Website FKA ESQ Batam Diluncurkan

Hari ini Website FKA ESQ Batam secara resmi mulai diluncurkan. Aku mendapatkan informasi peluncuran website melalui email dari webmaster-nya sendiri, Kang Didan.

Alhamdulillah website ini ternyata tampil sangat menarik, hidup, interaktif, navigasinya mudah, dan informatif. Meski di sana sini masih perlu perbaikan, namun aku yakin berkat partisipasi dan sumbang saran semua alumni, maka mudah-mudahan website ini bisa menjadi ajang komunikasi bagi para alumni ESQ Batam.

Hidup FKA ESQ Batam!

Advertisements

Senyum di Tangga

Halah, kayak selebriti aja pake diphoto segala!

Pas mau naik ke office lantai 2, dari meja reception si Budi Purba memanggil, “Photo dulu, Pak Ari.” katanya sambil menyiapkan kamera. Kujawab, “Ah, ada-ada aja kamu, Bud. Emangnya buat apa?” sambil tersenyum.

“Klik…” dan pendaran sinar lampu blitz. Jadilah photo ngga’ sengaja ini kemaren. Dan biar ngga’ mubazir, masuk blog aja deh… πŸ™‚

Photo dari Ummi Tuti

Dapat kiriman photo-photo ini dari email Tuti siang tadi:

tuti-dan-keluarga.jpg

tuti-fajar.jpg

Kata Tuti, itu photo waktu Fajar merayakan ulang tahun yang ke-3 tanggal 28 April lalu. Fajar udah gede ya! Terus, Ayah Aang kayaknya agak kurusan gitu deh… πŸ™‚

Dek Fajar harus jadi anak yang sholeh ya, menurut apa kata Ayah dan Ummi, dan ngga’ boleh nakal . Kasihan Ummi tuh, lagi ‘nyiapin’ adik untuk Fajar, ya kan?Terus, dik Fajar jangan banyak makan makanan yang ngga’ sehat untuk kesehatan gigi seperti permen, coklat, atau sejenis Chiki-Chikian gitu. Ntar pada bolong-bolong giginya, jelek ah…

Salam cinta dari Pak Odang, Mak Odang, dan Kak ADA di Batam.Β 
Update Kamis 7/Juni: Dapat kabar dari Mama Miar bahwa Ibu dari Aang meninggal dunia pada hari Selasa 5/Juni. Innalillahi wainnailaihi roji’un. Kami di Batam ikut berbelasungkawa untuk Aang dan keluarga besar di Padang. Mari kita do’akan semoga Rahimahullah mendapatkan tempat yang selayaknya di sisi Allah SWT.

Paspor Baru

Hari ini passport-ku yang baru sudah selesai. Cukup cepat: 5 hari saja! Maklum, lewat biro jasa dan bayarnya lebih mahal dari biaya pengurusan paspor lewat jalur biasa. Kalau paspor jalur biasa butuh waktu sekitar 20 hari sampai selesai dengan biaya Rp. 290 ribu, maka lewat jalur biro jasa ini hanya 5 hari tapi dengan biaya Rp. 650 ribu!

Aku memperbaharui pasporku karena meski baru akan habis masa berlakunya nanti di Oktober 2008, paspor yang lama sudah penuh semua halamannya dengan stempel imigrasi. Tidak ada tempat tersisa untuk stempel baru, jadi jika ada perjalanan ke luar negeri aku akan terpaksa berurusan dengan pihak imigrasi, yang bisa-bisa menolakku masuk ke negaranya. Meski tidak ada masalah, tapi pengalaman ini cukup mengkhawatirkan buatku waktu itu.

Selain untuk alasan itu, aku perlu paspor baru untuk mengurus ‘calling visa’ bekerja di Johor Bahru-Malaysia, yang mensyaratkan masa pakai paspor minimal masih tersisa untuk 2 tahun ke depan (sesuai dengan masa kontrak kerjaku nanti). Dan karena calling visa itu harus diurus segera, maka dari itu aku menggunakan biro jasa untuk mengurusnya. Kalau tidak, tentu aku lebih memilih mengurus pembaharuan paspor sendiri seperti sebelumnya (paspor baru ini adalah pasporku yang ke-3 sejak punya paspor pertama kali tahun 1998).

