Nostalgia

Ouch… betapa lamanya sudah tak pernah mampir ke blogku ini! Ada rindu yang menggebu untuk mulai menulis kembali. Ratusan tulisan di sini sungguh merayu meminta teman baru.

Ahai… tunggulah sebentar lagi. Mudah-mudahan ada banyak jejak yang kembali bisa ditelusuri. Tapi janganlah meminta pasti, karena akupun tak ingin berjanji.

Go blogging, Ari!

Menulis (Lagi) Yuuk…!

Seorang adik mengirimkan sebuah cerita padaku di sebuah situs jejaring sosial internet. Kubaca dan kunikmati. Bagus dan mengalir kisahnya. Dengan bahasa yang menarik dan ide cerita yang ‘berat’. Layaknya cerita/tulisan  seorang penulis terkenal yang telah menghasilkan banyak karya. Di akhir cerita si adik menuliskan namanya di situ sebagai penulis cerita. Wah, cukup mengagetkan bercampur senang ternyata adikku memiliki bakat menulis yang hebat. Maka kemudian aku telusuri kembali tulisan-tulisannya terdahulu dan semakin yakin bahwa ia memang berbakat di bidang ini.

Seorang teman menuliskan di catatannya bahwa Tuhan telah membimbingnya kembali untuk menulis. Dengan cara yang sangat mudah, indah dan sederhana, begitu katanya. Maka ia akan kembali menulis bersamaNya. Berpacu dan meminta dipacu.

Teman yang lain, baru kukenal setelah aku pindah ke Samarinda, ternyata adalah seorang blogger terkenal. Blognya selalu ramai didatangi ratusan orang setiap jamnya. Maka berbagilah ia cerita bagaimana menjadikan tulisan dan blognya sebagai sumber penghasilan tambahan.

Bak cambuk, itu semua melecutku hari-hari ini. Bagai kuda bagal yang tersentak, berlarilah aku ke sini. Ke rumah tempat segala yang terlintas di benak pernah ditumpahkan begitu sering. Sebuah rumah tempat bermanja-manja yang pernah dialu-alukan. Rumah yang sekarang terbengkalai tak terurus. Ah, sebuah rindu yang ingin terlampiaskan segera!

Maka rumahku, berharaplah aku akan selalu diselimuti semangat ini agar engkau selalu terisi. Seperti dulu. Saat setiap jengkal waktu tak ada yang terlewatkan tanpa sebuah catatan mengenainya. Saat setiap kisah mendapatkan tempat bercerita di ruang tamumu.

Tulislah apa yang kau mau. Tuliskan pada saat kau mau. Tulis dimana kamu bisa.

Rada Buntu Nih…

Belakangan sedang tidak mood untuk menulis panjang-panjang. Maunya yang singkat-singkat saja. Itu sebabnya aku lebih sering dolan ke Facebook daripada membuat update di sini. Di sana ‘kan singkat-singkat saja tapi up to date. Entah kenapa, agak buntu saja rasanya pikiran ini. Atau mungkin sedang malas?

Kalau cerita sih banyak yang ingin dituturkan, apalagi saat ini. Perjalanan hidup yang baru, kota yang baru, pekerjaan yang baru, banyak deh… Tapi barangkali karena terlalu excited pada banyak hal, jadinya malah ngga’ produktif. Mungkin begitu hukumnya ya? Ada banyak hal yang ingin dilihat, dipelajari, dirasakan, dilakukan, dll sehingga semua terasa membludak dan akhirnya tak tertangani. Melakukan ini tanggung, melakukan itu setengah-setengah, yang lainnya juga tak selesai. Ini yang membuat pikiran terasa buntu.

Okay, untuk update ringkasnya, aku sekarang sudah di Kalimantan Timur. Tepatnya di kota Samarinda, kota Tepian dengan sungai Mahakam serta sarung tenunnya yang terkenal itu. Sudah satu minggu ini memulai kerja di salah satu perusahaan pertambangan batubara. Pekerjaannya jelas berbeda dari yang dulu, industrinya juga jauh berbeda. Ada banyak hal yang harus dipelajari. Anak dan istri untuk saat ini aku tinggal di Pandaan, entah nanti mungkin akan aku ajak ke sini atau tidak masih melihat situasi dan kondisi. Begitu sampai di kota ini minggu lalu, aku langsung menyewa kamar kost untuk tempat tinggal. Jika diizinkan, aku mau minta untuk tinggal di mess perusahaan.

