Mimpi Lamborghini

white-lamborghini

Lamborghini namanya. Tadi malam ia lewat di dalam mimpi, sedang berpacu dengan sebuah Ferrari merah. Menderum-derum, melenggok berputar beraksi, mencicit-cicit bunyi bannya, menyilaukan mata yang memandang.  Ah… entah untuk apa ia datang di kelelapan tidurku? Jelas ia hanya menggoda, karena ia tahu ia adalah mimpi bagi begitu banyak insan modern, termasuk aku.

lamborghini-showroom-singapore

Cukup melihat dari kejauhan saja. Dari tepi jalan sebuah showroom di negeri singa. Lamborghini sungguh tak terperi dan tak terjangkau. Mungkin sebaiknya ia memang cukup hadir di mimpi-mimpiku saja, karena jelas ia tak akan pernah hadir secara nyata dalam hidupku.

Dari Akhir Pekan Lalu

Belum sempat menulis banyak lagi. Hanya mau setor photo-photo dari kegiatan akhir pekan lalu.

Sabtu, bowling di Johor Jaya, Johor Bahru – Malaysia. Aku, Mama Ani & ADA dengan Sashi, Emily & Winni:

bowling-1 bowling-2

Minggu di East Coast, Bugis Street dan Orchard Road – Singapore. Aku, Mama Ani & ADA dengan Sashi, Emily dan Winni. Ditambah chinaka Sandra, auntie Rajesh dengan anak menantunya Vicky & Suganthi.

east-coast-11 east-coast-22 bugis-street-12 bugis-street-21

Di Orchard ngga’ sempat ambil gambar, sudah keburu gelap dan gerimis. Lebih banyak photo dari dan terkait sekitar akhir pekan lalu dapat ditemukan di album ini.

Hitung Kancing HP2133

Ambil… tidak… ambil… tidak… ambil… tidak… ambil…

hp-2133-mini-note-pc

Sudah di depan mata, sudah dipegang-pegang, sudah diutak-atik, sudah dicoba, sudah dibawa pulang, sudah diteliti dan sudah disepakati bersama Mama Ani.

Suka? Memang. Canggih? Pasti. Spesifikasi produk? Mantap. Perlu? Iya. Design? Oke banget. Harga? Terjangkau.

Jadi, keputusannya?

Ambil… tidak… ambil… tidak… ambil… tidak… ambil…

Novel Sejarah Islam

Begitu melihat, aku langsung terpikat pada novel-novel sejarah Islam ini. Pada salah satu ruang pamer dari sebuah acara di Angsana Plaza akhir pekan lalu, aku membeli lengkap semua buku seri kepahlawanan pejuang-pejuang Islam terbitan PTS Publications & Distributors Sdn. Bhd.

buku-pahlawan-islam1

Judul-judulnya adalah:

  1. Khalid, Memburu Syahid
  2. Tariq, Menang ataupun Syahid
  3. Umar Al-Khattab, Reformis Dunia Islam
  4. Sultan Muhammad Al-Fateh, Penakluk Konstantinopel
  5. Salahudin Ayubi, Penakluk Jerusalem
  6. Ikramah, Penentang Jadi Pembela
  7. Abu Bakar, Sahabat Sejati
  8. Abu Ubaidah, Penakluk Parsi

Semuanya ditulis oleh Abdul Latip Talib, penulis kelahiran Negeri Sembilan, Malaysia yang telah banyak memenangi berbagai sayembara penulisan. Diantara karyanya yang terkenal adalah novel Randau Ruai yang memenangi hadiah pertama Peraduan Menulis Sastera dan Budaya Serawak serta Beraraklah Awan Pilu yang memenangi Hadiah Sastera Utusan 2005.

Akhir Minggu Yang Penuh

Sebuah akhir minggu yang penuh dengan kegiatan. Dimulai dengan sarapan roti pratha kosong & teh tarik di E & Y Restaurant pada Jum’at pagi bersama Mama Ani dan Emilly setelah ADA berangkat sekolah. Kemudian mendiskusikan satu persoalan sesampainya di apartemen dengan sesama warga penghuni sampai menjelang siang. Shalat Jum’at dan makan siang. Meneruskan membaca Empress Orchid sampai ketiduran dan pada sore hari menemani ADA bermain di playground.

