Pahlawan

Apa arti dan makna pahlawan bagi Anda?

Siapakah pahlawan Anda?

Selamat Hari Pahlawan 10 November!

Advertisements

Jangan Tonton Acara TV Indonesia!

Halah! Budaya apa yang dibawa infotainment itu ke dalam rumah kita? Menyuruh orang berzina terang-terangan atas nama hari kasih sayang (prek, cuih!)? Mengindoktrinasi masyarakat dengan kebiasaan yang tabu? Membiasakan hal yang seharusnya terdengar di ranah personal menjadi konsumsi publik?

Pulang kerja malam udah kesiangan, aku sedang mengambil handuk hendak mandi saat telinga mendengar kata-kata pembawa acara infotainment (tak usah disebut nama dan acaranya, no point!) yang terasa sangat keterlaluan untukku. Dengan lantang dan suara ditegas-tegaskan, ia mengatakan, “Pemirsa, apa saja yang dilakukan para selebrita kita dalam menunjukkan kasih sayang kepada pasangannya? Bagaimana mereka menyikapi bentuk ungkapan kasih sayang yang diberikan kepada mereka dari pasangannya masing-masing? Apakah hari raya kasih sayang ini akan menjadi momentum… bla-bla-bla

Sungguh keterlaluan! Itu pembawa acara atau si script writer punya otak ngga’ untuk membawakan atau menuliskan kata-kata itu? Siapa dia berani-beraninya menasbihkan 14 Februari sebagai hari raya? Sejak kapan orang merayakannya? Siapa yang merayakan? Apa yang harus dirayakan?

Aku misuh-misuh. Mama Ani bilang semua infotainment sibuk menayangkan berita dengan topik yang sama: perayaan hari kasih sayang. Sudah sejak beberapa hari yang lalu dan mungkin sampai beberapa hari ke depan, acara infotainment terus membahas apa dan bagaimana para selebrita menghadapi hari yang katanya untuk menunjukkan kasih sayang itu! Apa tidak pekak telinga dengan serbuan berita-berita itu? Apa tidak membanjiri pikiran dan membentuk kesan jika itu terus menerus disampaikan? Apa tidak akan menjadikan sesuatu yang tabu menjadi hal yang biasa-biasa saja? Penciptaan budaya zina di tengah masyarakat!

Damn! Semakin benci dengan acara TV Indonesia. Tak ada yang bermutu, sampah, sampah, dan sampah!

Selamat Jalan, Pak!

Sebenarnya ingin menulis lebih panjang tentang berpulangnya tokoh besar yang satu ini, namun mengingat sudah begitu banyak opini, obituari, kritikan, inmemorial, obrolan, kenangan, dll yang ditulis di banyak media, aku pikir cukuplah tulisan di bawah ini mewakili sikap dan pandangan pribadiku atasnya. Lagipula, tidak ingin membuat keseragaman tulisan yang sudah begitu banyak itu.
“Selamat jalan, Pak Harto. Terima kasih atas bentangan pembangunan negeri ini dan semua yang telah kau berikan pada rakyat Indonesia. Hanya di pengadilan Allah lah manusia akan mendapatkan keadilan seadil-adilnya.”

Kredit photo: diambil dari sini.

Sabuk Pengaman

Kulambaikan tangan pada sebuah taksi gelap di simpang Panbil. Aku hendak ke Batu Aji pagi itu. Taksi berhenti dan aku membuka pintu depan. Duduk dan menarik sabuk pengaman. “Ah ngga’ apa-apa, Mas. Polisi sini saya kenal semua kok. Aman kita.” si sopir ‘mencegahku’ menggunakan sabuk pengaman.

Kembali dari Batu Aji, taksi gelap yang lain, di sekitaran Villa Muka Kuning seorang lelaki tegap berambut pendek menghentikan taksi hendak menumpang. “Polres, Bang?” tanyanya. “Iya” jawab si sopir taksi sambil cepat-cepat menarik tali sabuk pengamannya. Aku yang kebagian tempat duduk di depan lagi, tersenyum dalam hati sambil memegang sabuk pengaman yang telah terpasang dari tadi.

Bukan untuk polisi kok Bang, sabuk pengaman itu. Ini dibuat untuk keselamatan kita sendiri. Kalau tiba-tiba Abang mengerem mendadak atau menabrak keras sesuatu di depan, maka sabuk itu bisa menyelamatkan nyawa kita. Karena berdasarkan penelitian para ahli, lebih dari 80% kematian atau cedera fatal akibat kecelakaan mobil di jalan raya disebabkan oleh benturan ke panel dashboard, setir, kaca dan tempat duduk di hadapan kita. Nah yang namanya sabuk pengaman itu adalah pengurang/penahan tekanan (yang bisa mencapai 60 kali berat badan kita) yang membanting tubuh saat terjadi pengereman/benturan mendadak.

Bukan karena polisi, ya Bang. Atau karena seseorang mirip polisi yang hendak ke kantor polisi yang tidak Abang kenal sehingga nanti mungkin Abang akan ditilang olehnya. Untuk kita Bang, untuk kita. Kalau kita celaka karena tidak pakai sabuk pengaman, para polisi itu hanya akan mencatat di laporannya tentang kematian/kecederaan kita. Itu saja. Dan itu tidak akan mengembalikan nyawa atau kesehatan kita. Sama sekali tidak.

Jadi lain kali, pakailah selalu sabuk pengaman begitu Abang duduk di belakang setir/dalam mobil. Bukankah Abang masih sayang dengan anak dan istri Abang di rumah?