Sementara itu dulu. Selanjutnya, harus tetap semangaaaattt…!

Utusan Rindu

Meninggalkan ‘zona aman’  tentu bukan hal yang mudah. Tapi itu harus kulakukan seiring keputusan untuk mengundurkan diri dari perusahaan yang telah diambil sebelumnya. Ada kegamangan dalam taraf tertentu, tapi harapan akan kebaikan di masa depan juga hadir menyambut. Jadi tidak ada yang perlu ditakutkan sebenarnya dengan keluar dari zona tersebut. Yang jelas aku meninggalkan Jurong HiTech is for good. Bertahan terus di sana dengan situasi krisis dunia yang menghantam telak sector industry elektronika dan beban hutang perusahaan yang begitu berat kepada banyak bank dimana memberi dampak langsung yang buruk bagi kesejahteraan karyawan, jelas bukan pilihan yang bijak untukku manakala ada prospek lain yang lebih baik terbentang di depan mata.

Mungkin ada sahabat yang mempertanyakan keputusanku, apakah tidak sayang meninggalkan pabrik yang penataan dan pengaturannya ikut aku bidani sejak awal itu (lihat tulisan-tulisan pertengahan 2007) atau apakah tidak terlalu premature meninggalkan perusahaan yang secara operasional masih berjalan? Sememangnya wajar pertanyaan-pertanyaan itu muncul. Namun sebagai orang yang pernah berada 7 tahun di dalam sana dan berada di posisi yang cukup tinggi untuk dapat melihat dan memahami apa yang telah sedang dan akan terjadi, aku meyakini keputusanku bukanlah hal yang salah atau gegabah.

Yang lebih banyak muncul di kepalaku adalah justru pertanyaan-pertanyaan kenapa perusahaan bisa jatuh ke titik rendah seperti ini. Pertanyaan-pertanyaan yang merupakan campuran dari keraguan, penyesalan, rasa sayang sekaligus keprihatinan. Mungkin itu yang membuat kenapa aku merasa biasa-biasa saja meninggalkan Jurong HiTech, tidak seperti kala meninggalkan TEC atau PCI di tahun-tahun sebelumnya yang terasa berat dan sedih.

present-2Dalam datarnya suasana hati itulah, sebuah kado kecil dari para bawahanku di Produksi hadir untuk membuat nuansa yang sedikit berbeda. Aku tak mengharapkan apa-apa, namun perhatian dan solidaritas mereka sangatlah lebih dari pantas untuk dihargai. Maka dari itu, aku ingin sekali berterima kasih kepada PH Gan, SW Liong, Poh Choo, Joanne, Nurhana, Ayu (Debug), Salina, Zulaini, Ninie, Lisma dan auntie Yong yang telah bersama-sama dengan ikhlas urunan demi menghadirkan kado tersebut.

present-4Semoga utusan rindu yang disampaikan oleh teman-teman di atas bisa menjadi pendorong semangat dan membangkitkan keinginan untuk berjuang lebih keras lagi ke depan, baik untukku dan juga untuk mereka sendiri yang masih bertahan di sana. Seperti yang ditulis di dalam kartu yang terdapat pada kado tersebut, ya… kenangan di Malaysia akan menjadi kenangan yang indah untuk dikenang selamanya. Bersama mereka aku pernah bekerja bahu membahu di Jurong HiTech Industries (M) Sdn Bhd.

Termangu Di Jendela

Termangu di depan jendela, dari lantai 4 apartemen, di akhir pekan yang sepi. Memerhatikan lapangan olahraga, taman bermain, kolam renang dan blok-blok bangunan.

Selintas pikiran mendesir di kepala.

Melemparkan pandangan lebih jauh. Bangunan sekolah ADA, lapangan hijaunya yang luas, jalan yang berkelok-kelok, pohon dan tetumbuhan, serta atap-atap rumah.

Tak lama lagi, tak ‘kan kulihat semua.

Nun jauh di ujung mata, nampak lengan-lengan besi pengangkat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Pelepas dan sebuah rumah tangki besar penanda kampung, terlihat samar-samar. Juga pucuk-pucuk menghijau kelapa sawit. Serta birunya laut yang hampir tak kelihatan.

Selebihnya adalah langit, langit yang luas membentang.

