Weekend Dengan Keluarga Marcel Merchie

Pertemanan Mama Ani dan Paeng membawa mereka pada rencana perjalanan ke Batam. Paeng ingin tahu Indonesia (dimana yang paling dekat adalah Batam), berlibur, melihat-lihat dan berbelanja (karena terkenal murah di Johor sini). Demikian juga dengan Marcel suaminya, tapi untuk kepentingan lain. Selain liburan, Marcel setuju ke Batam untuk melihat-lihat potensi kota pulau ini dan kemungkinan investasi di sana. Sebagai Bussiness Development Head for Asia Pacific di kantornya, ia sedang punya proyek untuk menempatkan satu manufacturing plant dari Jerman di Asia. Sementara bagi kami sendiri pulang ke Batam adalah untuk melampiaskan kangen pada rumah, makanan Indonesia, dan melakukan beberapa hal lain.

Setelah diatur-atur jadwal (terutama bagi para suami), akhir minggu lalu kami ke Batam. Berangkat Jum’at pagi pukul 6 dengan menumpang mobil van perusahaan yang akan menjemput staff di Jurong East – S’pore. Dari sana kami meneruskan perjalanan ke Harbour Front dengan taksi. Sesuai rencanaku, di sana kami masih sempat sarapan dan berhasil mendapatkan ferry jam 9 menuju Batam. Cuaca mendung dan gerimis di S’pore tidak membuat ombak berulah bahkan langsung terhapus begitu memasuki Batam, matahari cukup bersahabat pagi itu saat kami sampai (meski tak lama kemudian dan sepanjang hari berikutnya, hujan terus menerus menemani kami di Batam).

Honda Corolla si Wawan sudah menunggu. Meski sempat ada sedikit hambatan melalui imigrasi (karena Paeng tinggal 3 minggu di M’sia dengan tourist permit dan dicurigai ke Indonesia untuk sekedar alasan agar nanti bisa masuk ke M’sia lagi), akhirnya kendaraan itu melaju membelah Batam Centre membawa kami ke pusat kota. Keluarga ini kami inapkan di Nagoya Plaza Hotel, di pusat bisnis dan jantung kota Batam. Banyak arena perbelanjaan dan pusat kuliner di sekitarnya untuk memudahkan mereka belanja dan makan.

Lalu dimulailah 2 hari yang penuh dengan perjalanan mengelilingi Batam. Aku membawa Marcel memasuki  beberapa kawasan industri terkemuka seperti Panbil, Batamindo, Citra Buana, Cara, Tunas, bahkan sampai ke Batu Ampar. Kutunjukkan padanya pusat-pusat pemerintahan, stadion olahraga, rumah sakit, pengolahan air minum, pemadam kebakaran, bank, hotel-hotel, kawasan perumahan, sekolah internasional, mall dan ruko, serta kantor-kantor militer (laut dan kepolisian) dan juga pelabuhan-pelabuhan laut dan udara. Bahkan kami sempat mampir ke pabrik topi kulitnya Peter Wade (suami Uni Erni, saudaraku yang menikah dengan orang Australia) agar Marcel dapat menggali informasi dan bertukar pikiran mengenai keuntungan berinvestasi di Batam. (Pete, thanks for your kindness to welcome us with a very short early notice. I appreciate it a lot!)

Sementara itu Mama Ani membawa Paeng jalan ke BCS Mall, Nagoya Hill, Panbil Mall, Mega Mall dan juga kemudian kami semua ke Vihara Duta Maitreya (vihara Budha terbesar di Asia Tenggara), jembatan Barelang sampai ke bekas camp pengungsi Vietnam di pulau Galang. Mungkin karena capek dan padatnya acara jalan-jalan, penyakit darah tinggi Paeng sempat kambuh. Kepalanya pusing dan tekanan darahnya meninggi. Kami bawa ia ke klinik kesehatan di Panbil untuk diperiksa dan mendapatkan perawatan dokter. Untunglah ia segera pulih dan bisa meneruskan perjalanan liburan dan belanjanya.

Ketika ibu-ibu belanja, para suami kebagian tugas menjaga anak-anak. Paling gampang mengawasi dan membuat mereka betah adalah dengan membawa ke arena permainan, salah satunya gamezone di Panbil Mall. ADA dan Nina menikmati semua permainan yang mereka mau, bahkan berulang-ulang. Koin permainan yang kubelikan seolah tak habis-habis sampai Marcel sempat terheran-heran dengan 30 ribu rupiah (which is just about S$5) yang sanggup mengakomodir keinginan anak-anak bermain di games yang ada. Dan memang koin-koin permainan itu tidak habis pada akhirnya, masih ada sisa 4 atau 5 buah yang kuberikan pada Wawan (sang sopir taksi) saat kami meninggalkan gamezone itu.

