Cerita (Agak) Seram

2 hari menjelang pulang ke Batam, “Pa, lotion Ponds-ku yang baru itu hilang! Rexona-nya juga. Apa Papa sembunyiin ya?” Mama Ani melapor sambil mencurigai. “Ah engga’ lah! Emangnya Papa udah genit pakai lotion segala? Coba tanya ADA, siapa tahu dia yang simpan?” jawabku sambil sedikit bercanda. Saat ADA ditanya dan ternyata dia juga tidak tahu menahu, jadilah ini cerita kehilangan pertama.

2 hari kemudian, di kapal ferry saat menyeberang dari Harbour Front, Singapore ke Batam. “Pa, tadi mandi pakai sabun yang mana?” Mama Ani bertanya. “Sabun Lux padat. Aku tadi ‘kan mandi di kamar mandi satunya. Kenapa?” jawabku sambil balik bertanya. “Tadi aku cari di kamar mandi depan, sabun Lux yang kupakai mandi tadi malam tidak ada. Akhirnya aku mandi pakai Biore cair. Kemana perginya ya?“. Aku menggeleng tidak tahu. Dan itu menjadi cerita kehilangan kedua.

2 hari setelah kembali (Selasa) ke Johor. “Papa, ada sesuatu yang ngga’ beres nih! Masa’ sekarang kalung assesori Mama juga hilang?” dengan sengit dan nafas memburu. Aku ingat terakhir ADA mematut-matut diri di depan kaca dengan kalung itu, “Coba panggil ADA. Terakhir Papa lihat dia yang pakai, terus Papa suruh lepasin biar Mama ngga’ marah kalo tiba-tiba rusak” saranku. “Engga’ Pa! Hari itu kan langsung ADA letakkan di meja rias Mama” ADA muncul dengan pembelaan diri. “Lha, terus siapa yang ambil kalung Mama itu?” tanya Mama Ani bingung. Itu cerita kehilangan yang ketiga.

Sambil bercanda aku bilangin bahwa siapa tahu diantara ADA atau Mama Ani tidur ngelindur lalu secara tak sadar membuang/menyembunyikan barang-barang itu. Karuan saja aku diprotes menuduh sembarangan oleh kedua jelitaku itu. 🙂

Aku menanyai Mama Ani siapa-siapa yang bertamu ke rumah beberapa hari seputar kejadian. Apa ada orang mencurigakan yang nampak. Apa pernah teralis dan pintu depan dibiarkan tidak terkunci. Apa pernah meletakkan barang di tepi jendela. Dan aku juga memikirkan kemungkinan duplikat kunci dimiliki orang lain serta berbagai kemungkinan lain. Tapi semua itu tidak memberikan jawaban, malahan menimbulkan komplikasi ke pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih rumit. Misteri hilangnya barang-barang itu tak menemukan jawabannya. Sebagai orang yang beriman dan percaya bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah SWT, aku berdo’a semoga kehilangan barang tersebut tidak terjadi lagi. Salah satu yang kulakukan adalah dengan membacakan Ayat Kursi di seluruh area rumah.

Sabtu akhir minggu lalu, sebuah SMS dari Mama Ani masuk, “Pa, telpon sekarang! Penting!” begitu bunyinya. Aku sedang dalam meeting operasional pagi itu, tapi karena pesannya penting (dan ngga’ biasanya seperti itu) maka aku keluar dari meeting untuk menelpon. Mama Ani kemudian dengan bersemangat bercerita bahwa barang-barang yang hilang sudah ditemukan.

