‘Pulang’

Hari ini ada satu berita duka lagi gue terima dari teman. Salah seorang teman kuliah gue dulu di Unjani Bandung, Alfarius atau biasa kami sapa Yus, meninggal dunia beberapa waktu yang lalu. Kapan persisnya tidak disebutkan. Hanya saja berdasarkan informasi dari Ewink, Yus meninggal karena sakit paru-paru, yang semakin kronis sejak Desember 2005 lalu.

Berarti ini adalah berita duka ke-2 dalam waktu sangat berdekatan mengenai berpulangnya teman-teman lama gue. Sebelumnya sahabat di SMA, Jacky Devino juga meninggal dunia tanggal 28 Januari lalu pukul 21.00, juga di Bandung. Belum lagi kabar bahwa Amonda, juga teman di SMA, mengalami kecelakaan di Jakarta dan sedang dirawat intensif di RS setelah koma dan sekarang mengalami amnesia.

Seperti pepatah Minang, mumbang jatuah kalapo jatuah.
Kalau soal umur, semutlak-mutlaknya rahasia Allah SWT. Panjang singkatnya umur seorang manusia sudah ditentukan, bahkan semenjak sebelum kelahirannya ke dunia. Yang pasti kita harus mempersiapkan diri ketika sewaktu-waktu ‘panggilan pulang’ itu datang, dengan mengisi dan menjalani kehidupan ini dengan amal shaleh, melaksanakan syariat agama, serta menjauhi/tidak melaksanakan hal-hal yang dilarang.

Apakah tulisan ini adalah pengingat yang kubuat untukku sendiri? Ataukah ini satu pertanda? Kembali satu introspeksi, am I ready to ‘go’ ?

ADA Sakit Perut

Si ADA sakit saat gue pulang dari JB Sabtu kemaren. Kata Mama Ani, ia muntah-muntah setiap kali habis makan/minum apa saja sejak sekitar jam 4 sore. Tidak diketahui penyebabnya apa, tapi ia kelihatan pucat dan lemas. Padahal paginya saat ia mengantar gue berangkat, tak ada tanda-tanda ia sakit.

Saat gue sampai di rumah jam 7.30-an malam, dia lagi makan sate ayam. Begitu ngelihat gue datang, ia langsung minta dipeluk dan duduk dipangkuan gue. Badannya terasa hangat. Kami duduk di teras depan sambil menemani ia makan pelan-pelan. Saat makanpun beberapa kali ia mual dan seperti ingin muntah, namun berhasil ditahan. Kami minta ia untuk berhenti dulu makan agar mualnya tak berlanjut. Tapi dasar ADA kalo udah pengen makan, dia terusin aja menghabiskan sate ayamnya itu. Untunglah sampai tidur malamnya ia tak muntah lagi.

Minggu pagi ADA masih kelihatan loyo, mungkin karena ngga’ banyak makanan yang masuk ke perutnya. Gue tahu ia bangun beberapa kali untuk minum air putih malam itu. (Untuk soal bangun malam, ADA sangat mandiri. Hanya sesekali saja ia membangunkan kami untuk pipis ke toilet, kalau selot pintu terkunci atau semua lampu kami matikan. Selain itu, ia berani untuk pergi mengambil minum atau pipis ke toilet sendirian malam-malam. Kami bangga dengan kemandiriannya itu !!)

Mama Ani membuatkan sop ayam campur wortel dan kentang khusus untuknya, dengan nasi hangat yang dihaluskan sebagai sarapan paginya. Ia bisa makan satu mangkok kecil, jauh dari porsi makan hariannya. Itupun siangnya dimuntahkan juga. Mama Ani dengan telaten menyuapkan kembali makanan agar perutnya tidak kosong, membalurkan minyak kayu putih ke sekitar pusernya, meminumkan Paracetamol untuk menurunkan panas dan selalu menemani ADA.

Gue pinjam motor tetangga untuk beliin ADA kelapa muda. Dulu saat ia sakit seperti ini, air kelapa muda cukup mujarab membersihkan perutnya dari bakteri/kotoran yang membuat ia muntah-muntah. Dan benar saja, ngga’ lama setelah menghabiskan satu gelas air kelapa muda, ADA langsung mulas-mulas dan mencret cukup banyak di toilet. Setelah itu, ia kelihatan lebih enakan. Malahan sore itu ia udah mau main keluar rumah, dalam pengawasan gue dan Mama Ani. Dan ia ikut juga nimbrung melihat ke kerumunan orang saat ada motor nyebur ke saluran air (ada yang lagi belajar motor dan pas memutar di jalan situ bukannya pelan-pelan, malahan di-gas sehingga nyemplung 2 meteran ke bawah dua-duanya masuk saluran air!!).

Malamnya ia ikut makan bareng saat Oom Bayu datang, lumayan ceria ia saat ada yang menjenguk. Sampai tidur jam 9-an, ADA ngga’ makan apa-apa lagi. Mungkin karena itulah, pagi-pagi bagun jam 5.30 ia merasakan perutnya sakit dan perih. Karena ia sampai nangis-nangis (ADA sangat jarang menangis, kecuali kalau udah sakit sekali), Mama Ani sampai panik mengajak ke Emergency Rumah Sakit. Tapi gue tahan dengan lebih detail menanya ADA apa yang dirasakannya. Sampai ketika Mama Ani bertanya apakah ia lapar/mau makan, ia menjawab iya. Dan setelah makan itulah, ia bilang perutnya sudah enakan dan ia ingin melanjutkan tidurnya.

