Beda Notasi

Ada rasa yang berbeda ketika menerima slip gaji sore ini. Meski ini bukan slip gaji pertama hasil bekerja (Wah, itu mah udah lama banget! Zamannya TEC Batam saat masih belum kenal Mama Ani, malahan!), juga bukan slip gaji pertama di lingkungan Jurong Technology Industries Corporation (dimana Plexus – Batam adalah salah satu anak perusahaannya), tapi ini merupakan slip gaji pertama dari Jurong HiTech Industries Sdn Bhd, perusahaan tempatku bekerja saat ini di Johor bahru, Malaysia.

Melihat angkanya yang hanya 4 digit, itulah yang membuatnya berbeda. Meski secara nilai jika dikonversi ke IDR (Indonesian Rupiah) adalah sama, namun sebagai anak bangsa Indonesia yang terbiasa dengan notasi bilangan besar pada mata uang rupiahnya, maka rasanya angka 4 digit dalam MYR (Malaysian Ringgit) menjadi terasa kecil. Coba saja misalnya sebutkan angka 1000 pada orang Indonesia, maka tak ada efeknya. Malah mungkin ditertawakan. Padahal kalau itu RM 1000, maka nilainya sama dengan Rp. 2.600.000,-! Nah, kalau angka 2 juta 6 ratus ribu ini disebut, baru ada efeknya (misalnya mata yang sedikit terbuka, atau hidung yang sedikit menghembuskan udara, atau kepala yang sedikit terangkat) hehehehe….

Sedikit menciutkan hati pada awalnya ketika melihat take home pay di slip gaji itu, “Kok segini yah?”. Padahal setelah dikonversikan dan dipikir ulang, malah menimbulkan sunggingan senyum di bibir.

Begitulah, Tuhan memang paling tahu cara menghibur hambaNya! Bahkan dengan sedikit permainan angka saja, sudah sangat membahagiakan. Alhamdulillah…!

Advertisements

Do’a Indah Mama Ani

Dalam perjalanan kembali ke JB tadi pagi, di ferry aku menerima SMS dari Mama Ani. Isinya indah sekali, membuat air mata merebak di mataku.

Ketika kakimu mulai melangkah keluar dari istana rumah yang dinaungi dengan kasih sayang dan indahnya gelak tawa anak kita, hatiku berbisik kepadaNya akan sebuah harapan.

Ya Robbi, lindungilah suamiku, karuniakanlah hidayah, inayah dan cintaMu selalu kepadanya. Berikanlah dia kesehatan, kekuatan, dan kesabaran mengemban amanahMu memimpin kami anak dan istrinya. Lembutkan hatinya, agar dia selalu mengingatMu, sesibuk apapun. Teguhkanlah imannya agar ia senantiasa berjalan di jalan yang Engkau ridhoi.

Ya Allah, panjangkanlah perjodohan kami, kekalkanlah kebahagiaan kami dengan menjadikannya suamiku di dunia dan akhirat. Izinkanlah kasih sayang antara kami turut menghiasi taman surgaMu, Ilahi Robb…

Amiin Amiin Amiin ya Robbal ‘Alamiin…

Indah… indah sekali!
Terima kasih Ma, semoga do’a itu dikabulkan Allah dan kita dapat selalu bersama dunia dan akhirat kelak.

Ulangan Renungan 165 Pertama

Dalam sesi Renungan 165 bagi para alumni di akhir hari kedua Training ESQ Profesional angkatan ke-20 Batam, Trainer Abdul Jabir Uksim mengulang kembali materi renungan ke-1 Mengapa Harus 165? karena sebagian besar dari alumni yang hadir (kurang lebih 250 0rang) ternyata tidak mengikuti renungan pertama di bulan Mei lalu. Sehingga yang tadinya direncanakan akan memberikan materi renungan ke-4: Membangun Benteng Yang Kokoh dibatalkan agar para alumni dapat mengikuti renungan-renungan secara berurutan.
Meski pengulangan, namun tetap saja aku kembali larut dalam tangis ketika materinya disampaikan. Pak Jabir berhasil menyentuh hatiku yang terdalam dan membuatnya terguncang dengan kata-kata indahnya. Duhai… siapakah yang tak akan menangis jika diingatkan akan dosa-dosanya, hidup seperti apa yang sedang dijalaninya, seberapa dalam pemahaman dan pengamalan nilai-nilai 165-nya, serta ganjaran apa yang akan diperolehnya kelak di akhirat?