Novel Di Atas Sajadah Cinta

Nampaknya aku sudah menjadi salah seorang dari penggemar karya-karya novel sastra Islami dari Habiburrahman El Shirazy. Novel-novel karyanya benar-benar novel pembangun jiwa, sebutan yang diberikan ketika ia meluncurkan novel Ayat-Ayat Cinta.

2 karya lain dari Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy) Di Atas Sajadah Cinta dan Pudarnya Pesona Cleopatra yang beberapa bulan lalu pernah kubaca, kemaren sore aku baca ulang. Jika dulu aku membacanya biasa-biasa saja, maka baca ulang kali ini memberikan kesan yang mendalam di hati, terutama pada Di Atas Sajadah Cinta. Ada pelajaran dan hikmah yang kudapat.

Kalimat dan episode paling menyentuh dari mini novel Di Atas Sajadah Cinta buatku adalah ketika tokoh Zahid menangis terlambat bangun untuk shalat tahajjud dan mengucapkan do’a: β€œIlahi, jangan kau gantikan bidadariku di syurga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah, maka berilah kekuatan.”

Sungguh gambaran rasa cinta yang luar biasa kepada Allah SWT. Zahid tidak ingin setetes rasa cinta dunia menghalanginya mendapatkan surga akhirat. Bayang-bayang rasa cinta dan rindu serta tidak ingin kehilangan Afirah bercampur dengan rasa cinta dan takut adzab Allah SWT, membuatnya jatuh pingsan dan mengakibatkan ia terlambat bangun shalat tahajjud.

Aku tertonjok sangat. Aku belum sampai pada tingkat kecintaan yang begitu tinggi dan agung. Aku tidak menyesali tidak melaksanakan shalat tahajjud, jika terbangun aku akan shalat, tapi jika baru terbangun di saat subuh, aku merasa tidak apa-apa. Padahal shalat sunat tahajjud bernilai sangat tinggi dan merupakan puncak kedekatan seorang hamba dengan penciptanya.

Aku sudah coba melecut diri untuk lebih rajin shalat tahajjud, antara lain tidak tidur terlalu malam, selalu mengingatkan diri menjelang tidur agar bangun lebih cepat, meminta istri membangunkanku jika ia terbangun tengah malam, sampai menyalakan alarm. Namun kadang-kadang usaha itu tidak berhasil juga. Berat kantuk di pelupuk mata jauh menggodaku untuk lebih memilih tidur daripada menghadap Allah SWT. Rasa malas menggayuti dan menakut-nakuti diriku akan dinginnya air wudhu. Aku lebih sering kalah daripada menang menghadapi setan-setan itu. 😦

Aku ingin seperti Zahid yang memiliki cinta Ilahi sangat besar. Aku ingin lebih dekat dengan Allah SWT, antara lain melalui shalat tahajjud. Akan kucoba terus…

PS: Untuk yang ingin membaca Di Atas Sajadah Cinta secara online, silakan ke tautan ini.

ADA Sakit Campak

Pagi tadi saat memandikan ADA, aku melihat bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya. Awalnya kukira itu biduran, tapi ketika kutanya ADA bilang tidak gatal. Meski dengan sedikit khawatir, ADA tetap kuantar berangkat sekolah.
Jam 10.30 pagi tadi Mama Ani menelpon dari sekolah mengatakan bahwa bintik-bintik merah di badan ADA semakin jelas dan kata Mbak Rosa (tantenya Akmam, teman sekelas ADA) itu mungkin campak karena sewaktu Akmam sakit campak beberapa waktu lalu, bintik merahnya juga seperti itu. Mama Ani kuminta segera membatalkan les Sempoa yang akan diikuti ADA sepulang dari sekolah TK dan agar langsung membawa ADA ke klinik Primadati Panbil.

Menurut dr. Delvi yang sudah menangani ADA cukup lama, bintik-bintik merah di badan ADA memang Campak. ADA diberi obat untuk diminum dan bedak tabur. Dr. Delvi juga menyampaikan bahwa campak ini bisa menyebabkan suhu tubuh ADA naik, bintik merah akan bertambah banyak keluar, dan ADA disarankan untuk beristirahat dulu beberapa hari di rumah.

