajak oleh Mbak Ida dan Rika jalan-jalan ke Larkin untuk makan sate kambing, tapi ya itu tadi, panas terik Minggu siang menjadi alasan. Belum ngebayangin naik bus segitu jauhnya. Atau beberapa saat setelah bangun pagi, ada keinginan untuk nyebur ke kolam renang. Tapi lantaran kolam renang sepi dan aku malas berenang sendirian, batal juga deh…

Hihihi…. sebenarnya cari alasan saja semua itu. Males ya males aja, kok pake nyalahin segala macam.

Tapi seperti disebut di atas, dengan diam manis di rumah tidak kemana-mana, aku bisa meneruskan beberapa puluh halaman dari novel Perempuan Suci (oh iya, sekalian mau bilang akhirnya tamat juga itu Executive Order, fiuuh!), bisa menikmati pertandingan final AFF Cup leg kedua, merasakan kemewahan tidur siang, serta ada kesempatan mempertinggi skill memasak di dapur (yang selama ini tenggelam oleh kehebatan Mama Ani!).

Namun tetap saja semua itu tidak mampu membayar kesepian jauh dari Mama Ani dan ADA. Nggak enak pokoknya jauh-jauh dari mereka!

Karena itu, besok harus ke Batam!

Advertisements

Ditinggal!

Mama Ani dan ADA pulang ke Batam. Mereka berangkat bersama Weny dan Sari (line trainer di pabrik) pukul 7.15 pagi tadi. Kemarin aku sudah booking ferry untuk mereka dari Harbour Front S’pore ke Batam Centre untuk pukul 11.40 siang. Katanya mereka mau mampir melihat-lihat sebentar di Vivo City.

Aku tidak bisa ke Batam hari ini. Kesibukan akhir tahun di pabrik belum memungkinkan untuk ditinggal. Kurencanakan ke Batam pada hari Selasa minggu depan, untuk sekaligus menjemput Mama Ani dan ADA kembali ke Johor.

Ada beberapa hal penting yang harus aku selesaikan di sana dengan cepat. Targetnya 31 Desember petang kami sudah harus kembali ke Johor. Aku tidak ingin melewatkan pergantian tahun di Batam karena ada hal yang belum jelas mengenai pengenaan biaya fiskal luar negeri yang akan mulai diterapkan pemerintah Indonesia per 1 Januari 2009. Jika Batam juga termasuk yang menerapkan biaya fiskal, keharusan membayar Rp. 1 juta per orang untuk setiap kali perjalanan keluar itu jelas terasa memberatkan.

Karenanya mumpung belum berganti tahun, maka kami harus segera keluar Batam/Indonesia supaya tidak perlu membayar biaya fiskal tersebut.

Update 29/Dec: hari ini terima email dari seorang teman menyangkut siaran pers dari Dirjen Pajak tentang Fiskal Luar Negeri (FLN). Berdasarkan siaran pers itu, aku dan keluarga termasuk yang mendapat pengecualian dari kewajiban membayar FLN. Jika demikian, masa stay di Batam bisa diperpanjang nih 🙂

BBQ Night

kids-playground1Dalam suasana hari libur 25 Desember lalu, kami dan beberapa teman Mama Ani mengadakan acara makan-makan di salah satu gazebo di apartemen. Kebetulan karena semuanya libur, makanya kami manfaatkan untuk berkumpul dan menambah keakraban diantara kami. Yang mengurus masakan ya ibu-ibu, sementara para bapak mendukung peralatan dan persiapan (termasuk meminta izin tempat pada pengelola apartemen).

Masing-masing memasak makanan sendiri di rumah untuk disajikan dan dinikmati bersama. Mama Ani memasak udang masak saos dan ikan asem pedas. Nasi hangat mengepul-ngepul, peyek, sirup laici, dan rujak serut juga tersedia.

ikan-asem-pedas Udang Masak Saos peyek sambel semua

Setelah Magrib, semuanya kami bawa ke gazebo. Meja kecil dan satu sisi tempat duduk di sana telah terisi oleh masakan dan penganan yang dibawa oleh teman-teman yang lain. Ada fresh salad dan fettucini ala Philipina dari Emily, ada masakan khas India dari auntie Rajesh, ada ayam bakar Melayu bikinan auntie Mariam, serta beberapa masakan dan penganan yang tidak kuketahui namanya. Yang jelas semua sedap dan nikmat dimakan.

