Pagi Pertama 2008

Pagi yang sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Angin subuh bertiup kencang kerkesiur. Masih remang-remang di timur sana. Burung-burung masih tidur. Rumput-rumput dibasahi embun. Pekerja bangunan mulai menggeliat di bedeng gedung sebelah. Dan tentu saja di sini deru mesin pabrik tiada henti.

Tapi ini adalah pagi tahun baru. Adalah angin hangat 2008. Adalah cahaya kehidupan baru. Adalah burung harapan yang akan terbang tinggi. Adalah benih yang sedang disemai. Adalah geliat kehidupan baru. Dan adalah deru kehidupan yang tak juga henti bergulir.

A very brand new day of 2008!
🙂

Advertisements

Selamat Ulang Tahun, Sayang!

mama-ani04.jpgAku mendengar orang-orang berbicara tentangmu. Padahal kamu anak baru, baru saja datang dari Jawa. Tentulah kamu istimewa sampai mereka membicarakanmu. Sampai saat itu, itulah saja yang kutahu tentangmu.

Dari belasan anak, kamu termasuk yang kupilih untuk bekerja di tempatku. Karena kamu nampak percaya diri dan menarik. Teman-temanku menggoda, pilihan yang tepat kata mereka. Di situ aku mengetahui namamu.

Kamu cepat belajar. Kamu pintar. Kamu berbeda. Kamu manis. Aku mulai tahu tentangmu.

Hari berganti hari. Waktu berputar cepat. Aku mendengar orang-orang terus membicarakanmu. Dan hatiku ikut mendengarkannya. Aku tahu ada yang lain denganmu.

Dan hati itu juga yang terpaut sungguh denganmu. Dan setelahnya, semua berlangsung begitu cepat. Ketika kau mengangguki ajakanku. Ketika kita menangis di depan penghulu. Ketika buah cinta titipan Ilahi hadir mengiringi kehidupan kita. Ketika langkah itu sampai ke hari ini. Hati ini terus terpaut. Kita sudah jalani semua. Yang penuh senyum tawa. Yang diselimuti tangis dan derita. Sudah cukup lama. Atau mungkin masih terlalu sebentar?

Tiga puluh tahun usiamu hari ini, sungguhkah aku telah mengenalmu? Semoga hanya Allah SWTlah yang selalu mendekatkan hati kita.

PS: Aku tak punya kado yang lebih baik, terimalah ini sebagai gantinya.

Waktu

Waktu tak pernah berhenti bergerak. Pada setiap detiknya ia terus berputar. Pada setiap menitnya ia terus meninggalkan. Pada setiap jamnya ia terus mengalir. Terus, terus dan terus. Dan kita?

Adakah waktu bagi kita merenung dalam-dalam? Mengingat kembali 365 hari dalam tahun kemarin yang telah kita lewati? Menghela nafas berat ketika teringat yang menyusahkan hati. Atau tersenyum dan tertawa mengenang kebahagiaan yang diperoleh. Sebuah introspeksi dan kontemplasi.

Atau memang tidak perlu direnungi karena yang sudah lewat adalah masa lalu yang tak akan pernah kembali? Karena waktu yang kita miliki hanyalah saat ini, bukan masa lalu apalagi masa depan? Bukankah waktu dan hidup itu mengalir laksana air? Untuk apa melihat ke masa lalu dimana banyak hal belum berubah sementara kita sedang terbawa hanyut arus perubahan? Kita yang harus berubah, bukan waktu dan hidup masa lalu.

Waktu itu tak berubah, ia sungguh tak berubah. Tapi ialah stagnansi yang terus mengusir kita bergerak meninggalkan masa lalu, sejarah, dan kenangan sentimentil. Ia yang tak berubah memaksa kita berubah untuk menyongsong harapan, kemajuan, kebahagiaan, perubahan dan sejenisnya.

Detik, menit dan jam akan terus bergerak setiap waktu. Ia adalah detik, menit dan jam yang sama dari waktu ke waktu. Jadi, masih perlukah mengucapkan selamat tahun baru?

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal soleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. (Al ‘Ashr 1~3)

Gambar bersumber dari sini.

Yang Baru Dari ADA

Seperti biasa jika kami ajak menghadiri training ESQ, ADA tidak dapat kami bawa masuk ke dalam ruangan training. Pertama karena suasana khusu’ di dalam yang tidak boleh terganggu dan kedua karena ADA belum menjadi alumni training (untuk kelas Kids). Karena itu biasanya kami bergantian menjaga dan menemani ADA di luar ruangan training.

Di Batam biasanya ada satu ruangan yang boleh digunakan oleh anak-anak untuk bermain. Kami tidak sendirian dalam hal membawa anak kecil ke tempat training kelas Profesional. Beberapa teman yang lain juga membawa anak-anak mereka. Nah di dalam ruangan itulah anak-anak bermain bersama. Ada yang menggambar, main petak umpet atau saling berbicara satu sama lain.