Semoga semakin mempertebal keyakinan pada nilai-nilai mulia 165.

ESQ Training Profesional 20 Batam

Alhamdulillah training ESQ angkatan ke-20 Batam telah berlangsung dengan sukses pada 24~26/Aug kemarin. Dipandu oleh Trainer Abdul Jabir Uksim (yang terakhir datang ke Batam pada training angkatan ke-12 ketika aku adalah peserta, bulan Desember 2006) dan dibantu oleh 2 orang asisten trainer Anwar & Syarif, para peserta berhasil dibawa masuk berjalan ke dalam dirinya.
Dalam nuansa 17 Agustus-an (ditandai antara lain dengan pita merah putih di dada kanan para ATS), para peserta diajak untuk mengenang perjuangan para pahlawan yang dulu berjuang membebaskan bangsa dari penjajahan Belanda. Keikhlasan para pejuang dulu itu adalah contoh nyata perjuangan yang berlandaskan cinta kepada sang Maha Agung, Allah Al Jaliil yang memberikan buah manis kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Rasa cinta seperti itulah yang digugah kepada para peserta training, sehingga mereka dapat mewujudkannya dalam bentuk pengabdian terbaik di tempat tugas masing-masing. Apalagi dengan hadirnya beberapa prajurit dan 3 orang Perwira Menengah dari Angkatan Laut Armada Barat (yang berpangkalan di Batam) sebagai peserta, nuansa semangat bela dan cinta tanah air terasa semakin kuat.
Salah satu bagian training yang kali ini sangat mengena di hatiku adalah bayangan ukuran kenikmatan dunia dibandingkan dengan kenikmatan di akhirat. Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa nikmat dunia itu seperti ketika seorang manusia berjalan ke pinggir pantai dan mencelupkan jarinya di sana, lalu diangkatnya jari itu. Air yang menetes dari ujung jarinya itulah dunia, sementara samudera luas tak bertepi di hadapannya adalah kehidupan akhirat kelak! Perumpamaan itu sangatlah menggetarkan hati, yang membuatku tersungkur dan menangis berderaian air mata. Ya Allah, aku sungguh merindukan surgaMu. Jadikanlah aku kepada golongan orang-orang yang Engkau ridhoi surga baginya!

Hal lain yang juga sangat membahagiakanku adalah bahwa mulai kali ini aku ditemani Mama Ani di dalam ruang training. Aku sebagai ATS dan Mama Ani duduk di tempat para alumni. Ini photo di belakang layar bersama Pak Jabir dan istri.

Beberapa gambar suasana saat training berlangsung yang antara lain disajikan dalam bentuk permainan, parodi, dan bernyanyi. Gambar diambil dari galeri photo website FKA ESQ Kepri:

Membuka Kenangan Lama di Kompas

Membuka-buka koran Kompas basi bertanggal 12/Aug tadi malam, aku seolah dilemparkan pada masa pahit 2001~2002. Masa dimana aku sekarang menilainya sebagai kebodohan dan keputusan salah terbesar dalam hidupku. Masa dimana aku meninggalkan prospek kerja yang bagus di Batam untuk mencari pekerjaan yang tak pasti di Kediri, Jawa Timur. Masa dimana aku memiliki istri yang sedang hamil 7 bulan, kemudian dianugerahi bayi perempuan cantik, dan aku adalah seorang pengangguran!

