ADA Ompong Dua

Pa, hari Senin saja ya cabut giginya…” ADA masih berusaha membujuk meski sudah di depan klinik pergigian Gelang Patah. (Eh, jangan tertawa! Memang itu sebutan nama klinik kalo ke dokter gigi: klinik pergigian.)

Sekarang saja ya, sudah sejak minggu yang lalu lho dek ADA ngga’ mau terus diajak ke sini.

Tapi ADA takut, Pa. Sakiiit…” rengeknya khawatir.

Ngga’ apa-apa, sakit sedikit aja kok. Kan nanti diberi obat kebal biar ngga’ terasa sakitnya. Ingat ‘kan 3 minggu lalu saat gigi yang ini dicabut, terasa ngga’ saat dicabut?” menunjuk ke gigi taring bawahnya yang sudah ompong.

ADA menggeleng, “Iya sih, tapi…

ADA ngga’ mau kan giginya ntar tumbuh acak-acakan? Kasihan gigi yang di bawahnya udah mau keluar tuh. ADA lihat ‘kan? Nah, ntar dia ngga’ bisa tumbuh bagus kalau gigi atasnya belum dicabut. Yuuuk…!

Jadi jelek ya Pa?

Iya.

Meski masih takut-takut dan ragu, ADA akhirnya mau naik ke lantai 2 klinik gigi itu. Dan meski masih penuh dengan kecemasan saat duduk di kursi pasien, ADA kemudian dengan gagah berani menunjukkan senyumnya pada kami saat keluar dari ruangan dokter. Senyum ompong dua gigi depan bagian bawahnya! “Ngga’ sakit lho, Ma!” katanya.

dsci1372.jpg dsci1375.jpg

Long Weekend, The Crowd & The Lateness

Libur akhir pekan lalu benar-benar dimanfaatkan warga S’pore & M’sia untuk berlibur ke Batam dan pulau-pulau sekitarnya. Banyak dari mereka yang berangkat dalam kelompok-kelompok kecil 3~5 orang sampai yang kelompok besar diatas 15 orang. Dan karena akses utama transportasi ferry adalah di Harbour Front, maka terciptalah kepadatan yang tidak biasa di sana.

crowded.jpg

Aku hendak ke Batam untuk menjadi ATS pada training ESQ Profesional angkatan 26 pagi itu. Target dalam rencana perjalananku adalah pada pukul 9.00 pagi WIB sudah dapat bergabung dengan para sahabat ESQ Batam. Itulah kenapa pada pukul 8.00 ST aku sudah sampai di Harbour Front. Tak diduga, beginilah kondisinya. Crowded sekali! Untuk berjalan saja susah.

Tapi dengan susah payah aku berhasil sampai ke kaunter tiket Penguin. Harapan untuk bisa sampai pagi di Batam menguap sirna saat kulihat jadwal ferry selanjutnya adalah pukul 13.20 ST! Artinya semua ferry dari pukul 8.00 sampai pukul 13.20 itu (ada 5 pemberangkatan) semua telah terisi penuh. Mau tidak mau, setelah mengantri panjang, aku ambil juga keberangkatan siang itu. Sebenarnya sudah mencoba meminta pada petugas tiket Penguin untuk bisa ‘diselipkan’ pada pemberangkatan lebih awal (“Please search for me 1 seat at any departures before 13.20, would you? Only 1 seat, I’m alone!“) , tetapi memang tidak ada lagi tempat kosong. Semua sudah fully booked. Dan itu tidak pada Penguin saja, tapi juga pada beberapa operator ferry yang lain seperti Batam Fast, Dino Shipping, Wave Master dan Widi.

Akhirnya begitulah, aku terpaksa harus menunggu 5 jam di Harbour Front untuk bisa berangkat ke Batam. Dan 5 jam itu aku habiskan dengan membaca novel, jalan ke Vivo City, beli buah di sebuah mart di lantai dasar Vivo, serta makan siang.