Dalam kesempatan training di Singapore hari Minggu kemarin, sampai siang hari ADA tidak punya teman anak kecil (baru setelah siang beberapa alumni hadir dengan membawa anak-anaknya). Kasihan ADA kalau kami berdua masuk ke dalam ruangan sementara dia bermain sendirian. Lagipula tidak tenang hati ini membiarkan dia sendirian di luar, karena ada resiko kalau ADA bermain ke dock yard atau ke kolam renang. Jadilah aku lebih banyak menemani ADA di luar dan memberikan kesempatan pada Mama Ani untuk mengulang memahami materi training di dalam.

Inilah beberapa aktivitas ADA saat kutemani:

Melompat-lompat di trampoline (sampai basah bajunya berkeringat)

Main video game (wuih… saingan sama ibu-ibu bule!)

Bikin teh manis sendiri (“Papa mau?“)

Bahkan membuat self portrait dirinya! 🙂

Mudah-mudahan bisa menjadi obat kangen bagi keluarga kami yang jauh dan ingin mengetahui berita/photo terakhir tentang ADA.

Menghadiri Training ESQ Pertama Singapore

Tidak jadi dapat mengikuti acara temu alumni ini karena Mama Ani sakit dan pekerjaan di pabrik yang tak dapat ditinggalkan. Apa boleh buat, meski maksud hati begitu besar namun jika Allah tidak berkehendak, maka aku tidak dapat memaksakan diri untuk hadir.
Tapi ada gantinya, aku – Mama Ani – ADA dan Weni bisa datang pada hari Minggu untuk re-charge satu hari penuh di hari ke-3 Training ESQ angkatan-1 Singapore. Ini sebagian photo perjalanan tersebut:

Di terminal bus Gelang Patah sedang menunggu bus CW3. Di belakang ada tulisan next bus to Jurong East at 09.10AM, tapi bus yang biasanya sangat tepat waktu kemarin itu terlambat datang pukul 09.20AM!

Di dalam ruangan training tidak diperbolehkan mengambil gambar, jadi hanya bisa mengambil suasana di luar saja.

Tapi sempat juga ‘nakal’ mengambil gambar ini (camera blitz off) saat Pak Ary Ginanjar Agustian menutup acara.

Senang sekali dapat kesempatan bertemu langsung, berbicara dan salam semut dengan Pak Ary. Saat berjumpa di Padang dulu, tidak ada kesempatan untuk bersalam semut dengan beliau. Aku juga sempat beramah-tamah dengan Opa Bundo (sesepuh ESQ), Pak Caca (ketua alumni internasional), Pak Reinaldy Agusyana (trainer) dan juga dengan para penggerak ESQ di Singapore seperti Pak Azhari, Pak Khamis, Pak Ibrahim dan Ustadz Zul.

Ada satu photo lagi dengan Pak Ary, tapi bukan dari kamera ini. Nanti kalau sudah diterima, akan dipajang di sini juga.

Update 11/Jan: Mas Ahmadi baru sempat mengirimkankan ke email-ku di Yahoo! photo bersama Bapak Ary Ginanjar Agustian ini:

Keterangan photo (dari kiri ke kanan): Weny, Pak Ary Ginanjar Agustian, aku, dan Mama Ani.

Mama Ani Sakit

Mungkin harapan yang terlalu tinggi? Yang jelas karena tadi malam batuknya menjadi dan sesaknya menghimpit dada, aku ‘paksa’ membawa Mama Ani ke klinik untuk diperiksa oleh dokter. Kalau tidak terasa sakit beneran, biasanya Mama Ani tidak mau dibawa ke dokter.

Kuminta sopir van perusahaan mengantar kami ke klinik di Gelang Patah sepulang aku kerja. Ada beberapa klinik di Gelang Patah tapi beberapa orang merekomendasikan Poliklinik Gelang Patah bagus, dokternya baik dan obatnya manjur. Jadi ke sanalah kami pagi tadi.

Lihat wajah lesu dan pucatnya itu, meski masih memaksakan diri untuk tersenyum.

Dan ini saat diperiksa dokter (yang kemudian protes melarangku mengambil gambar. Hehehe… 🙂 iya Bu Dokter, maaf!)

Obatnya? Wuih… banyak banget! 6 macam obat untuk diminum selama 3 hari; obat untuk menyembuhkan batuk sesak, demam, tekak (kerongkongan), antibiotik dan paru-paru! Dosisnya pun berbeda-beda, ada yang 2 kali, 3 kali, dan 4 kali sehari. Ada yang sekali minum hanya satu biji, tapi ada juga yang 2 biji! Silakan dihitung (kalau mau) banyaknya obat-obatan itu 🙂

Biaya pemeriksaan dokter dan obat seabrek itu RM43 atau sekitar Rp. 110 ribu. Aku tidak tahu persis (karena selama ini biaya kesehatan untuk aku dan keluarga selalu ditanggung oleh perusahaan tempatku bekerja), tapi jika di bandingkan dengan di Batam, rasanya lebih murah biaya dokter dan obat di sini. Di Batam biaya pemeriksaan dokter minimal sudah 50 ribu, belum ditambah dengan obat-obatan yang cukup mahal.

Do’aku bersamamu, cepat sembuh ya, Mama Ani.

Update Senin 24/Dec: Obatnya memang manjur, Mama Ani kondisinya sudah jauh lebih baik! Alhamdulillah…