Note: gambar diambil dari sini.

Undur-Undur Masa Kecil

Salah satu kenangan masa kecil yang masih melekat kuat di ingatanku adalah saat mencari dan bermain undur-undur. Umurku waktu itu aku masih sekitar 5~6 tahun, masih ingusan dan sedang senang-senangnya bermain-main. Makhluk kecil itu dahulu mudah kudapat di dekat kaki lumbung padi di bawah pohon jeruk bali samping kolam ikan mujair sebelah utara rumah gadang suku kami di Payakumbuh. Di tanahnya yang berpasir itu mudah sekali mengetahui keberadaan undur-undur karena bentuk sarangnya yang khas (berlubang seperti pusaran yang mengerucut ke bawah). Tinggal dicongkel saja dekat pusat lubang, maka akan nampak undur-undurnya, lalu ambil.

Mereka aku mainkan dengan meletakkan 2 atau 3 ekor di sebidang papan atau di lantai semen secara sejajar dan kulepas. Namanya balapan undur-undur. Sebuah balapan yang pesertanya tidak melesat maju ke depan tetapi malah bergerak mundur ke belakang! Seru abis! 🙂

Kenapa aku teringat undur-undur? Saat pulang ke Payakumbuh 3 minggu yang lalu, pagi itu aku berjalan sekeliling halaman rumah gadang kami. Banyak yang sudah berubah. Aku tidak menemukan lagi 5 kolam besar berisi ikan-ikan mujair, nila, mas, dan gurami ternakan. Aku ingat dengan jamban-jamban kayu di atasnya, dimana kalau ada orang yang buang hajat di sana, maka ikan-ikan di bawah akan berebutan memakannya. Aku juga tak menemukan lagi pohon durian, rambutan, jambu air, nangka, kelapa, pisang dan banyak lagi spesies tanaman lainnya. Dulu aku sering memanjati pohon-pohon itu dan memetik buahnya. Sekarang yang kujumpai adalah tanah yang rata, di atasnya ada kandang kuda, rumah-rumah kontrakan, bahkan bengkel motor. Di belakang bengkel itulah dulu lumbung padi tempat undur-undurku bersarang pernah ada.

Yang tersisa dari masa lalu itu dan masih ada sampai sekarang adalah kabut pagi. Waktu ternyata belum merubah kesetiaannya untuk datang. Walau tidak sepekat dulu, kabut pagi itu menunjukkan bahwa keasrian lingkungan rumah gadang kami masih tetap terjaga setelah puluhan tahun. Ya waktu memang cepat sekali berputar, ternyata sudah puluhan tahun masa itu berlalu. Mudah-mudahan kenangan indah akan masa itu tetap melekat di benak, tidak hilang secepat pudarnya kabut pagi ketika matahari menaik tinggi.

Note: Ketika sedang menulis ini dan mencari gambar undur-undur, aku malah baru tahu jika ternyata undur-undur adalah obat mujarab bagi penderita penyakit gula (Diabetes Melitus) !

Berhala-Berhala

Papa ngga’ malu pakai HP itu?” Mama Ani pernah bertanya dulu.
Udah Pak, ganti HP dong dengan yang baru! Lihat tuh operator saja pakai HP canggih semua…” ada juga bawahan yang bicara begitu.
Ngga’ beda jauh kita,” bisik Udin, “sama bututnya HP kita!” sambil tersenyum menghibur sedikit.

Lha, laptop yang dulu dipakai dimana?” yang lain menanyakan barang pinjaman yang pernah dilihatnya kugunakan.
HP Bapak yang canggih itu? Itu yang ada pencet-pencet pakai tusuk itu lho…” seorang bawahan menanyakan PDA phone yang sudah berpindahtangan itu.
Memangnya di rumah belum punya ya? Keren lho, anak-anak senang memainkannya!” sahabat lama berbicara mengomentari PSP dan PS2.
Kemarin lihat di toko di Harbour Front, bagus banget! Nikon punya…” teman seperjalanan bercerita sambil memandangi kameranya, “sudah saatnya mengganti yang ini!
Itu baru beli. Yang murah-murah aja kok dan hanya 40GB” kata yang baru beli external HDD.

Ahhh… berhala-berhala akhir zaman. Kenapa harus punya? Kenapa harus terpikirkan? Kenapa harus dipertanyakan? Kenapa harus dikejar? Kenapa harus…?

Bahkan untuk yang sederhana dan lumrah juga menimbulkan desakan:

Eh, Anda ngga’ pakai jam tangan ya?” seorang teman bertanya, “beli dong biar keren! Masa’ Manager ngga’ pakai jam tangan?!

Kalau aku merasa betah dengan HP Siemens jadulku, kenapa harus punya HP keluaran mutakhir? Toh kegunaan HP untukku adalah hanya untuk menelpon dan SMS saja!
Kalau aku merasa cukup dengan slave disk 30GB dan flash disk 512MB, untuk apa membeli media penyimpanan data lain? Yang gratis di internet juga banyak!
Kalau aku merasa tidak nyaman menggunakan jam tangan, kenapa harus dipaksakan demi mengejar citra penampilan? Toh yang dilihat itu seharusnya tetap saja ‘isi’, bukan ‘bungkus’!
Kalau aku…. (dan masih banyak kalau-kalau yang lain).

Kenapa harus memperbudak diri untuk berhala-berhala itu?

Tidak habis pikir!