Membolak-balik halaman koran (terutama sekali Kompas akhir minggu) adalah hal rutin yang kulakukan waktu itu. Setiap lowongan pekerjaan aku telusuri satu per satu, kata per kata, perusahaan demi perusahaan, dan lembar demi lembar. Jika ada yang kulihat sesuai dengan kualifikasiku (skill, pendidikan, pengalaman, umur, dll) maka kucatat dan kubuatkan lamaran pekerjaannya. Aku ke rental komputer untuk mencetak lamaran dan CV. Aku ke tempat photocopy untuk menduplikat dokumen-dokumen lainnya. Aku ke studio photo mencetak pas photo. Dan aku ke kantor pos untuk mengirimkannya dengan kilat khusus. Dalam satu minggu, aku bisa mengirimkan sampai 10 lamaran pekerjaan ke berbagai perusahan di berbagai kota di Jawa. Ada yang ke Jakarta, Surabaya, Pasuruan, Solo, Malang, Bandung, Bekasi, dll.

Banyak perusahaan memanggil untuk proses seleksi dan wawancara. Aku kejar setiap panggilan itu dimana jua. Panggilan dari Jakarta, aku ke Jakarta. Panggilan dari Malang, aku ke Malang. Panggilan dari Bekasi aku ke Bekasi. Dengan menumpang bus atau menaiki kereta api kelas ekonomi, bahkan juga berjalan kaki.

Sedihnya, setelah semua upaya itu dilakukan, aku tidak berhasil mendapatkan satupun pekerjaan yang diiklankan. Satu tahun… bayangkan panjangnya masa itu! Sementara hidup tidaklah berhenti atau bisa ditunda. Ada mulut yang harus diisi. Ada perut yang harus diganjal. Ada bayi yang harus diantarkan ke masa depan. Habis semua harta benda yang pernah kukumpulkan di Batam. Habis juga rasa malu untuk meminjam ke sana kemari. Orangtua, adik-adik, teman-teman semasa sekolah, teman semasa kuliah, teman semasa kerja di Batam, semuanya pernah kupinjami. Sebuah keterpaksaan untuk bisa bertahan.

Akhirnya ketika titik jenuh itu sampai, aku putuskan berhenti mengharap. Keputusannya: kembali ke Batam! Dan membuka lembaran hidup yang baru, yang Alhamdulillah masih terus kujalani sampai sekarang. Dimana saat ini ketika berkaca ke belakang, aku sangat mensyukuri semua rezeki dari Allah Ar Rozzaaq. Itulah yang melemparkan aku ke masa lalu dan merebakkan pelupuk mata ini ketika lembar-lembar iklan lowongan pekerjaan di koran Kompas itu kubuka.

Dan sesungguhnya aku sangat berterimakasih kepada semua orang yang telah membantuku saat itu, yang tak dapat kusebut satu persatu di sini. Namun percayalah, Anda semua adalah pahlawan bagiku! Jika ada yang terlupakan bagiku membalas/membayar/mengembalikan bantuannya, semoga Allah SWT mengingatkanku dan membalas keikhlasan Anda dengan pahala berlimpah.

Sembahyang Hantu

Hari ini ada acara Do’a Bulan Ke-7 di tempat kerjaku. Acara doa ini adalah salah satu ritual dalam kepercayaan Budha China yang dilakukan untuk memberi makan hantu dan roh lapar yang datang ke dunia. Itulah kenapa bulan ke-7 dalam kalender bulan China (Chinese Lunar Calendar) ini disebut juga sebagai Bulan Hantu.
4 tenda besar dipasang di areal kosong antara pabrik phase-1 dan phase-2. Di depan tenda, 3 lilin besar patung dewa warna-warni terbakar pelan-pelan. Di bawah tenda terdapat 4 meja besar berisi sesaji persembahan bagi hantu-hantu dan roh-roh yang datang. Sesaji itu antara lain kue apem merah muda, jeruk bali besar, apel, anggur, ketan, gulai ayam, gulai dhal, gulai kambing, acar timun dan nenas, serta banyak lainnya. Semua tersaji dalam susunan yang menarik dan tentu saja dikelilingi oleh dupa hio yang terbakar menyebar bau wangi khas. Di bagian belakang tenda terdapat bak besar tempat pembakaran kertas uang neraka, kertas rumah, dan kertas pakaian yang akan dikirimkan kepada hantu dan roh para leluhur.