Marcel juga sempat terbengong saat membayar 61 ribu rupiah saat kami duduk di ICBIC, sebuah kafe kopi. Padahal ia minum 2 cangkir kopi, Nina dan ADA masing-masing satu porsi ice cream (lupa namanya apa), serta jus jeruk dan air mineral untuk Paeng dan Mama Ani. “A cup of coffee will cost me about S$10 in Singapore. With all of these orders, I pay less than 10 dollars, amazingly cheap…!” katanya. Mungkin karena itulah ia sempat berfikir, enak juga kalau bisa tinggal di Batam tapi dengan penghasilan dollar seperti yang diperolehnya sekarang. Hahaha, ya iyalah Marcel, gue juga mau kalau begitu! Kalau ada peluang, ajak-ajak gue yaa… 🙂

Meski Marcel terkesan dengan ‘kemurahan’ Batam (tentu saja, jika dibandingkan dengan pengeluaran S$ atau RM), tentunya aku tidak ingin perjalanan liburan ini mereka biayai semua (agar tidak ada kesan nebeng atau aji mumpung ada yang ngebayarin). Beberapa pengeluaran aku biayai sendiri atau berbagi dengannya, misalnya untuk tiket ferry, makan-makan, sewa taksi dan lain-lain. Tapi justru hal itu mengherankannya. “This vacation is Paeng idea, she want it. And I myself also have agenda to do here. So, it is logic if I pay all the expenses.” katanya. Pada Mama Ani, saat aku pergi menemui sahabat-sahabat ESQ yang sedang mengadakan training di hotel yang sama, Marcel juga mengulangi keheranannya mengapa aku mau berbagi biaya pengeluaran. “He’s a good man, a good man with principle.” ucapnya. Ehm…! 🙂

Saat kembali ke Johor di hari Minggu, kami berpisah dengan Marcel di S’pore. Ia akan ada pertemuan bisnis di Thailand Senin pagi sehingga harus berangkat ke sana. Jadilah Paeng dan Nina bersama kami kembali ke Johor. Paeng sempat ketar-ketir takut ada masalah lagi di imigrasi, tapi untunglah lancar-lancar saja. Di saat kami semua sudah kecapean, si Nina malah masih enerjik. Di bus yang membawa kami dari S’pore ke Johor, ia asyik bermain sendiri bahkan kulihat ia sempat mencolek-colek ADA agar bangun dari tidur.

Setelah perjalanan ini, Paeng berniat akan datang kembali ke Batam. “But that time, no kids” katanya, “we leave the kids with husband, ya Ani“. Ia juga mengundang kami untuk merencanakan libur akhir tahun di kampungnya di Pattaya, sebuah kota pantai yang terkenal cantik di Thailand sana.

NB: Photo-photo kebanyakan indoor karena cuaca yang tidak mengizinkan.

Advertisements

Rumah Kemuning

Setelah satu tahun meninggalkan Batam dan kami tidak lagi menghuni rumah di Bukit Kemuning, mungkin ada yang bertanya-tanya bagaimana dengan rumah tersebut, kondisi atau statusnya sekarang. Serta mungkin juga cukup heran dengan tingginya frekwensi kepulanganku (dan atau keluarga) ke Batam dikaitkan dengan perihal kebutuhan akomodasi.

Secara resminya rumah tersebut kami sewakan pada pasangan muda Parno & Lastri. Mereka membayar sewa rumah, membayar tagihan listrik air, membayar pungutan RT/RW/sampah/keamanan, dan membiayai perbaikan-perbaikan ringan yang diperlukan jika terjadi. Tentunya perawatan rumah berikut keamanan dan kebersihannya menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya. Yang menjadi perjanjian khusus dengan mereka adalah meski yang disewakan adalah satu rumah tetapi kamar tidur utama masih menjadi milik kami. Ini dimaksudkan agar kapan saja aku (dan atau kami) pulang ke Batam dan perlu menginap, maka selalu ada tempat bernaung yang bisa dituju. Tidak perlu menyewa hotel atau menumpang di tempat saudara/teman. Sebagai imbal baliknya, mereka diperbolehkan menggunakan peralatan rumah tangga yang kami tinggalkan seperti kulkas, mesin cuci, rak piring sendok garpu, lemari bahkan sampai ke antena TV. Mungkin terdengar tidak biasa tapi seperti itulah perjanjiannya.

Jika dihitung-hitung, sewa rumah (berikut perabotan) yang kami bebankan pada mereka jelaslah sangat sangat murah untuk ukuran Batam. Tapi bukan uang yang aku dan Mama Ani lihat di sana. Keterawatan dan keamanan rumahlah yang menjadi pertimbangan utama. Diikuti oleh faktor membantu orang yang membutuhkan. Dan jika melihat pada situasi dan kondisi sekarang, rasanya tidak ada yang perlu disesali. Sebaliknya malah justru rasa senang yang ada di hati, which is actually priceless.