Pagi itu saking penasarannya dengan kehilangan-kehilangan yang terjadi, Mama Ani menelusuri tepi-tepi bangunan apartemen blok A untuk mencari-cari. Awalnya ia menemukan pecahan wadah bekas Rexona di tempat parkir motor di samping bangunan. Kemudian ia ternampak ikat rambut ADA di halaman rumah lantai satu yang berada sejajar di bawah rumah kami. Lalu ia melihat bahwa di teras rumah lantai dua kemungkinan juga ada barang di sana. Ternyata benar! Banyak barang-barang kami ditemukan disana, bahkan yang tidak kami ketahui ketiadaanya di rumah. Setelah dikumpulkan, maka inilah beberapa barang yang dijumpai: beberapa ikat rambut, pulpen, gelang assesori, kalung assesori, pulpen tip-ex, tang (!), penghapus, lem, kalender meja dan handphone lama Mama Ani! Gemparlah kami dan orang-orang sekitar yang kami ceritakan mengenai asal-usul penemuan barang-barang itu.

Tidak diketahui siapa yang membuang barang-barang itu dari rumah kami di lantai empat. Tidak diketahui kapan barang-barang tersebut mulai raib. Tidak diketahui untuk apa alasan barang-barang itu dibuang. Tidak jelas ini dan itu. Maka mulailah muncul ide-ide supranatural, yang makin lama makin menyeramkan. Sampai kemudian ada yang menyarankan untuk melakukan pengusiran makhluk halus yang siapa tahu menghuni rumah kami. Aku awalnya skeptis, namun setelah dipikir-pikir, something must be done to clear away the doubts.

Singkat cerita, Eko (teknisi Maintenance apartemen) mengajak seseorang yang paham dunia itu ke rumah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Sabtu sore itu juga. Dan inilah kata Bang Hussin (yang tak ingin disebut dukun, paranormal, dsb itu) setelah ‘pertarungan, pertengkaran dan pengusiran’ dilakukan: ada makhluk halus yang menjadi penunggu tas dan barang-barang yang ditinggalkan Ina. Makhluk itu marah pada Mama Ani karena Mama Ani pernah mengganggu barang-barang Ina. Jadi ia membalas dengan membuangi barang-barang Mama Ani.

Siapa itu Ina? Ia adalah penjaga toko di kantin apartemen yang kami bantu tampung di rumah kami setelah majikannya tak membayarinya lagi biaya transport dari penginapannya yang lama. Demi menghemat biaya, ia menyewa satu kamar di rumah kami yang kosong tak terpakai. Hanya sebentar ia tinggal bersama kami, tak sampai 2 minggu. Tanpa pemberitahuan dini, tiba-tiba toko yang dijaganya dijual dan ia harus ikut majikannya segera ke tempat yang baru. Itulah mengapa ia tak sempat mengemasi keseluruhan barang-barangnya. Satu tas dan beberapa pernak perniknya tertinggal di rumah kami.

Lalu untuk apa Mama Ani ‘mengganggu’ barang-barang itu? Untuk mencari alamat atau no telp Ina yang bisa dihubungi, agar ia mengambil kembali barang-barangnya. Karena semua alamat dan no telp yang ada tidak dapat dihubungi, makanya Mama Ani mencari-cari pada barang-barang Ina yang tertinggal. Tak dinyana, malah ada ‘penghuninya’, merasa terganggu dan balas dendam!

Sampai tulisan ini aku tulis, Alhamdulillah tidak ada gangguan barang hilang lagi. Ini hari ketiga setelah ‘pengusiran’ dilakukan, batas waktu dimana aku sudah boleh membuang ‘jeruk nipis’ senjata pertempuran dengan makhluk halus itu ke tempat sampah. Bang Hussin berpesan untuk tidak menyentuh jeruk nipis itu dengan tangan saat membuangnya dan ia berjanji akan kembali dalam beberapa hari untuk memastikan sang makhluk tidak kembali lagi.

Update 05/Sept: Eko bercerita bahwa aliran air ke apartemen blok C mengalami gangguan kemarin. Saat Eko memeriksa ruang kontrol, ternyata kran air yang mengarah ke blok C dalam posisi terkunci. Satu-satunya orang yang punya kunci ke ruang kontrol instrumen air (dimana barang-barang Ina sekarang disimpan) adalah Eko. Apakah makhluk halus itu yang kembali beraksi? Wallahu’alam…

Lift Aneh?

