Kehidupan Yang Berbeda

Menikmati hari-hari yang baru di sebuah sudut desa di Pasuruan, Jawa Timur adalah menikmati irama dan suasana kehidupan yang sungguh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Tidak ada mall atau jalan toll. Tidak ada gymnasium, kolam renang atau arena bowling. Tidak juga kartu-kartu magnetic digital, dering handphone, grafik-grafik computer atau deru tembakan chip elektronik pada papan sirkuit. Tiada tekanan target kerja atau ketakutan tidak dapat memenuhi komitmen pada customer.

img0508a

Yang ada hanya alam, alam dan alam.

Lenguhan sapi yang sedang diperah susunya, tarikan nafas pada udara yang begitu segar dan bebas polusi, pandangan yang lepas dan teramat dekat pada bernas-bernas padi di sawah saat bertelanjang kaki menelusuri pematangnya, kelompok-kelompok petani yang tengah bungah bekerja memanen hasil satu musim, titik-titik murni embun di dedaunan, anak-anak yang bermain bola di sawah yang telah kering setelah panen, iringan bebek yang sedang mencari makan, senyum ikhlas dari orang-orang yang bahkan tidak dikenal dan belum pernah dijumpai, cericit burung di atas pohon…

This is life!

Kehidupan yang berasal dan menyatu dengan alam. Yang dimulai di awal Subuh dan berakhir tak lama setelah Isya. Rutin dijalani sebagai wujud pengabdian dan kepatuhan pada sang pemberi yang Maha Hidup dan Maha Mengatur.

Aku menikmatinya, sungguh!

Tidakkah engkau ingin, Kawan?

ADA’s Quote of The Week

Pembicaraan ADA dan Putri (adik Mama Ani) setelah kami kembali dari Kediri dimana ADA sempat dibawa ke rumah sakit Baptis untuk diperiksakan kesehatannya akibat penyakit batuk.

“Mbak Putri, dik ADA senang sekali lho di Kediri kemarin. Dik ADA main-main ke rumah sakit Baptis!”

“Lho, ke rumah sakit kok senang tho, dik ADA?”

“Ya iyalah, masa‘ ngga’ senang mengunjungi tempat kelahirannya sendiri?”

Oalah, anakku… anakku! 🙂

Utusan Rindu

Meninggalkan ‘zona aman’  tentu bukan hal yang mudah. Tapi itu harus kulakukan seiring keputusan untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang telah diambil sebelumnya. Ada kegamangan dalam taraf tertentu, tapi harapan akan kebaikan di masa depan juga hadir menyambut. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan sebenarnya dengan keluar dari zona tersebut. Yang jelas aku meninggalkan Jurong HiTech is for good. Bertahan terus di sana dengan situasi krisis dunia yang menghantam telak sector industry elektronika dan beban hutang perusahaan yang begitu berat kepada banyak bank dimana memberi dampak langsung yang buruk bagi kesejahteraan karyawan, jelas bukan pilihan yang bijak untukku manakala ada prospek lain yang lebih baik terbentang di depan mata.

Mungkin ada sahabat yang mempertanyakan keputusanku, apakah tidak sayang meninggalkan pabrik yang penataan dan pengaturannya ikut aku bidani sejak awal itu (lihat tulisan-tulisan pertengahan 2007) atau apakah tidak terlalu premature meninggalkan perusahaan yang secara operasional masih berjalan? Sememangnya wajar pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Namun sebagai orang yang pernah berada 7 tahun di dalam sana dan berada di posisi yang cukup tinggi untuk dapat melihat dan memahami apa yang telah sedang dan akan terjadi, aku meyakini keputusanku bukanlah hal yang salah atau gegabah.

Yang lebih banyak muncul di kepalaku adalah justru pertanyaan-pertanyaan kenapa perusahaan bisa jatuh ke titik rendah seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan yang merupakan campuran dari keraguan, penyesalan, rasa sayang sekaligus keprihatinan. Mungkin itu yang membuat kenapa aku merasa biasa-biasa saja meninggalkan Jurong HiTech, tidak seperti kala meninggalkan TEC atau PCI di tahun-tahun sebelumnya yang terasa berat dan sedih.

present-2Dalam datarnya suasana hati itulah, sebuah kado kecil dari para bawahanku di Produksi hadir untuk membuat nuansa yang sedikit berbeda. Aku tak mengharapkan apa-apa, namun perhatian dan solidaritas mereka sangatlah lebih dari pantas untuk dihargai. Maka dari itu, aku ingin sekali berterima kasih kepada PH Gan, SW Liong, Poh Choo, Joanne, Nurhana, Ayu (Debug), Salina, Zulaini, Ninie, Lisma dan auntie Yong yang telah bersama-sama dengan ikhlas urunan demi menghadirkan kado tersebut.

present-4Semoga utusan rindu yang disampaikan oleh teman-teman di atas bisa menjadi pendorong semangat dan membangkitkan keinginan untuk berjuang lebih keras lagi ke depan, baik untukku dan juga untuk mereka sendiri yang masih bertahan di sana. Seperti yang ditulis di dalam kartu yang terdapat pada kado tersebut, ya… kenangan di Malaysia akan menjadi kenangan yang indah untuk dikenang selamanya. Bersama mereka aku pernah bekerja bahu membahu di Jurong HiTech Industries (M) Sdn Bhd.