Pengalaman berharga untuk diantisipasi di waktu mendatang.

Dengan Jam Kerja Baru

Dua minggu terakhir aku atur waktu bekerjaku di kilang dari jam 12 malam sampai ke jam 12 siang, seperti rencana ini. Ini terasa leluasa bagiku dimana aku tidak terlalu penat bekerja, bisa mengikuti operasional meeting pagi dan bahkan jika tidak ada masalah berarti di Produksi, aku bisa pulang lebih awal!

Sepulang kerja aku sampai di apartemen bersamaan dengan waktu makan siang. Tak lama kemudian disusul dengan masuknya waktu shalat Dzuhur. Saat jam kerja masih 9 to 9, kedua kegiatan ini aku lakukan dalam kondisi tubuh dan konsentrasi yang setengah ‘melayang’ karena capek dan mengantuk. Sekarang tidak lagi, tubuh dan konsentrasi masih cukup kuat dan sepenuhnya sadar.

Selanjutnya tidur juga cukup. Sesi pertama dari jam 2 sampai jam 6 petang. Kemudian bangun untuk shalat Ashar sampai nanti waktu Magrib dan Isya, dimana aku isi denganbercengkrama dengan anak dan istri serta juga makan malam. Jika terasa masih kurang istirahatnya, ada sesi tidur ke-dua jam 9 sampai 11 malam. Baru kemudian nantinya berangkat kerja jam 12.

Dengan jam kerja yang baru, aku mulai cukup nyaman dalam mengatur waktu. Porsi waktu untuk bekerja, beristirahat dan bersama keluarga terpenuhi cukup baik. Tidak ada yang terkorbankan seperti kondisi sebelumnya.

Ngobrol Sepuasnya

Perang tarif yang gencar diantara para operator telepon selular lumayan menghibur dan menguntungkan bagi para pengguna kartu pra-bayar. Salah satunya adalah aku, hihihihi… Kapan lagi dapat kesempatan berbicara di telepon tanpa begitu khawatir dengan penggunaan pulsa, ya ngga’?

xl.gif

Ngobrol murah meriah via telepon jarak jauh itulah yang aku manfaatkan saat pulang ke Batam kemarin. Ketika XL memberikan tarif super murahnya, aku bisa menelpon Mama Miar, Emil dan Awan di Malang (dan kemudian di Mojokerto) berjam-jam berkali-kali. Demikian juga ketika menghubungi Bapak, Ibu dan Putri di Pandaan, Pasuruan. Benar-benar puas berbicara panjang lebar dengan bayaran yang minim, mulai dari hanya Rp. 300 saja (pagi) sampai Rp. 1800! Pulsa Rp. 25.000 yang dibeli seperti ngga’ habis-habis dipakai.

Ada layanan lain yang juga murah yaitu IM3 dari Indosat, tapi karena keluarga di Mojokerto dan Pandaan semua sudah menggunakan XL maka aku memilih untuk menggunakan kartu pra bayar XL juga.

Buku Baru

Hasil jalan ke Gramedia BCS Mall Batam hari Senin lalu:

  1. dalam-mihrab-cinta.jpg Habiburrahman El Shirazy: Dalam Mihrab Cinta, penerbit Republika
  2. pitaloka.jpg Tasaro: Pitaloka Cahaya, penerbit Aditera
  3. taj-mahal.jpg John Shors: Taj Mahal Kisah Cinta Abadi, penerbit Mizan
  4. Doraemon 3 seri
  5. Panduan Dasar Menggambar Dengan Pensil Untuk Anak
  6. Majalah Bobo no.49

Sebenarnya masih ingin membeli beberapa buku lain seperti Deception Point-nya Dan Brown, The Sicilian-nya Mario Puzo atau Mereka Mengkhianati Saya tulisan Femi Adi Soempeno. Tapi mengingat budget yang terbatas, untuk sementara waktu ditunda dulu ke lain kesempatan.

Sekarang aku sudah mulai mencicil membaca buku-buku diatas, mulai dari karyanya Kang Abik dulu.