Lift adalah fasilitas peralatan standar yang umum tersedia di gedung-gedung bertingkat tinggi. Naik turun dari satu lantai ke lantai yang lain menjadi mudah, cepat dan tidak melelahkan. Pernah membayangkan, atau mungkin melakukan, naik dari lantai dasar ke lantai 20 (misalnya) dengan cara manual melalui tangga? Pasti sangat melelahkan! Namun bisa saja hal tersebut terjadi jika terdapat kerusakan pada lift yang memakan waktu lama untuk diperbaiki, sehingga para penguna terpaksa menempuh jalan tangga untuk mencapai lantai yang ingin ditujunya.
Pernah juga mendengar orang terjebak di dalam lift kan? Karena faktor teknis atau mekanis, tiba-tiba saja lift bisa berhenti di sembarang ketinggian sehingga membuat pengguna di dalamnya terjebak tak bisa kemana-mana. Bahkan diperparah lagi oleh kemungkinan matinya lampu, alat komunikasi atau pendingin udara di dalamnya, menimbulkan rasa panik bagi mereka yang terjebak.

Itulah yang terpikir tadi malam saat aku mengalami kejadian sedikit aneh dengan lift di apartemen blok A (setiap blok di apartemen memiliki 2 lift untuk turun naik). Aku masuk lift sebelah kanan dari lantai dasar bersama Hadi dan satu orang penghuni lagi. Hadi memencet tombol 4, aku 5 dan seorang lagi 10 untuk sampai ke lantai apartemen masing-masing. Pintu menutup dan lift naik seperti biasa, berhenti di angka 4 dan Hadi keluar. Sampai pintu menutup kembali semua berlangsung normal. Lift naik ke lantai 5 dimana aku akan keluar. Tapi ketika lampu indikator di panel menunjukkan angka 5 dan lampu di tombol angka 5 sudah mati (tanda sudah sampai di tingkat yang dituju), lift tiba-tiba berguncang. Aku dan si pemuda kaget dan berpandangan heran. Apalagi kemudian lift bergerak naik terus tanpa membuka pintu atau berhenti di lantai 5. Ketika sampai di lantai 10, tombol angka 10 mati tapi lift naik terus ke atas. Kami kembali berpandangan dan mengangkat bahu tidak mengerti apa yang terjadi. Kami biarkan saja lift bergerak semaunya. Kami juga tidak memencet tombol apa-apa lagi setelah itu.

Lift terus naik sampai ke lantai 16, lantai tertinggi di apartemen Nusa Perdana, di situlah lift berhenti. Tanpa membuka pintu, lift kembali bergerak turun, angka di panel bergerak turun 15… 14… 13… 12… 11… dan 10. Pintu terbuka, si pemuda tersenyum senang dan ia keluar dari lift. Nah lift sudah kembali berfungsi, pikirku. Aku tekan tombol angka 5 dan lift bergerak turun. Di panel muncul 9… 8… 7… 6… dan 5. Pintu terbuka, alhamdulillah ucapku dalam hati. Namun ketika melangkah keluar lift dan belok kanan ke arah unit nomor 3, aku sadar aku tidak berada di lantai 5. Aku ternyata keluar lift di lantai 4! Hah, kok bisa? Bukannya tadi aku memencet tombol 5 dan angka di panel menunjukkan angka 5 ketika pintu terbuka? Aku yakin sekali aku tidak salah pencet atau salah lihat. Aneh banget!

Kutekan kembali tombol naik agar lift kembali dan aku bisa naik ke lantai 5. Lift datang beberapa saat kemudian, dari dalamnya keluar Nursodik yang tinggal di unit yang sama dengan Hadi. Kuceritakan padanya kejadian yang kualami dan ia tertawa heran. Sedikit ragu aku masuk kembali ke dalam lift dan dengan bismillah kutekan angka 5. Ternyata kali ini tidak ada masalah, aku berhasil sampai di lantai 5.

Kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Kesalahan teknis, mekanis, humanis atau…? Entahlah!