Kami cukup lega melihatnya, tapi demi kepastian kondisinya, kami rencanakan untuk tetap membawanya ke dokter pagi tadi. Jadilah akhirnya jam 8.30 pagi tadi kami ke dokter untuk memeriksakan kesehatan ADA meskipun si ADA sendiri udah kelihatan sehat. Kata dokter ADA mengalami kelebihan kerja usus lambung akibat makan yang sering dan banyak. Lucunya, saat disarankan dokter untuk mengurangi porsi makannya, si ADA langsung cemberut. hehehehehe…..

Pulang dari dokter, ADA bilang mau makan spaghetti. Kami ke Pizza Hut di Mega Mall Batam Centre untuk memenuhi keinginan sang buah hati ini, sambil juga belanja kebutuhan dapur di Hypermart. Dengan kesadaran sendiri, ADA tidak menghabiskan spaghetti-nya dan menyerahkan ke Mama Ani untuk dihabiskan. Padahal kami juga udah cukup kenyang dengan paket pizza yang kami pesan. Bahkan 2 piring kecil akhirnya kami bawa pulang karena tidak habis dan sayang untuk ditinggalkan saja.

Alhamdulillah ADA udah sembuh dan kembali ke kondisi seperti biasa. Semoga ia akan tetap sehat dan kuat untuk selanjutnya.

Green Belt – Six Sigma Training

Hari Jum’at ini 17/Feb gue masuk kerja 2nd shift. Ini dimaksudkan agar besok Sabtu bisa masuk kerja pagi-pagi karena harus berangkat mengikuti Green Belt – Six Sigma Training ke Johor Bahru.

Six Sigma Training bagi Jurong HiTech telah dimulai sejak awal Januari 2006 ini. Diadakan setiap akhir minggu (Sabtu atau Minggu) di beberapa lokasi (tergantung group training). Bagi para Black Belters, diadakan di Raffles Marina Resort di Singapore. Sementara untuk Green Belt Group 2 dimana gue berada, diadakan di Hotel Selesa di Johor Bahru, Malaysia. Untuk Green Belt Group 1, sampai saat ini gue ngga’ tahu dimana diadakan. Kemungkinan besar di Singapore karena Group 1 didominasi oleh JHTS staff.

Schedule Group 2 padat sampai akhir Mei 2006. Setiap akhir minggu. Berarti udah ngga’ ada lagi yang namanya hari istirahat. 6 hari kerja di plant dan 1 hari untuk training. Karena itu gue harus pintar-pintar membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga.

Singkatnya, setiap akhir minggu gue harus menyiapkan tas, dokumen, dan tentu saja badan ini agar siap naik ferry selama 1.5 ~ 2 jam dari International Ferry Terminal Batam Centre menuju Stulang Laut Ferry Terminal di Johor Bahru.

Lama Tak Hadir

Banyak peristiwa datang dan pergi silih berganti sejak posting terakhir gue. Banyak banget, sehingga gue ngga’ bisa bilang di sini satu persatu. Dan karena kemalasan juga, ngga’ satupun juga yang sempat gue tulis.

Ah… lewat lagi beberapa episode kehidupan gue tak tercatat.

Semakin banyak hari dijalani, semakin panjang jalan kehidupan terlewati, tetapi semakin pendek dan dekat jarak diri ini ke liang kubur. Apakah aku sudah siap menghadapNya mempertanggungjawabkan semua sisi kehidupan duniawiku?

Tak Bisa Akses

Ah, akhirnya bisa posting lagi di blog ini. Udah lama sekali ngga’ bisa akses, entah kenapa. Padahal aku terus mencoba membuka site ini dari akses internet perusahaan, tapi ngga’ bisa-bisa. Tiap kali mau dibuka, koneksinya lama banget. Meski ditunggu dan muncul tanda udah tersambung, tapi di layarnya tetap saja blank ngga’ ada apa-apa.

Nah sekarang ini udah bisa akses lagi. Ada teman yang ngajarin gimana nembus server perusahaan. Ternyata manjur dan bisa akses ke blog ini. Selama ini ternyata beberapa situs memang diblokir perusahaan, biasalah proteksi kebijakan…..

OK, past is past. Let me write whatever I want to write here. I have lot of things to write actually, but some memories gone already because I can’t post it here on time.

However, I’m going to write in anytime I can access my personal blog.

Fairytales

Maybe we’ll live and learn
Maybe we’ll crash and burn
Maybe you’ll stay
Maybe you”ll leave
Maybe you’ll return
Maybe another fight
Maybe we won’t survive
Maybe we’ll grow we’ll never know
Baby, you and I we’re just ordinary people
Maybe we should take it slow,
We’re just ordinary people
We don’t know which way to go
Cause we’re ordinary people
Maybe we should take it slow..”

-John Legend, Ordinary People