Dalam perayaan bulan ke-7 ini, perusahaan menyediakan makan siang gratis bagi seluruh karyawan. Kemarin aku bertanya kepada Pak Chua untuk apa makan siang itu diadakan, maka salah satu jawabannya adalah “….if the ghosts get the food to eat, we all the living human also eat together with them to celebrate the festival. It’s good for the business to get the blessing from them”.

Aku tidak mengikuti acara itu sama sekali karena sibuk dengan pekerjaan di dalam pabrik. Hanya saja sempat melihat para biksu masuk dan berkeliling dalam pabrik memercikkan air bunga sepanjang jalan. Juga ketika keluar makan siang, aku melihat beberapa orang China Budhist itu mulai membakar kertas-kertas sebagai bagian dari upacara mereka. Bagiku tidak masalah menikmati makan siang itu, karena makanan yang disajikan adalah makanan halal, tidak ada dupa hio atau unsur-unsur lain yang melanggar ajaran Islam. Lagipula setiap sebelum makan, aku terbiasa selalu menyebut nama Tuhanku yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Bismillahirrahmanirrahiim… sehingga setan, hantu, atau roh jahat tidak ada yang berani mendekat untuk menemaniku makan 🙂

Cepat Sembuh Ya, Mama Ani!

Aduh… sedih deh, Mama Ani sakit di Batam! Asthma-nya kambuh, suara ‘anak kucing’ ngga’ berhenti terdengar, katanya. Udah disemprotin Ventolin, tetap ngga’ berkurang. Padahal juga sudah memeriksakan diri ke dokter dan dapat obat. Tapi ngga’ mempan, malahan ditambah pusing, badan sakit semua, batuk berdahak (bahkan sedikit berdarah!) serta susah bangun.

3 hari terakhir, setiap beberapa waktu sekali aku sms atau telpon ke Batam menanyakan perkembangan sakitnya. Sepanjang akhir minggu kemaren ada Weny dan Bayu yang menemani, selain ADA di rumah. Nah sekarang tinggal mereka berdua karena Bayu kembali ke JB dan Weny pulang ke kost-annya di Batu Aji. Aku sangat resah memikirkannya. Rasanya ingin pulang saja ke Batam! Ingin mendampinginya di saat ia sangat membutuhkan perhatian dan perawatan seperti sedang sakit ini. Ingin duduk di sampingnya sambil mengusap-usap rambutnya dan menghiburnya. Ingin membuatkan teh hangat untuknya atau membelikannya bubur ayam atau soto hangat. Ingin…

Inilah salah satu resikonya terpisah jauh. Aku atau Mama Ani tidak dapat saling membantu ketika yang lain membutuhkan karena ada jarak yang memisahkan. Jika aral komunikasi dapat ditembus dengan telepon dan sms, maka sentuhan kasih sayang dan perhatian langsung belumlah tergantikan.

Aku hanya dapat mendoakan dan meminta kepada Allah SWT semoga Mama Ani segera diberikan kesembuhan, diberiNya limpahan kesabaran menjalani ujian dan derita, dan dapat melewati saat-saat berat ini dengan penuh tawakal, serta berharap segera dapat kembali beraktifitas seperti biasa.

Cepat sembuh ya, Mama Ani!
I know you’re tough, you can beat the pain inside you! Be strong always, Allah SWT is close to you because He loves you!