Saat ke Batam akhir minggu lalu, aku sempat mengambil bebrapa photo rumah tampak depan. Silakan klik photo untuk melihat lebih jelas.

Sate Pariaman

Sudah lama tidak makan sate ini. Setahun lebih, barangkali. Selalu ada keinginan kalau ke Batam akan mampir beli sate Padang, tapi tak pernah kesampaian.

Nah saat di Batam akhir minggu lalu, kami sekeluarga berhasil menyediakan waktu untuk singgah di jejeran pedagang sate Padang di kawasan Nagoya (depan Nagoya Hill Plaza). Bau wangi kuah satenya benar-benar menggoda, menarik-narik kaki untuk datang ke sana. Pesona tumpukan ratusan tusuk daging sate di tiap gerobaknya amat menarik hati. Asap hasil kipasan tangan-tangan ahli sang penjual sate seolah membujuk-bujuk untuk berkelimun di dalamnya. Dan ah… suasananya sangat mendukung, kota yang basah sedari pagi diguyur hujan yang meninggalkan derai gerimis kecil menjelang magrib, semakin membuat perut keroncongan!

Singkat cerita, sepiring sate Pariaman yang menjadi pilihan itu ludes dengan segera. Sepuluh tusuk dagingnya lenyap tak tersisa meninggalkan batang lidinya saja. Kuahnya habis tandas. Keripik singkong bermandikan kuah pedas itupun juga. Apalagi? Hahaha… bukan order porsi tambahan, saudara-saudara (I know what’s on your mind…). Tetapi kelebihan setengah porsi dari jatah ADA yang tidak habislah yang menjadi sasaran amuk kangen itu!

Kepengen juga? Silakan cari pedagang sate Padang, SEKARANG JUGA! Sebelum ngeces! 🙂

Teman-Teman Mama Ani

Di lingkungan apartemen tempat kami tinggal, Mama Ani mampu beradaptasi dengan baik melalui cara bergaulnya yang dapat diterima oleh sesama penghuni. Meski dengan latar belakang budaya yang sangat berbeda satu dengan lain, hal tersebut tidaklah menjadi penghalang untuk membina persahabatan. Awal pertemanan biasanya dimulai dengan perjumpaan-perjumpaan di wilayah bersama seperti di arena permainan anak, kolam renang, kantin atau di kedai. Yang kemudian berlanjut dengan perkenalan dan pertemuan yang lebih sering.

Ada beberapa yang menjadi teman karibnya. Kalis adalah salah satunya. Ibu 2 remaja putri, warga negara Malaysia keturunan India, suaminya bekerja di S’pore (tiap hari bolak balik JB ~ S’pore). Badannya tidak tinggi, tapi kalau bicara suaranya lantang dan sering ditingkahi dengan gerak mata yang seperti penari Bali. Pernah dioleh-olehi kain batik oleh Mama Ani dari Batam, dan ia suka sekali sampai titip beli jika ke Batam lagi. Dulu sebelum ADA bertukar kendaraan jemputan, setiap pagi selalu berjumpa dengannya karena kedua anaknya juga menaiki kendaraan yang sama.

Noe’ adalah teman yang lain. Juga ibu atas 2 orang putri. Bersama suaminya, mereka adalah keluarga yang ‘subur’. Noe’ keturunan Siam Thailand yang sehari-hari berbicara dalam bahasa suaminya yang keturunan Cina di rumah. Untuk mengisi waktu dan menambah pendapatan keluarga, Proton Saga tahun lamanya diberdayakan menjadi kendaraan antar jemput anak sekolah. Dengannyalah sekarang ADA berangkat dan pulang sekolah 5 hari dalam seminggu.

Khampaeng atau biasa disapa Paeng (baca: Peng) warga negara Thailand. Lebih tua 11 tahun dibanding Mama Ani tapi anak perempuannya 4 tahun lebih muda daripada ADA yang sekarang sudah 7 tahun lebih. Bersuamikan pria Belgia yang sibuk luar biasa (karena pekerjaannya menuntut ia harus terbang ke seluruh penjuru dunia sebagai konsultan bisnis, pernah menembus rekor 280 kali terbang dalam setahun!). Berbicara tergagap-gagap dalam bahasa Inggris sederhana tapi bagaikan berondongan senapan saat memarahi anaknya dengan bahasa Thai. Yang unik jika Mama Ani, Noe’ dan Paeng berkumpul maka ada 3 bahasa yang dipergunakan. Bahasa Melayu (antara Mama Ani dan Noe’), bahasa Inggris (antara Mama Ani dan Paeng) dan bahasa Thailand (antara Paeng dan Noe’). Jika salah satu dari bahasa itu dipakai, maka salah seorang dari mereka akan terbengong-bengong tidak mengerti. Noe’ tidak paham bahasa Inggris, Paeng tidak paham bahasa Melayu, dan Mama Ani tidak paham bahasa Thailand. Lucu ‘kan?