Sabtu pagi sudah nyebur ke kolam renang dengan ADA. Hampir 2 jam kami habiskan bermain bersama dengan Winni (yang datang bersama Sashi) dan Nina (yang datang bersama ibunya). Sampai berkerut-kerut tangan anak-anak itu kedinginan di air. Baru saja selesai bilas, ajakan jalan makan siang ke Red Island Cafe di Taman Nusa Bestari pun datang. Maka ke sanalah kami setelah shalat Dzuhur dengan Sashi sekeluarga.

kopi-putiahAda bluberry pudding, chocolate pudding, Penang chicken lok bar, Island special prawn mee, Island nasi lemak, mint sauce lamb chop, teh tarik, lychee iced blended dan Fall in love tersaji di meja kami kemudian. Rasanya nikmat semua dan mengenyangkan perut. Itupun masih aku tambah lagi dengan secangkir white coffee sebagai penutup. Ternyata campuran creamer dan sedikit susunya sangat pas di lidahku, menjadikan ia highly recommended nih!

Selesai di Red Island, perjalanan diteruskan ke Sutera Mall mencari beberapa bahan keperluan untuk acara makan malam nanti. Ya, kami membuat acara makan malam bersama dengan beberapa orang teman lain di gazebo apartemen. Mama Ani dan juga Emilly kebagian memasak makanan yang akan dihidangkan nantinya. Meski sudah sedikit diburu waktu, ADA dan Winni malahan masih sempat bermain di playground dekat area parkir kendaraan.

Makan malamnya sendiri berlangsung sukses. 5 keluarga lengkap ditambah beberapa orang teman dari luar datang menikmati malam minggu. Sajian tomyam seafood, dalcha kambing, bihun goreng, kwetiau udang, sate ayam dan kambing, ayam goreng, rendang kambing dan aneka minuman menjadi penghangat malam. Penuh tawa dan seru-seruan (security apartemen sampai datang menengok, hihihi…), sampai hampir tengah malam. Kami menyukai acara berkumpul seperti itu dan sudah punya rencana berikutnya untuk mengadakan BBQ lagi minggu depan.

Bangun pagi di hari Minggu sudah ditantang oleh ADA bermain bulutangkis. Dan seolah tak kehabisan energi, Mama Ani kemudian juga mengajak jalan ke Angsana Plaza pada siang harinya. Hanya untuk makan siang (yummy, my favorite Mee Rebus!), berburu kain dan buku, setelah itu pulang, sebelum senja jatuh.

Fiuuhhh… akhir minggu yang penuh!

Catatan: gambar white coffee diambil dari sini.

I Will Survive!

Seiring dengan irama aktivitas di pabrik yang makin melambat, jumlah hari kerja menyusut menjadi 4 hari saja dalam satu minggu. Telah hampir sebulan aku selalu memiliki 3 hari penuh di penghujung minggu sebagai hari libur yang bisa dinikmati bersama keluarga dan sahabat. Meski jatah cuti dipotong sebagai gantinya, untuk sekarang bagiku tak masalah karena aku masih memiliki sisa hari cuti yang banyak.

Masalahnya baru akan muncul nanti kalau jatah cuti sudah habis. Bakalan kena potong deh itu gaji! 😦

Oya, karena di atas menyebut soal gaji, akhirnya gaji bulan Januari yang seharusnya sudah dibayarkan akhir bulan lalu, baru kemarin masuk ke rekening. Alhamdulillah akhirnya dibayarkan juga. Untuk gaji berikutnya yang seharusnya tiba 2 minggu lagi, masih berstatus ‘entah’ saat ini. Entah bisa tepat waktu atau entah ditunda lagi…

Bagaimanapun, keputusanku sudah bulat! Krisis ekonomi global yang menghantam dunia elektronik tak akan pulih dalam waktu singkat. Sementara hidup tidaklah berhenti, bukan? So, I’m on my own way!

