Menua Itu Keren

Di masjid seusai shalat Jum’at tadi aku melihat seorang bapak tua. Ia memakai baju koko putih, berpeci dan sarung kotak-kotak. Yang menarik perhatianku dari si bapak ini adalah kulitnya yang keriput. Entah bagaimana, keriputnya terlihat keren dimataku. Mungkin karena keriputnya rata atau mungkin karena warna kulit bapak itu yang agak terang, pokoknya keriputnya itu kelihatan asyik saja dipandang.

Ternyata menua itu juga bisa terlihat keren, tidak melulu dinilai lemah atau tak berdaya!

Mudah-mudahan saat aku menua kelak, Insya Allah atas seizin Allah SWT, aku bisa terlihat keren juga 🙂

Utusan Rindu

Meninggalkan ‘zona aman’  tentu bukan hal yang mudah. Tapi itu harus kulakukan seiring keputusan untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang telah diambil sebelumnya. Ada kegamangan dalam taraf tertentu, tapi harapan akan kebaikan di masa depan juga hadir menyambut. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan sebenarnya dengan keluar dari zona tersebut. Yang jelas aku meninggalkan Jurong HiTech is for good. Bertahan terus di sana dengan situasi krisis dunia yang menghantam telak sector industry elektronika dan beban hutang perusahaan yang begitu berat kepada banyak bank dimana memberi dampak langsung yang buruk bagi kesejahteraan karyawan, jelas bukan pilihan yang bijak untukku manakala ada prospek lain yang lebih baik terbentang di depan mata.

Mungkin ada sahabat yang mempertanyakan keputusanku, apakah tidak sayang meninggalkan pabrik yang penataan dan pengaturannya ikut aku bidani sejak awal itu (lihat tulisan-tulisan pertengahan 2007) atau apakah tidak terlalu premature meninggalkan perusahaan yang secara operasional masih berjalan? Sememangnya wajar pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Namun sebagai orang yang pernah berada 7 tahun di dalam sana dan berada di posisi yang cukup tinggi untuk dapat melihat dan memahami apa yang telah sedang dan akan terjadi, aku meyakini keputusanku bukanlah hal yang salah atau gegabah.

Yang lebih banyak muncul di kepalaku adalah justru pertanyaan-pertanyaan kenapa perusahaan bisa jatuh ke titik rendah seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan yang merupakan campuran dari keraguan, penyesalan, rasa sayang sekaligus keprihatinan. Mungkin itu yang membuat kenapa aku merasa biasa-biasa saja meninggalkan Jurong HiTech, tidak seperti kala meninggalkan TEC atau PCI di tahun-tahun sebelumnya yang terasa berat dan sedih.

present-2Dalam datarnya suasana hati itulah, sebuah kado kecil dari para bawahanku di Produksi hadir untuk membuat nuansa yang sedikit berbeda. Aku tak mengharapkan apa-apa, namun perhatian dan solidaritas mereka sangatlah lebih dari pantas untuk dihargai. Maka dari itu, aku ingin sekali berterima kasih kepada PH Gan, SW Liong, Poh Choo, Joanne, Nurhana, Ayu (Debug), Salina, Zulaini, Ninie, Lisma dan auntie Yong yang telah bersama-sama dengan ikhlas urunan demi menghadirkan kado tersebut.

present-4Semoga utusan rindu yang disampaikan oleh teman-teman di atas bisa menjadi pendorong semangat dan membangkitkan keinginan untuk berjuang lebih keras lagi ke depan, baik untukku dan juga untuk mereka sendiri yang masih bertahan di sana. Seperti yang ditulis di dalam kartu yang terdapat pada kado tersebut, ya… kenangan di Malaysia akan menjadi kenangan yang indah untuk dikenang selamanya. Bersama mereka aku pernah bekerja bahu membahu di Jurong HiTech Industries (M) Sdn Bhd.

Ngga’ Mood, Beneran…!

Hari ini tidak ada rencana menulis, tapi rasanya jari jemariku gatal ingin mengetik sesuatu. Jadi biarlah, apapun nanti hasilnya, akan tetap aku post di blog. Anggap saja sebagai sebuah tulisan liar tak berdasar dari seseorang yang hatinya sedang ngga’ jelas. Jika susah dipahami, harap dimaklumi saja ya.

Benar-benar ngga’ mood untuk dan pada banyak hal dalam hal pekerjaan. Rasanya udah malas, tantangannya udah ngga’ ada. Faktor-faktor pendukung semangat kerja supaya tetap tinggi banyak yang sudah tidak ada, internal dan eksternal. Pikiran sudah terbang jauh ke Indonesia, sudah tidak sabaran untuk segera berangkat ke sana. Duduk di depan PC dari pagi sampai petang, tapi yang dikerjakan lebih banyak yang tidak fokus. Sedikit membuat instruksi atau jadwal, jauuuh lebih banyak menjelajahi dunia maya sehingga tidak produktif.

Aku tahu kenapa, tapi biarlah ia mengendap di kepala ini saja.

Mungkin satu pertanda juga, seumur-umur kenal Microsoft Excel baru hari  ini satu sheet file bisa terpakai penuh sampai ke ujung. Mengerti ‘kan yang kumaksud? Ya, penuh data dari kolom A sampai IV! Artinya kolom A sampai Z terisi, kemudian AA~AZ, kemudian BA~BZ, dst… sampai IA~IV semua terisi/terpakai. Banyak dan panjang sekali bukan? Pernahkah kamu, Kawan?

Aku memaknainya dengan pengertian inilah ujung, inilah akhir suatu periode.

