Adakah Yang Lebih Agung?

Petang telah jatuh sejak tadi. Bahkan dipercepat oleh awan gelap yang membawa hujan deras di bumi etam Samarinda.

Adzan berkumandang lantang memanggil. Mataku tak berkedip menatap layar televisi. Aku tahu aku harus segera bangkit karena hatiku telah berteriak, “ayo bangun dari dudukmu, ambil wudhu dan laksanakan shalat!“. Tapi mataku tetap menatap acara di TV, terlalu menarik baginya. Aku tak beranjak.

Lalu tiba-tiba saja ‘blep’! Mati lampu!

Gelap di sekililingku! Pekat! Astaghfirullah’al adzhiim…

Ini caraNya! Ini caraNya!

Maka serta merta aku bangkit dan meraba-raba dalam kegelapan menuju kamar mandi. Berwudhu. Lalu meraba-raba lagi naik ke kamar di lantai dua. Menabrak-nabrak. Terbentur-bentur.

Ini caraNya! Ini caraNya!

Memegang label sebagai patokan, sajadah kugelar. Hatiku terpecah, padaNya dan pada caraNya ini. Kucoba bulatkan hati dan bertakbir. Allahu Akbar!

Tanpa peringatan, serta merta ‘cling’! Listrik menyala kembali!

Ini caraNya! Ini caraNya!

Dan aku tersungkur, bersujud dan menangis!

Adzan adalah panggilan Tuhan. Panggilan Tuhan kepadamu. Adakah yang lebih penting daripada itu? Adakah yang lebih agung daripada itu?

Kehidupan Yang Berbeda

Menikmati hari-hari yang baru di sebuah sudut desa di Pasuruan, Jawa Timur adalah menikmati irama dan suasana kehidupan yang sungguh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Tidak ada mall atau jalan toll. Tidak ada gymnasium, kolam renang atau arena bowling. Tidak juga kartu-kartu magnetic digital, dering handphone, grafik-grafik computer atau deru tembakan chip elektronik pada papan sirkuit. Tiada tekanan target kerja atau ketakutan tidak dapat memenuhi komitmen pada customer.

img0508a

Yang ada hanya alam, alam dan alam.

Lenguhan sapi yang sedang diperah susunya, tarikan nafas pada udara yang begitu segar dan bebas polusi, pandangan yang lepas dan teramat dekat pada bernas-bernas padi di sawah saat bertelanjang kaki menelusuri pematangnya, kelompok-kelompok petani yang tengah bungah bekerja memanen hasil satu musim, titik-titik murni embun di dedaunan, anak-anak yang bermain bola di sawah yang telah kering setelah panen, iringan bebek yang sedang mencari makan, senyum ikhlas dari orang-orang yang bahkan tidak dikenal dan belum pernah dijumpai, cericit burung di atas pohon…

This is life!

Kehidupan yang berasal dan menyatu dengan alam. Yang dimulai di awal Subuh dan berakhir tak lama setelah Isya. Rutin dijalani sebagai wujud pengabdian dan kepatuhan pada sang pemberi yang Maha Hidup dan Maha Mengatur.

Aku menikmatinya, sungguh!

Tidakkah engkau ingin, Kawan?

Termangu Di Jendela

Termangu di depan jendela, dari lantai 4 apartemen, di akhir pekan yang sepi. Memerhatikan lapangan olahraga, taman bermain, kolam renang dan blok-blok bangunan.

Selintas pikiran mendesir di kepala.

Melemparkan pandangan lebih jauh. Bangunan sekolah ADA, lapangan hijaunya yang luas, jalan yang berkelok-kelok, pohon dan tetumbuhan, serta atap-atap rumah.

Tak lama lagi, tak ‘kan kulihat semua.

Nun jauh di ujung mata, nampak lengan-lengan besi pengangkat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Pelepas dan sebuah rumah tangki besar penanda kampung, terlihat samar-samar. Juga pucuk-pucuk menghijau kelapa sawit. Serta birunya laut yang hampir tak kelihatan.

Selebihnya adalah langit, langit yang luas membentang.

