Hari Raya Di Tanah Tetangga – Part 1

Pagi-pagi pukul 8 kami sekeluarga sudah siap rapi jali hendak berangkat shalat Ied. ADA dan Mama Ani terlihat cantik dengan jilbabnya. Dapat info dari petugas keamanan apartemen 2 hari sebelumnya bahwa surau di belakang apartemen (berjarak kurang lebih 200 meter) biasanya juga mengadakan shalat hari Raya, jadi ke sanalah kami akan menuju. Tapi sedikit ragu juga dengan info itu karena sore sebelumnya lewat di sana tidak ada tanda persiapan apa-apa. Makanya rencana cadangan aku siapkan, kami akan shalat Ied di mesjid Jamee (tempat aku biasa shalat Jum’at). Karena lokasi mesjid Jamee lebih jauh, jadi pergi dengan taksi saja. Kalau ternyata ketika lewat di depan surau belakang apartemen ada shalat Ied ya di situ saja, tapi kalau tidak berarti taksinya langsung ke mesjid Jamee.

Tapi belum-belum sudah dapat cobaan: tak ada taksi!. Beberapa kali menelpon tak ada yang berhasil dihubungi. Akhirnya diputuskan berjalan kaki saja. Nasib baik, setelah beberapa puluh meter berjalan, ada mobil sedan yang berhenti menawarkan bareng ke surau. Itulah salah satu bentuk indahnya persaudaraan seiman!

Sampai di surau kami sadari tak nampak satupun jamaah perempuan. Apa adat di sini tidak membiasakan perempuan shalat Ied di masjid ya, pikirku cukup heran. Lha, dimana Mama Ani dan ADA shalat? Dengan sedikit celingukan, Mama Ani akhirnya melihat pintu ke wilayah hijab shalat perempuan, “Ada Pa, di sebelah sana!” katanya.

Dari wajah-wajahnya, yang datang shalat Ied jelas berbeda bangsa. Aku mengenali wajah-wajah orang Bangladesh, India, Indonesia, serta tentu saja Malaysia. Kebanyakan dari mereka adalah para pekerja asing muslim yang bekerja di banyak pabrik dan bertempat tinggal di sekitaran Gelang Patah.

Yang sedikit melenceng, setelah shalat Ied banyak yang langsung ngeluyur keluar masjid, kebanyakan wajah-wajah Bangladesh. Mereka tidak ikut mendengarkan khotbah Ied atau mendengarkan di luar atau gimana, aku tidak memperhatikan lebih jauh. Yang jelas separuh jamaah di dalam masjid berkurang!

Kebiasaan yang lain, orang Bangladesh lagi, setelah khutbah selesai mereka saling mengucapkan selamat hari Raya dan berma’afan dengan cara berpelukan erat satu sama lain. Mirip salam semut di ESQ Training🙂

Karena tak ada taksi, kami kembali ke apartemen dengan berjalan kaki. Kali ini lebih rame, karena bersama-sama dengan jemaah lain yang pulang ke arah yang sama.

One thought on “Hari Raya Di Tanah Tetangga – Part 1

  1. Pingback: Hari Raya 1429H @ Batam « Arizaldi’s Journey

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s