Nge-Tweets

Karena belum pernah di-publish di sini, sekedar ngasih tahu aja kalau aku juga punya akun di microblog Twitter. Sebenarnya udah lama kepengen punya, tapi baru belakangan kesampaian. Lupa tanggal persisnya, tapi sekitaran akhir September atau awal October lalu.

Bagi teman-teman yang suka nge-twit di sana, silakan cari aku dengan id: a_ardal.

Yang jelas, nambah lagi satu tempat yang perlu didatangi tiap hari di dunia maya internet. Let’s tweets…!

Advertisements

Aidil Adha 1430H Samarinda Yang Sepi

Aidil Adha 1430H. Hari Raya Qurban pertamaku di Samarinda, Kalimantan Timur. Dirayakan sendiri, jauh dari keluarga. Bukan perayaan namanya kalau begitu. Makanya terasa biasa saja.

Setelah shalat Eid di masjid At Taqwa depan perumahan elit Villa Tamara, praktis tidak ada kegiatan yang dapat kulakukan. Menyaksikan pemotongan hewan qurban di 2 masjid terdekat tidak bisa karena pemotongan hewan baru akan dilaksanakan hari Sabtu. Hendak jalan ke pusat keramaian tidak ada kendaraan di rumah, sementara angkutan kota tidak nampak beroperasi (pada hari biasa saja sangat jarang lewat, interval menunggu bisa lebih dari 15 menit). Silaturahmi ke rumah tetangga sekitar juga tidak karena tidak begitu kenal atau akrab dengan mereka (kapan bersosialisasinya? berangkat kerja pagi-pagi, pulangnya udah malam, ngga’ sempat ketemu tetangga).

Karena itu sampai siang aku hanya tidur-tiduran nonton TV hingga akhirnya ketiduran beneran. Terbangun persis setengah 12, saat yang tepat untuk berangkat shalat Jum’at. Makan siang? Nah, ini yang susah! Sepanjang jalan AW Syahranie tak ada satu pun warung yang buka. Berbelok ke arah Vorvoo, sama saja, tidak ada penjual makanan yang kujumpai. Daripada makan di KFC atau food court di Lembuswana Mall yang tidak sesuai dengan seleraku, aku memilih untuk menahan lapar dahulu dan masuk ke Gramedia.

Keluar dari sana, 2 buku ini kubawa pulang:

1. 5 cm karya Donny Dhirgantoro, terbitan Grasindo 2007

2. The Lost Boy karya Dave Pelzer, terbitan Gramedia 2001 (sudah pernah dibaca sebelumnya, dibeli sebagai pelengkap koleksi)

Pencarian makan siang berlanjut. Aku naik angkutan kota menelusuri jalan Juanda, berharap bisa makan nasi Padang atau apa saja yang akan kutemukan di jalan yang biasanya selalu penuh dengan gerobak makanan, warung, resto, atau cafe-cafe. Tapi nihil, sepanjang Juanda, semuanya tutup! Belok ke jalan Antasari mataku celingukan ke kiri dan kanan jalan mencari penjual makanan. Nasib baik, dekat pertigaan ke jalan baru, ada sebuah warung ayam goreng yang buka. Alhamdulillah, makan siangku akhirnya terlaksana jam 14.30 WITA!

Pulang ke rumah langsung ngebut baca 5 cm. Menarik sekali novel ini! Mungkin nanti kalau sempat akan aku buatkan resensinya. Membacanya sampai malam, diselingi makan nasi goreng ikan asin plus lauk ayam bakar yang diantarkan seorang teman yang berbaik hati. Barangkali karena dia tahu, Samarinda sepi dan sulit menemukan penjual makanan pada saat hari besar keagamaan seperti ini.