Aku teringat lagu dan petikan gitar Adhitia Sofyan pada Adelaide Sky karenanya, terutama pada bagian awal.

I need to know what’s on your mind

These coffe cups are getting cold

Mind the people passing by

They don’t know I’ll be leaving soon

I’ll fly away tomorrow to far away…

Ahh… Johor, I’ll surely be missing you!

The Ultimate Goal

“Inna shalati wanusuki wamahyaya wamamati lillahi robbil ‘alamiin” (Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah)

Betapa teramat dahsyatnya kalimat janji yang diucapkan paling tidak 5 kali sehari itu!

Namun betapa mudahnya bibir berucap dalam shalat tanpa tahu makna terdalamnya. Betapa lenanya diri untuk mematuhi janji. Betapa cepat ia terlupakan. Dan betapa ringannya perilaku untuk mengingkari.

Padahal itulah tujuan hidup di dunia, makna keberadaan manusia, the ultimate goal in life!

Ya Allah, betapa sia-sia semua yang kulakukan tanpa keikhlasan padaMu. Kuatkan hatiku untuk terikat selalu padaMu. Berkahi semua yang kulakukan agar aku terus berbakti untukMu. Dan jadikan aku hambaMu yang selalu bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan.

Kandas

Ada 2 hal yang membuat helaan nafas cukup dalam pada minggu ini. 3 sebenarnya, tapi yang ke-3 is just not suit to be published here.

Pertama, fatamorgana ini. Ia masihlah sebuah fatamorgana. Tak ada saat dikejar namun begitu menggoda saat dilihat! What to say? Harus latihan lagi untuk banyak bersabar.

Yang kedua, plan ini pun gagal. Keluarga teman Mama Ani punya rencana lain setelah acara di Pahang. Mereka akan ke Terengganu untuk berlibur bersama setelah merayakan Deepavali di Pahang. Jadi tidak cukup punya waktu lagi untuk ke Cameron Highlands. Meski sebenarnya belum kami pastikan untuk berangkat, tapi pembatalan ini membuat kecewa karena sebenarnya kami tertarik untuk pergi. Apa boleh buat? Mungkin di lain kesempatan.

Ah, harapan dan rencana. Memang tidak dalam genggaman manusia!

08-08-08 @ 08:08

Ah, hanya sebuah angka saja. Yang kebetulan sama, jatuh pada hari ini.

Jam delapan lebih delapan menit pada hari ke delapan di bulan ke delapan pada tahun dua ribu delapan.

Ingin mengartikan lebih? Sebaiknya jangan, karena tak ada manfaatnya.

Ini pun masuk sebagai catatan di sini sebagai pengingat bahwa waktu tak pernah mati. Keniscayaan yang berbanding terbalik dengan pastinya hidup manusia yang berujung pada mati. Dan setiap kumpulan waktu, entah itu angka yang istimewa atau tidak, adalah kendaraan yang melaju ke satu titik: liang kubur.

Siap?

Allahuakbar!

Ya Allah,

Ampuni hambaMu ini yang bahkan dalam shalat pun masih abai akan Mu.

Ampuni hamba yang kembali tidak khusu’ mengingat dan menyembahMu.

Ampuni hamba yang tidak mampu mempersembahkan rukuk-rukuk terbaik untukMu.

Ampuni hamba yang seolah tidak ikhlas memberikan sujud-sujud bagiMu.

Ya Allah,

Pintu kubur begitu lebar terbuka, jangan Engkau tutupkan pintu hatiku melihatnya.

Liang lahat begitu dekat di depan mata, lengkapkan ibadahku menghadapinya.

Aku tidak cinta dunia, karena hanya cintaMulah yang kuharap.

Jangan palingkan wajahMu dariku, luapkan aku dengan rasa cinta padaMu.

Selalu.

Selalu.

Dalam setiap detak dan langkah hidupku.

Ya Allah,

Hempaskan aku dalam badai maha dahsyat keagunganMu dalam setiap shalat-shalatku!

Hanyutkan aku dalam banjir airmata kekerdilanku di hadapanMu!

Allahuakbar! Allahuakbar! Allahuakbar!