Rumah Impian Di Leisure Farm Resort

bayou Bak seorang juragan sukses dengan pundi-pundi penuh uang, aku ke Leisure Farm Resort pada akhir minggu lalu. Setelah lebih dari 1.5 tahun di Gelang Patah, baru kali ini punya kesempatan untuk berkunjung ke sana. Setiap kali melintasi highway 2nd Link menuju Singapore, kawasan ini menarik perhatianku karena pesona padang rumput hijaunya yang luas, rumah villa yang mempesona dan beberapa fasilitas yang terlihat dari jalan. Karena tidak memiliki kendaraan sendiri untuk ke sana, maka kesempatan saat kembali dari membeli ikan segar di Kampung Ujung Pendas (sebuah kampung nelayan, berbatasan selat sempit saja dengan Singapore) bersama Sashi, aku memintanya untuk ke Leisure Farm Resort. Kebetulan ketika berangkat ke Pendas, Sashi juga tertarik melihat sebuah spanduk promosi di depan pintu gerbang, sehingga jadilah kami masuk ke dalam kawasan perumahan eksklusif ini.

Kesan pertama, privasi dan keamanan penghuni sangat terjaga. Petugas keamanan adalah pasukan Gurkha dari Nepal. Pos penjagaannya besar, beberapa orang penjaga terlihat di dalamnya. Dari luar aku melihat pos ini dilengkapi dengan komputer (yang menunjukkan beberapa gambar hidup dari kamera pengintai), beberapa peralatan keamanan serta sepeda-sepeda yang terparkir rapi (kemudian aku ketahui bahwa mereka melakukan ronda keliling kawasan setiap 20 menit dengan mengayuh sepeda-sepeda ini). Meski riwayat keberanian pasukan Gurkha sangat terkenal, namun pasukan yang bekerja di kawasan Leisure Farm melayani tamu atau pengunjung dengan sangat baik, ramah serta penuh senyum. Kesan angker tak terlihat pada mereka. Yang jelas, mereka nampak sangat profesional.

Memasuki kawasan dalam, kesan berikutnya yang muncul adalah rapi, sejuk, bersih, luas dan terawat. Jalannya ada yang diaspal dan di beberapa bagian menggunakan conblock, keseluruhannya dibuat 2 jalur yang dipisahkan oleh taman bunga di tengah-tengah. Di tepi jalan beraneka tumbuhan dan bunga berjejer rapi. Aku sempat melihat petugas keliling menyirami tanaman dengan selang air besar dari truk air. Porresia Golf and Country Club di sisi kanan adalah pemandangan indah lainnya. Demikian juga kontur tanah dan jajaran rumah-rumah mewah di sisi lainnya, sungguh memikat mata yang memandang.

drimbunan

Setelah berkeliling di beberapa areal (menurut website di atas seluas 1765 hektar), Sashi mengajak singgah ke kantor pemasarannya. Kantor itu dinamai D’Rimbunan.

serai1

Kami bertemu dengan Samantha Ann, seorang sales executive di sana. Dengan panjang lebar ia menjelaskan banyak hal kepada kami, terutama sekali syarat-syarat kepemilikan rumah dan fasilitas yang tersedia di dalam resort. Ia menunjukkan maket-maket kawasan dan rumah yang dipajang di dalam sebuah ruangan khusus. Bahkan kami dibawanya melihat rumah contoh untuk satu kawasan tema Bayou Water Village yang dinamai Serai.

Cantik, cantik sekali rumahnya! Bagi Leisure Farm, ia adalah tipe rumah paling kecil, namun ia terasa ‘besar’ dan fungsional. Rumahnya eksklusif sekaligus terbuka secara alami. Berada dalam lingkungan yang komunal namun mewah. Secara menyeluruh, barangkali inilah rumah impian bagi sebuah keluarga kecil dengan satu dua orang anak yang menginginkan ketenangan dan kedamaian.

Dan seperti impian, terkadang ia begitu sulit dijangkau. Rumah kecil bertingkat 2 dengan 4 kamar tidur itu dihargai lebih dari RM500 ribu. Silakan dikonversi ke Rupiah jika RM1=Rp3300 saat ini! Belum lagi nantinya ada biaya bulanan untuk perawatan sebesar RM440, tagihan listrik dan air, keanggotaan klub dan sebagainya. Dengan berbagai fasilitas di dalam resort (golf course, klub berkuda, taman agrikultur, fasilitas olahraga dan rekreasi, arena camping, danau, serta banyak lagi rencana pembangunan ke depan), sepertinya memang harus menjadi seorang juragan kaya raya untuk menikmati itu semua. Untuk saat ini, rumah di Leisure Farm cukup disimpan sebagai angan-angan saja.

Catatan: photo diunduh dari website resmi Leisure Farm Resort.