Pemilu, Nexian dan Transformers 2

Hari pemungutan suara pemilihan Presiden Republik Indonesia. Orang-orang berdatangan ke tempat pemungutan suara. Aku tidak terdaftar di DPT di Samarinda karena baru pindah dan tidak mengurus kepindahan itu untuk dapat memiliki hak suara. Hak suara yang di Batam biarlah hilang dan aku berleha-leha saja di rumah menonton TV (yang semua channel lokal menyiarkan langsung suasana pemungutan suara) dan membaca koran Tribun Kaltim.

nx-g900Tertumbuk mata pada satu iklan produk yang sempat menarik perhatianku sebelumnya di koran tersebut. Handphone Nexian G900 atau yang disebut-sebut sebagai Nexberry karena begitu mirip dengan handphone Blackberry (tipe Bold) sedang promo bundling dengan provider XL di Samarinda Central Plaza (SCP) mulai hari ini. Maka tanpa pikir panjang, segera aku berkemas ke SCP.

Ternyata counternya belum dibuka karena khusus hari ini SCP baru dibuka jam 1 siang untuk memberi kesempatan pada pengunjung dan pemilik usaha melaksanakan hak pilihnya. Maka setelah berjalan-jalan di sekitar situ, makan siang dan shalat dzuhur, barulah aku kembali ke counter XL tersebut. Paketnya cukup oke, NX-G900 ini dijual pada harga Rp. 1,100,000 sudah termasuk bonus pulsa Rp. 105,000 dari XL dan memory card 2GB plus beberapa bonus isi ulang pulsa. Beda sedikit saja jika dibandingkan dengan saat pertama kali diluncurkan pada Indonesia Cellular Show 2009 di JCC awal Juni lalu yang menghebohkan itu.

Singkat cerita, NX-G900 akhirnya menjadi milikku. Bukan aku yang akan memakainya karena ia akan menjadi hadiah ultah pernikahan untuk istriku. Jadi saat pulang ke Jawa minggu depan, aku akan mengoleh-olehi handphone ini untuknya. Pasti Mama Ani akan senang menerimanya!

Mumpung masih di SCP dan sebagai satu-satunya plaza yang punya bioskop di Samarinda, aku tertarik untuk menonton film. Sudah sangat lama aku tidak pernah menonton langsung di bioskop, terakhir saat menonton Laskar Pelangi bersama keluarga di Batam (yang adalah acara menonton pertama aku dan istri (plus anak, saat itu) setelah lebih dari 10 tahun!). Ada beberapa judul yang sedang tayang tapi akhirnya aku memilih film Transformers2. Pertimbangannya adalah rekomendasi teman-teman yang sudah menonton dan resensinya yang menarik di koran dan internet.

Transformers Revenge of The FallenTapi sorry berat untuk semua teman yang telah merekomendasi bagus film ini, aku tidak menilainya begitu. Terkesan sih iya dengan kehalusan special effect canggih dan imajinasi tinggi sutradara, penulis cerita dan para desainer robotnya, tapi ujung-ujungnya aku malah tertidur di tengah-tengah cerita! Beneran, aku terkantuk-kantuk dari mulai pertengahan cerita sampai akhir film. Padahal kata orang itu bagian paling seru-serunya!

Aku bosan dengan film itu, mungkin karena memang tidak tertarik pada genre film khayal begini. Bagiku Transformers2 adalah film anak-anak yang dibawa ke dunia orang dewasa. Aku bahkan tidak bisa membedakan mana robot-robot di pihak kawan dan mana yang pihak lawan setelah mereka semua bertransformasi dari mobil menjadi robot. Terutama sekali pada saat-saat pertempurannya, aku bingung menyaksikan siapa yang bertempur, apa yang dipukul, siapa yang menang/kalah dan sebagainya. Aksi-aksinya juga demikian, kenapa robot ini menghisap semua benda yang ada disekitarnya, untuk apa robot itu menghancurkan kota, kenapa matrix yang sudah menjadi debu bisa utuh kembali, banyak yang tidak jelas untukku.

Setelah menonton film Transformers2, secara keseluruhan aku tidak merekomendasikannya bagus. It just not the movie I like to watch, that’s it!