O iya, no 4~6 dalam list di atas adalah untuk anakku ADA 🙂

Banjir

Pulang ke Batam 3 hari tidak dapat kami manfaatkan sepenuhnya untuk berjalan-jalan karena cuaca yang tidak mendukung. Hanya hari Minggu saat datang dan Senin esoknya kami bisa jalan ke luar rumah, sementara satu hari penuh Selasa sampai Rabu siang menjelang kembali kami tidak bisa kemana-mana.

Hujan, hujan dan hujan sepanjang hari. Kadang deras kadang berhenti. Tapi sebentar kemudian deras lagi. Brrrr… dinginnya!

Untungnya hasil jalan-jalan ke Mega Mall dan Gramedia BCS cukup bisa menjadi teman di rumah menghabiskan waktu. Daripada tidur saja kan lebih baik baca buku, betul tidak? Dan sesekali mata mengawasi jalan di luar pagar, mengawasi ketinggian air di saluran depan rumah, agar tetap waspada banjir.

Banjir? Ya, bukan di rumah kami, tapi di blok depan rumah yang memang berada di tanah yang lebih rendah. Dulu-dulu mereka sering banget kebanjiran, pernah sampai semata kaki. Untungnya kali ini tidak. Jadi kami tidak terlalu sering melongok-longok jendela melihat keluar.

Tidak seperti di Batu Aji ini, yang sudah langganan sekali dengan banjir. Di depan perumahan Villa Muka Kuning ini bisa dibilang pasti banjir kalau hujan menderas beberapa lama. Cukup mengherankan sebenarnya, karena di sana proyek saluran air baru saja selesai dibuat. Tapi kok banjir lagi banjir lagi…. Proyek asal-asalan lagi kah?

macet.jpg

1-poin-5.jpg
Photo kiriman seorang teman melalui email Rabu siang.

Korban ‘Balas Dendam’

Seolah wisata kuliner, inilah daftar panjang makanan-makanan yang kami sekeluarga santap mulai dari datang Minggu sore sampai Rabu siang saat kembali lagi ke JB. Sebuah daftar korban ‘balas dendam’, hehehehe !

  1. Laksa di Harbour Front, Singapore
  2. Nasi Sotong di Nasi Padang Harbour Front, Singapore
  3. Nasi Padang di restoran Nusantara Baru Mega Mall Batam Centre
  4. Mie Ayam di restoran Solaria Mega Mall Batam Centre
  5. Sate, gule dan tongseng kambing dari warung perumahan Bidadari, Tj. Piayu
  6. Nasi Gudeg Jogja dari outlet Mbak Tun, BCS Mall
  7. Pempek campur, tekwan, pecel lelel dan otak-otak tenggiri di restoran pempek BCS Mall
  8. Bakso di restoran Tak Terduga, Panbil Mall
  9. Lontong sayur dan soto di warung kecil Pintu 2 Setengah, Bida Ayu
  10. Nasi Padang dari restoran Nusantara Baru Panbil Mall
  11. Nasi Gudeg Jogja Lengkap dari outlet Mbak Tun, Panbil Mall
  12. Rujak buah dari outlet bawah eskalator Panbil Mall
  13. Bakso dan Mie Ayam Pintu 3, Bida Ayu
  14. Ayam Penyet dan Soto Ayam di restoran Batandur, Panbil Mall
  15. Laksa, Fish Ball Soup dan Nasi Sotong di Harbour Front, Singapore

Mama Ani dan ADA sudah hampir 3 bulan tidak pulang ke Batam. Cukup wajar jika mereka kangen dengan masakan dan makanan Indonesia yang tidak mereka jumpai di JB sini. Jadi begitu ada kesempatan pulang ke Batam, inilah waktunya ‘melampiaskan’ keinginan menikmati lidah bergoyang, desah kepedasan atau “hmm… enaaaaakk!”. Hal yang jarang mereka rasakan di JB.