Beberapa teman sekelas ADA di sekolah sebelumnya juga terkena campak, seperti Akmam, Cindy, dan lain-lainnya. Berkemungkinan ADA tertular dari salah seorang temannya itu.

Update Senin 04/Juni: Alhamdulillah ADA sudah sembuh dan mulai masuk sekolah kembali hari ini.

Di Belakang Truk Sampah

Pernah mencium aroma dari truk sampah yang lewat di depan rumah atau saat berpapasan di jalan? Mungkin saat mencium baunya kita akan langsung menutup hidung, menahan nafas, menaikkan kaca mobil, atau menutup pintu dan jendela rumah, agar bau busuk yang menyengat dari kumpulan sampah-sampah itu tidak terhirup lama-lama. Bagi sebagian orang, bau itu bisa membuatnya menyumpah-nyumpah dan bagi sebagian lagi akan menyebabkan muntah.

Tapi pernahkah terfikir oleh kita tentang bagaimana para petugas sampah (dan juga para pemulung) itu ‘berteman’ dengan bau dan limbah-limbah buangan tersebut? Bukankah mereka juga punya hidung untuk membaui semua itu? Bukankah mereka juga punya rasa jijik? Bagaimana mereka beradaptasi?

Itulah yang tadi terfikir olehku ketika berada persis di belakang sebuah truk sampah di lampu merah Simpang Kabil saat kembali dari menjemput Mama Ani dan ADA berenang di Sukajadi. Sebenarnya aku tidak sengaja untuk mengarahkan motor ke belakang truk sampah itu, karena yang kulihat di depan hanyalah sebuah truk tanpa melihat apa bawaannya. Apalagi jalur itu memang jalur kosong (jalur kanan bagi kendaraan yang akan ke Muka Kuning sudah penuh), sehingga aku mengarahkan motor ke situ. Aku baru menyadari itu sebuah truk sampah saat Mama Ani mengomel “Kok di belakang truk sampah sih, Pa? Bau nih!!”.

Udah kepalang di situ dan tak bisa mundur, aku menjawab omelan Mama Ani dengan guyonan “Kapan lagi Ma, mencium bau sampah satu truk begini? Ngga’ tiap hari lho. Nikmati aja ya…” kataku sambil senyum-senyum.

Mama Ani menjawab sengit “Papa ini aneh-aneh aja. Bau sampah kok dinikmati!?” katanya sambil menutup hidung.

Aku tertawa dan saat itulah terfikir pertanyaan-pertanyaan di atas tadi. Ya, bukankah para petugas itu ‘menikmati’ aroma sampah ini setiap hari? Itulah ladang sumber nafkah halal mereka mencari kehidupan untuk keluarganya. Sebagian dari mereka bahkan mungkin telah bekerja seperti itu puluhan tahun. Pernahkah mereka mengeluh? Pernahkah mereka menyesali pekerjaan itu? Pernahkah mereka kesal dengan sikap pongah kita yang meremehkan pekerjaan mereka? Atau marah karena sebagian dari kita juga jijik kepada mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku sangat mensyukuri pekerjaanku yang ‘bersih’. Aku tidak harus membaui aroma busuk sampah, karena aku bekerja dalam ruangan wangi ber-AC. Aku tidak harus bergelut dengan limbah-limbah kotor, karena aku duduk di belakang meja kerja yang dilengkapi dengan perangkat komputer, lemari file, kursi-kursi, folder-folder, rak surat, pesawat telepon, bahkan sepasang speaker untuk mendengarkan musik dari komputerku. Aku tidak harus bekerja banting tulang berpeluh-peluh di bawah terik sinar matahari, karena aku bekerja dalam ruangan yang lampu dan AC-nya menyala 24 jam. Aku tidak harus….

Perbandingan itu bisa terus berlanjut panjang. Tapi buatku kejadian ‘salah ambil jalan’ di belakang truk sampah tadi bukanlah hal yang perlu disesali. Aku dapat mengambil pelajaran dari aroma ‘sedap’ sampah-sampah itu, bahkan menikmatinya! πŸ™‚

Untuk para petugas sampah dan kebersihan dimana pun berada, salam hormat dan terima kasih untukmu!