Daripada Kosong, Posting Pertama Bulan Ini Nih…

Pagi tadi bangun dengan rasa malas yang luar biasa. Angka digital di HP-ku sudah menunjukkan waktu 05.07 WITA. Adzan Subuh jelas sudah berlalu, hanya meninggalkan suara sayup-sayup orang membaca Al Qur’an dari spekear masjid terdekat yang sampai ke telingaku. Tapi bagaimanapun juga, kewajiban harus tetap dilaksanakan. Panggilan Illahi adalah segalanya. Jadi dengan tekad kuat aku seret badan ini ke kamar mandi untuk mengambil wudhu membersihkan diri dan melaksanakan shalat.

Ada dua hal yang membuatku tidak terbangun oleh suara alarm, yang menimbulkan rasa malas membuka mata itu. Kelelahan akibat bermain futsal dan posisi tidur yang salah. Ya, tim kantorku diajak bertanding oleh tim futsal kantor tambang yang lain tadi malam. Bukan, bukan kompetisi. Hanya pertandingan persahabatan. Tapi tetap saja melelahkan dan menguras tenaga. Apalagi mainnya 2 jam sekaligus. Sampai di rumah, setelah mandi, langsung terkapar tidur. Entah bagaimana tidurku, yang jelas bangun-bangun pinggang terasa sakit. Selidik punya selidik, ternyata papan kayu dipanku itu renggang di bagian tengah, di situlah posisi pinggang kemungkinan agak melesak ke dalam dan menimbulkan rasa sakit saat bangunnya.

Eh, kok malah jadi menulis yang ngga’ penting gitu? Tak banyak yang hendak ditulis dari hari-hariku belakangan ini, makanya yang ngga’ penting juga ditulis, hehehe…. Hari-hariku diisi dengan bekerja di kantor dan beristirahat di rumah setelahnya. Tak banyak yang melenceng dari itu. Jadi, apa yang hendak ditulis? Pekerjaan ya begitu-begitu saja. Membosankan untuk diceritakan, tak menarik. Di rumah apalagi? Memangnya hendak menulis soal sepinya hiburan di rumah gara-gara jaringan TV kabel di cabut (“mas, jangan gegabah dong main cabut aja! kami ‘kan selalu bayar. ayo, dipasangin lagi!“). Atau soal ‘masakan’ mbak Siti (orang yang membantu bersih-bersih, nyuci dan masak di mess) yang itu-itu saja. Tidak menarik, ‘kan?

Selain itu juga lantaran keranjingan ber-fesbuk-ria, banyak hal tercurah ke sana. Update status di Facebook bisa beberapa kali sehari, belum terhitung komentar-komentar di status teman-teman. Sehingga rasanya apa yang ada di pikiran sudah keluar semua dan tidak perlu dituliskan secara tersendiri ke dalam blog. Makanya jadi jarang mampir untuk menulis di sini.

Tapi isi blog harusnya beda dong dengan status di FB, ya ngga’? Betul. Karena itulah aku mampir sekarang dan menulis kembali. Meski tidak penting tapi tetap berarti. Bukan demikian, teman? Sampai bertemu di tulisan berikutnya!

Teman Melintasi Waktu

Sendirian merantau jauh-jauh ke Samarinda, tiada kawan tiada sanak saudara, maka kepada merekalah aku mendekatkan diri. Seperti juga begitu dari dulu, selalu mereka yang aku cari. Teman bisu yang dapat berbicara dan bercerita kepadaku tak henti-henti, membawa pergi pikiranku untuk berkelana jauh melintasi ruang dan waktu, yang mengusir segenap sepi dan letih diri dan menggantinya dengan pencerahan pemikiran, bahkan ia sanggup mengayun-ayun hingga aku jatuh terlelap.

Buku. Entah apapun kandungannya, adalah teman yang kumaksud.