Kabar Dari Pelosok

Aha, akhirnya sempat juga mampir dan menulis untuk postingan ini! What a full and tiring week! Ini pun disempat-sempatkan menulis karena dalam perjalanan terkadang sulit mendapatkan koneksi ke dunia maya. Kalaupun dapat itupun tidak lama, hanya bisa untuk sekedar menjenguk dan memperbaharui status di situs maya yang lain.

Oke, saat ini aku berada di Pandaan, sebuah wilayah dalam administrasi kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Setelah perjalanan panjang dari Johor Bahru ke Surabaya, dilanjutkan ke Pandaan untuk beristirahat semalam, esoknya menelusuri rel kereta api melewati Malang, Blitar dan berakhir di Kediri. 2 hari di sana dan hari ini aku dan keluarga telah kembali lagi ke Pandaan, di peternakan sapi perah tempat bapak mertuaku bekerja.

Namanya di desa, terpelosok lagi (ingat, ini peternakan sapi perah yang memang sengaja dibangun jauh dari pemukiman penduduk), aku jelas kesulitan mendapatkan koneksi ke internet. Jaringan telepon tetap (fix line) tidak ada, apalagi koneksi wireless untuk ditumpangi yang sama sekai tidak ada. Jadi tulisan ini bisa sampai dan terbaca di sini adalah setelah melalui proses yang sedikit butuh perjuangan hehehe… Ya, untuk itu aku harus menulisnya terlebih dahulu di rumah, disimpan di harddisk atau flashdisk, mencari internet hotspot atau warnet, baru kemudian di-upload di blog.

Tapi bagaimanapun aku senang bisa menulis dan berkabar tentang hari-hariku. Meski untuk itu ada usaha yang sedikit lebih untuk melakukannya.

Kurir Barang

Lantaran lama ngga’ datang-datang juga menjemput barang yang sudah disiapkan, rencana menggunakan kurir AFreight Cargo aku batalkan. Mereka janji-janji terus akan datang menjemput, yang ternyata tidak terlaksana sampai minggu ini. Karena itu kemaren aku ngubek-ngubek internet mencari kurir lain yang bisa mengirimkan barang dari Johor ke Surabaya. Dan ternyata hasil ubek-ubek itu  cukup membantu dalam menghemat biaya dan kepraktisan.

Mandiri Sejahtera Cargo namanya. Dari perbincangan dengan staff yang datang ke rumah mengantarkan kardus, sepertinya dimiliki dan dikelola oleh orang Indonesia, tapi aku tidak begitu pasti. Layanannya door to door juga, jadi konsumen tidak perlu repot menggotong-gotong barang, cukup menunggu mereka datang menjemput ke rumah. Kotak disediakan (tidak ada biaya tambahan) bahkan mereka juga menyediakan jasa membantu mengepak barang di rumah.

dscn0200Biayanya cukup kompetitif. Untuk sistem paket kotak ukuran XL (85x65x60 cm) mereka mengenakan biaya RM300 dan kotak ukuran L (55x55x60 cm) dikenakan biaya RM200. Bandingkan dengan AFreight Cargo seperti rencanaku sebelumnya yang mengenakan biaya RM380 untuk kotak Jumbo ukuran 60x60x60 cm dan RM180 untuk kotak Imut ukuran 60x40x30 cm. Sementara untuk pengiriman barang dengan satuan kilogram, MS Cargo menetapkan harga tergantung kota tujuan. Namun tetap jauh lebih murah jika dibandingkan dengan kurir-kurir lain seperti Tiki, DHL atau Posindo.  Lihat tarif harganya di sini.

Nah pagi tadi 2 kotak yang sangat berat inipun telah diambil oleh petugas MS Cargo. Ya, sangat berat karena sebagian besar isinya adalah buku-buku, peralatan dapur, pakaian dan beraneka barang tetek bengek lain yang sayang untuk ditinggal/dibuang. Diperkirakan akan sampai di Surabaya dalam waktu 2 minggu.

Minggu Terakhir Di Gelang Patah

Masih bagian dari rangkaian panjang menjelang berakhirnya episode Gelang Patah, kami dan teman-teman baik di lingkungan apartemen sering mengadakan acara kumpul-kumpul bersama. Entah itu sekedar makan siang di rumah kami, berkaraoke di rumah Emily, makan malam di rumah auntie Rajesh atau jalan ke luar bersama seperti ke restoran Mana Lagi dan belanja di AEON/Jusco Bukit Indah.

dscn0300 dscn0325 dscn0182 dscn0321 dscn0216

Waktu yang tersisa sebelum keberangkatan kurang dari satu minggu lagi, namun entah masih ada berapa banyak acara berkumpul lagi yang akan diadakan. Menurut Mama Ani, teman-temannya yang banyak itu sudah membuatkan agenda acara sampai menjelang hari keberangkatan! Telepon kami terus berbunyi menghadirkan ajakan atau pesan untuk bertemu. Kadang ketukan di pintu rumah juga membuat kami bercengkrama berlama-lama. Kata mereka, kapan lagi akan bisa berkumpul kalau tidak sekarang. Berkumpul tanpa kehadiran kami sekeluarga katanya tidak seru.

Memang menyenangkan memiliki teman-teman yang baik. Mereka memberi kami pengertian bahwa hubungan yang baik pastilah akan berimbas kebaikan dan itu harus tetap dijaga, meski kelak akan ada jarak yang memisahkan. Kegiatan berkumpul yang begitu intens di minggu-minggu terakhir ini adalah juga gambaran bahwa mereka menganggap kami sebagai sahabat yang baik bagi mereka dan mereka pun juga merasakan kesedihan karena akan berpisah dengan kami. Tidakkah itu terdengar indah di hati?