Malam yang penuh tawa dan keakraban! Para ibu dan bapak asyik berbincang-bincang sambil menikmati makanan. Ada yang duduk, ada yang berkelompok berdiri, atau berkumpul di dekat alat pembakaran ayam untuk menghangatkan badan (tiupan angin cukup kencang). Sementara anak-anak ramai bermain ke sana-kemari sambil sesekali mampir untuk mengambil makanan dan minuman.

Sayang karena letak gazebo yang sedikit di pinggir, cahaya lampu sorot dari lapangan basket tidak mencukupi untuk mendapatkan gambar yang bagus dari kamera handphone. Buram dan tidak jelas semua. Jadinya tidak ada gambar yang bisa ditampilkan ketika acara makan-makan di sana.

Here I Go Again!

Tuh ‘kan, baru bisa posting lagi sekarang? Hampir 20 hari sejak posting terakhir tentang main bowling itu, hari ini ada kesempatan untuk menulis sebentar. Agak longgar pekerjaan di Sabtu penghujung tahun.

Harus dirunut dulu satu-satu apa yang mau dituliskan, banyak soalnya. Ya udah, dibaca saja apa yang muncul dan tertulis di sini, okay?

Strike!

Di sela-sela resepsi pernikahan anak Auntie Rajesh, Sabtu malam.

What d’you think?

Main bowling? Aduh, anak kampung ini diajak main lempar bola berat itu, emang bisa apa? Seumur-umur belum pernah, ntar malu-maluin gimana?

Okay. Monday evening, after our visit to Auntie Mariam house” aku sanggupi ajakan Sashi, suami Emilly teman dekat Mama Ani.

Skudai Plasa Bowling Centre, Senin malam.

How to hold the ball?” bahkan cara memegang bola saja anak kampung ini tidak tahu.

Hold this way” Sashi memeragakan, “Don’t put all your fingers in, just half of it, like this. Then, swing it!

Kedengarannya mudah. Tujuan melempar bola ‘kan untuk merobohkan pin-pin yang ada di ujung landasan sana. Baiklah, aku coba. Pilih-pilih bola dulu, mana yang cocok dengan jari, mana yang sanggup diayun, mana yang enak dipegang. Okay, aku siap.

Fikiran fokus. Pandangan ke ujung landasan. Tiga jari tangan kanan sudah di bola, tangan kiri membantu menahan bebannya. Menghitung langkah. Mengira-ngira gaya ayunan. Menarik nafas panjang dan mulai melangkah, satu… dua… bola di tangan diayun ke belakang… tiga… mengayun ke depan… empat… bola dilepas!

Ia meluncur deras, persis di tengah landasan. Mantap tidak berputar. Pin tengah terdepan yang dituju. Brang…! Suara khas benturan bola dan pin-pin terdengar keras saat mereka bertabrakan. Pin-pin terpelanting masuk. Bola meluncur menghilang juga. Tak ada pin yang masih berdiri tegak!

Strike!!!

Si anak kampung ini, yang pertama kali memegang bola bowling seumur hidupnya, yang tak pernah tahu memakai sepatu khusus bowling, yang baru merasakan injakan kaki di lapangan bowling sungguhan, yang tidak pernah belajar menghitung skor, malam tadi membuat sejarah dengan melakukan strike di lemparan pertamanya!

Dan itu bukan strike satu-satunya, ada 3 kali strike lagi setelah itu. Meski kalah angka dari Sashi (yang baru bisa mengejar ketertinggalan angka di putaran ke-10) 133 vs 113, hahaha… I’m really not bad for a beginner!

Sekilat Info

Buru-buru nih, mumpung sempat singgah di sini sebentar. Sudah lama tidak menulis dan update kabar.

Banyaaaaak sekali yang ingin ditulis, tapi tidak ada waktu untuk duduk manis di depan PC seperti beberapa waktu ke belakang. Ada perubahan penugasan di pabrik, dimana aku tidak lagi dikonsentrasikan menangani tugas-tugas khusus (yang waktunya tidak 100 persen operasional). Aku kembali menangani keseluruhan operasional Produksi pabrik sementara mitraku CS Lee gantian mendapat penugasan khusus. Karena itu sekarang kesibukanku meningkat, berlebih malah, sehingga alokasi waktu untuk menulis saat ini ditiadakan. Lebih banyak di lantai produksi dan di ruang meeting daripada di depan PC.

Diusahakan sesempatnya untuk tetap ada update, but I can’t promise it can be consistent.