Sepulang bekerja, kala tubuh telah disegarkan kembali oleh mandi, seusai tafakur Isya dan makan malam, aku menemui salah satu dari teman-temanku ini. Pilihannya sengaja ke novel saat ini, karena lebih ringan. 2 minggu di Samarinda 5 novel telah menjadi koleksiku. Inilah mereka:

Saat ACinta Berhijrah The Ghost Negeri Van Orange Kisah Langit Merah Kun Fayakun

1. Kisah Langit Merah – Bubin Lantang (sudah dibaca)

2. Kun Fayakun – Andi Bombang (sudah dibaca)

3. Negeri Van Oranje – karya bersama (sedang dibaca)

4. Saat Cinta Berhijrah – Andi Bombang (belum dibaca)

5. The Ghost – Robert Harris (belum dibaca)

(Status keterbacaan per tanggal 19 Mei 2009)

Rada Buntu Nih…

Belakangan sedang tidak mood untuk menulis panjang-panjang. Maunya yang singkat-singkat saja. Itu sebabnya aku lebih sering dolan ke Facebook daripada membuat update di sini. Di sana ‘kan singkat-singkat saja tapi up to date. Entah kenapa, agak buntu saja rasanya pikiran ini. Atau mungkin sedang malas?

Kalau cerita sih banyak yang ingin dituturkan, apalagi saat ini. Perjalanan hidup yang baru, kota yang baru, pekerjaan yang baru, banyak deh… Tapi barangkali karena terlalu excited pada banyak hal, jadinya malah ngga’ produktif. Mungkin begitu hukumnya ya? Ada banyak hal yang ingin dilihat, dipelajari, dirasakan, dilakukan, dll sehingga semua terasa membludak dan akhirnya tak tertangani. Melakukan ini tanggung, melakukan itu setengah-setengah, yang lainnya juga tak selesai. Ini yang membuat pikiran terasa buntu.

Okay, untuk update ringkasnya, aku sekarang sudah di Kalimantan Timur. Tepatnya di kota Samarinda, kota Tepian dengan sungai Mahakam serta sarung tenunnya yang terkenal itu. Sudah satu minggu ini memulai kerja di salah satu perusahaan pertambangan batubara. Pekerjaannya jelas berbeda dari yang dulu, industrinya juga jauh berbeda. Ada banyak hal yang harus dipelajari. Anak dan istri untuk saat ini aku tinggal di Pandaan, entah nanti mungkin akan aku ajak ke sini atau tidak masih melihat situasi dan kondisi. Begitu sampai di kota ini minggu lalu, aku langsung menyewa kamar kost untuk tempat tinggal. Jika diizinkan, aku mau minta untuk tinggal di mess perusahaan.

Sementara itu dulu. Selanjutnya, harus tetap semangaaaattt…!

Minggu Terakhir Di Gelang Patah

Masih bagian dari rangkaian panjang menjelang berakhirnya episode Gelang Patah, kami dan teman-teman baik di lingkungan apartemen sering mengadakan acara kumpul-kumpul bersama. Entah itu sekedar makan siang di rumah kami, berkaraoke di rumah Emily, makan malam di rumah auntie Rajesh atau jalan ke luar bersama seperti ke restoran Mana Lagi dan belanja di AEON/Jusco Bukit Indah.

dscn0300 dscn0325 dscn0182 dscn0321 dscn0216

Waktu yang tersisa sebelum keberangkatan kurang dari satu minggu lagi, namun entah masih ada berapa banyak acara berkumpul lagi yang akan diadakan. Menurut Mama Ani, teman-temannya yang banyak itu sudah membuatkan agenda acara sampai menjelang hari keberangkatan! Telepon kami terus berbunyi menghadirkan ajakan atau pesan untuk bertemu. Kadang ketukan di pintu rumah juga membuat kami bercengkrama berlama-lama. Kata mereka, kapan lagi akan bisa berkumpul kalau tidak sekarang. Berkumpul tanpa kehadiran kami sekeluarga katanya tidak seru.

Memang menyenangkan memiliki teman-teman yang baik. Mereka memberi kami pengertian bahwa hubungan yang baik pastilah akan berimbas kebaikan dan itu harus tetap dijaga, meski kelak akan ada jarak yang memisahkan. Kegiatan berkumpul yang begitu intens di minggu-minggu terakhir ini adalah juga gambaran bahwa mereka menganggap kami sebagai sahabat yang baik bagi mereka dan mereka pun juga merasakan kesedihan karena akan berpisah dengan kami. Tidakkah itu terdengar indah di hati?