Aku teringat lagu dan petikan gitar Adhitia Sofyan pada Adelaide Sky karenanya, terutama pada bagian awal.

I need to know what’s on your mind

These coffe cups are getting cold

Mind the people passing by

They don’t know I’ll be leaving soon

I’ll fly away tomorrow to far away…

Ahh… Johor, I’ll surely be missing you!

Ngga’ Mood, Beneran…!

Hari ini tidak ada rencana menulis, tapi rasanya jari jemariku gatal ingin mengetik sesuatu. Jadi biarlah, apapun nanti hasilnya, akan tetap aku post di blog. Anggap saja sebagai sebuah tulisan liar tak berdasar dari seseorang yang hatinya sedang ngga’ jelas. Jika susah dipahami, harap dimaklumi saja ya.

Benar-benar ngga’ mood untuk dan pada banyak hal dalam hal pekerjaan. Rasanya udah malas, tantangannya udah ngga’ ada. Faktor-faktor pendukung semangat kerja supaya tetap tinggi banyak yang sudah tidak ada, internal dan eksternal. Pikiran sudah terbang jauh ke Indonesia, sudah tidak sabaran untuk segera berangkat ke sana. Duduk di depan PC dari pagi sampai petang, tapi yang dikerjakan lebih banyak yang tidak fokus. Sedikit membuat instruksi atau jadwal, jauuuh lebih banyak menjelajahi dunia maya sehingga tidak produktif.

Aku tahu kenapa, tapi biarlah ia mengendap di kepala ini saja.

Mungkin satu pertanda juga, seumur-umur kenal Microsoft Excel baru hari  ini satu sheet file bisa terpakai penuh sampai ke ujung. Mengerti ‘kan yang kumaksud? Ya, penuh data dari kolom A sampai IV! Artinya kolom A sampai Z terisi, kemudian AA~AZ, kemudian BA~BZ, dst… sampai IA~IV semua terisi/terpakai. Banyak dan panjang sekali bukan? Pernahkah kamu, Kawan?

Aku memaknainya dengan pengertian inilah ujung, inilah akhir suatu periode.

Barang-barang pribadi sudah mulai dikemasi, dirapikan, dan dimasukkan ke dalam kotak kardus. Sehari-hari tidak banyak kelihatannya, tapi setelah dikumpulkan dan disusun, bahkan kotak kardus itupun sangat berat untuk digeser, apalagi diangkat. Biarlah, nanti petugas pengiriman barang yang akan menanganinya. Masih banyak barang yang belum dirapikan. Nanti ada yang masih layak untuk dijual, ada yang akan dihibahkan, dan sebagian mungkin akan berakhir di tempat sampah.

Kepalaku penuh dengan rencana. Semua berseliweran. Berbelit dengan harapan dan juga keraguan.

Kehidupan, bagaimanapun, terus berjalan. Mood atau tidak, gelisah atau kepastian, senang atau sedih, terasa berat atau ringan, berbuah atau meranggas, itu ‘kan perputaran rodanya. Jalani saja, hadapi saja, tulis saja, apapun hasilnya, nikmati saja… Laailahaillallah!

I Will Survive!

Seiring dengan irama aktivitas di pabrik yang makin melambat, jumlah hari kerja menyusut menjadi 4 hari saja dalam satu minggu. Telah hampir sebulan aku selalu memiliki 3 hari penuh di penghujung minggu sebagai hari libur yang bisa dinikmati bersama keluarga dan sahabat. Meski jatah cuti dipotong sebagai gantinya, untuk sekarang bagiku tak masalah karena aku masih memiliki sisa hari cuti yang banyak.

Masalahnya baru akan muncul nanti kalau jatah cuti sudah habis. Bakalan kena potong deh itu gaji! 😦

Oya, karena di atas menyebut soal gaji, akhirnya gaji bulan Januari yang seharusnya sudah dibayarkan akhir bulan lalu, baru kemarin masuk ke rekening. Alhamdulillah akhirnya dibayarkan juga. Untuk gaji berikutnya yang seharusnya tiba 2 minggu lagi, masih berstatus ‘entah’ saat ini. Entah bisa tepat waktu atau entah ditunda lagi…

Bagaimanapun, keputusanku sudah bulat! Krisis ekonomi global yang menghantam dunia elektronik tak akan pulih dalam waktu singkat. Sementara hidup tidaklah berhenti, bukan? So, I’m on my own way!