Barang-barang pribadi sudah mulai dikemasi, dirapikan, dan dimasukkan ke dalam kotak kardus. Sehari-hari tidak banyak kelihatannya, tapi setelah dikumpulkan dan disusun, bahkan kotak kardus itupun sangat berat untuk digeser, apalagi diangkat. Biarlah, nanti petugas pengiriman barang yang akan menanganinya. Masih banyak barang yang belum dirapikan. Nanti ada yang masih layak untuk dijual, ada yang akan dihibahkan, dan sebagian mungkin akan berakhir di tempat sampah.

Kepalaku penuh dengan rencana. Semua berseliweran. Berbelit dengan harapan dan juga keraguan.

Kehidupan, bagaimanapun, terus berjalan. Mood atau tidak, gelisah atau kepastian, senang atau sedih, terasa berat atau ringan, berbuah atau meranggas, itu ‘kan perputaran rodanya. Jalani saja, hadapi saja, tulis saja, apapun hasilnya, nikmati saja… Laailahaillallah!

Anugerah Cemerlang SKTNP1 2008

ADA lebih lambat mempersiapkan diri berangkat sekolah pagi tadi. Noe yang biasa mengantarnya pukul 7 pagi sudah naik menjemput ke rumah saat ADA masih sarapan. Semuanya menjadi buru-buru akhirnya. Sarapan, pasang sepatu, uang jajan, nasi dan minuman bekal, pasang kerudung sampai salaman dilakukan serba cepat agar Noe tidak terlalu lama menunggu karena setelah ADA dia masih harus mengantar beberapa anak ke sekolah lain.

Setelah mereka berangkat baru disadari buku rekod, adab dan PLBS tak terbawa. Padahal hari ini adalah hari terakhir mengumpulkannya kepada guru kelas sebelum sekolah libur panjang sampai akhir Desember nanti. Akhirnya Mama Ani dengan bergegas mengantarkan buku-buku itu ke sekolah. Ternyata di sekolah ada acara penganugerahan hadiah bagi para juara kelas. ADA tidak memberitahu kami karena ia sendiri tidak mengetahui akan ada acara ini. Aku di-SMS Mama Ani untuk datang karena acara akan segera dimulai. Mengingat pentingnya kehadiran kami bagi ADA, aku segera menyusul ke sekolah.

Para murid dan guru telah berkumpul di bilik dewan sekolah sementara para juara kelas dibariskan berjejer di luar, siap menunggu untuk dipanggil ke dalam bilik dewan. Aku melihat beberapa orangtua murid lain juga telah hadir di sana. Tak lama kemudian, setelah sambutan dari pimpinan sekolah, para juara kelas dipanggil masuk satu persatu untuk menerima tropi.

the-2nd-championADA terlihat sumringah dan bangga menerima tropinya, apalagi dengan kehadiran kami dan disaksikan oleh seluruh warga sekolah. Inilah moment yang ditunggu-tunggunya. Moment pembuktian dihadapan seluruh murid sekolah bahwa anak Indonesia bukan anak yang bodoh, suka bikin kacau dan tak berprestasi serta stigma-stigma negatif lainnya yang sering ditujukan langsung atau tak langsung padanya. Dengan maju menerima tropi sebagai juara II di kelasnya, ADA telah menjungkirbalikkan anggapan-anggapan tidak benar tersebut. ADA telah berhasil menunjukkan bahwa ia sebagai anak Indonesia mampu berprestasi dan merupakan pelajar cemerlang di sekolah Malaysia!

We proud of you, ADA! Keep it up and maintain your high achievements always at the top performance!

Berikut beberapa gambar yang sempat diambil dengan kamera HP saat acara tadi berlangsung:

to-the-stage the-champion-list persembahan the-throphy1 img0038a

Iakah Fatamorgana?

Matahari. Sinar terang yang begitu tinggi. Kehangatannya mempesona dan menggoda. Keluasannya memerdekakan hati dan menghapus gayut mendung. Ia bagai masa depan yang cerah. Seolah dalam jangkauan tangan. Bak mudah ditelikung. Yang sebenarnya tak pernah teraih. Oh hati, oh logika, dimana engkau berada dulu?

Belalang padang savana. Yang terjerembab jatuh. Yang patah kaki dan sayap. Yang memikul beban. Setiap ingsut langkahnya menghala cahaya. Berbilang masa sudah belajar berlari dan melompat. Beragam cara menggeliat keluar. Tak terhitung kali melipir jurang asa. Penuh luka dan nestapa. Sendiri. Dan sering terpuruk pilu. Oh raga, oh kekuatan, dimana engkau mengendap?

Kemilau perak mentari petang datang menyapa. Belalang bermanja di sinarnya. Apakah itu jalan setapak untuk keluar mencumbu matahari?

Atau ia sebuah fatamorgana (lagi)?

Catatan: sebuah akumulasi refleksi hati, gambar diambil dari wiki.

Damainya Tidurmu, Nak…

Setelah lelah bermain di playground sampai Magrib tiba, mandi menyegarkan diri, makan malam (sepiring nasi, sepiring kerang masak pedas dan segelas es teh manis), akhirnya kau jatuh tertidur di sofa saat menonton Indonesain Idol tadi malam, Nak.

Tenangnya wajahmu, hapuskan lelahnya belajar dan bermain.

Damainya tidurmu, lupakan kehidupanmu yang akan terus bersinar.

Bermimpilah, tentang hari-hari yang indah dan ceria.

Have a nice sleep, Sayangku!