Ada beberapa orang lagi yang dikenal Mama Ani dengan baik. Weni (wanita Indonesia bersuamikan pria Taiwan), Ika (wanita Indonesia bersuamikan pria Malaysia), Auntie Chin (keturunan China Malaysia), Arul (keturunan India Malaysia), Emily (wanita Philipina bersuamikan keturunan India Malaysia) dan beberapa orang lainnya. Mudah-mudahan pertemanan yang baik antara Mama Ani dan teman-temannya akan terus berlanjut dan tidak menimbulkan friksi-friksi tertentu. Karena seribu teman tidaklah cukup tetapi satu musuh saja adalah terlalu banyak.

Album Photo @ Picasa

Menyimpan kenangan bisa dengan banyak cara. Yang paling minim tentunya di memori ingatan, yang bisa terkikis ketika sang pemilik ingatan semakin pelupa. Beberapa tahun lalu, photo disimpan dalam album adalah hal yang lumrah, meski mungkin sekarang tidak lagi dipandang sebagai alternatif yang murah. Dan ketika penyebaran informasi demikian masifnya memasuki relung-relung kehidupan, termasuk bahkan ke ranah pribadi, media penyimpanan online internet pun bisa menjadi pilihan yang nyaman.

Banyak pilihan website penyimpanan photo terserak di internet. Picasa salah satunya. Meski sudah cukup lama punya account di sana, baru sekarang aku kabarkan di sini. Mungkin terlambat dikabarkan, tapi bukankah lebih baik daripada tidak sama sekali? Jadi silakan klik tautan ini untuk pergi ke album photo pribadi online-ku. Atau silakan cari di tautan blogroll di sebelah kanan blog ini (itu, yang dilingkari di gambar sebelah). Baru terpikir untuk menautkannya ke sini setelah beberapa album baru dimasukkan ke sana dalam beberapa hari terakhir. Jadi ngga’ malu-maluin lah untuk dilihat kalau koleksi photo yang sudah di-upload ternyata masih sedikit. 🙂

So, what else? Please enjoy it!

Seragam Sukan ADA

Belum pernah lihat ADA dengan seragam olahraga sekolahnya ‘kan? Nah, tuh di sebelah udah dipajang…!

Setiap hari Selasa dan Rabu mata pelajaran pertama kelas ADA adalah sukan (olahraga). Daripada gonta ganti pakaian, sejak dari rumah ADA sudah langsung mengenakan seragam sukan ini saat berangkat ke sekolah. Nanti setelah sukan selesai, baru ADA akan berganti pakaian dengan seragam sekolah putih birunya, yang sebelumnya terlipat/dibungkus dalam tas sekolah.

Seragam olahraga ini ada beberapa warna, ADA kebagian T-shirt berwarna hijau. Warna lain adalah merah, kuning dan biru. Setiap warna memiliki sebutan sendiri. Hijau disebut Patriot (klik gambar untuk melihat lebih jelas), merah disebut Intelek, biru disebut Kharisma dan kuning disebut Elite. Meski warna T-shirt berbeda-beda tapi warna celana trainingnya sama semua yaitu biru tua. Di bagian paha kanannya ada huruf-huruf SKTNP1 memanjang dari atas ke bawah dan di paha kiri lambang sekolah. SKTNP1 adalah singkatan dari Sekolah Kebangsaan Taman Nusa Perintis 1.

Dengan kerudung kaos putih, T-shirt sukan hijau, celana training panjang biru, sepatu sukan putih dan menyandang tas sekolah pink, di pagi yang sejuk ini ADA terlihat cantik ‘kan?

08-08-08 @ 08:08

Ah, hanya sebuah angka saja. Yang kebetulan sama, jatuh pada hari ini.

Jam delapan lebih delapan menit pada hari ke delapan di bulan ke delapan pada tahun dua ribu delapan.

Ingin mengartikan lebih? Sebaiknya jangan, karena tak ada manfaatnya.

Ini pun masuk sebagai catatan di sini sebagai pengingat bahwa waktu tak pernah mati. Keniscayaan yang berbanding terbalik dengan pastinya hidup manusia yang berujung pada mati. Dan setiap kumpulan waktu, entah itu angka yang istimewa atau tidak, adalah kendaraan yang melaju ke satu titik: liang kubur.

Siap?