Dikeroyok Laron

Aku merundukkan kepala. Pintu goa ini cukup rendah. Senter kuarahkan ke depan dan ke atas. Beberapa ekor kelelawar nampak terganggu oleh cahayanya. Sebagian mulai terbang turun dan berputar-putar.

Gelap dan licin sekali. Aku harus ekstra hati-hati melangkah. Semakin masuk dan semakin berbahaya di dalam goa. Kelelawar-kelelawar itu bertambah banyak berputar-putar dalam jarak yang dekat denganku. Sebagian mulai menabrak tubuh. Senut-senut rasanya.

Ahhh… aku terpeleset! Senter terlempar dan jatuh di dekat kaki. Cahayanya menyorot ke arah kepalaku, menyilaukan. Teriakan kerasku dan sorot cahaya lampu semakin membuat kelalawar-kelelawar itu beringas. Aku yang dalam posisi terduduk mereka kerubuti. Menggigit lenganku. Menabrak kening. Menyerang telinga. Hinggap di badan. Semakin banyak dan banyak. Aku kewalahan. Dikeroyok tanpa henti.

Tak ada pertolongan. Suara teriakan tolong tak dapat keluar dari mulutku. Susah sekali berteriak. Aku juga tidak dapat membuka mata. Semuanya gelap. Hanya rasa sakit dan sakit yang terasa. Ratusan kelelawar mengerubungiku!

Tiba-tiba aku tersentak. Suara komentator pertandingan bola di televisi. Ahhh… aku tersadar, ternyata hanya kelelawar di dalam mimpi! Mataku berkeriap mencoba membuka. Mencoba meraih kesadaran. Rasa dikerubungi masih ada. Masih terasa ditabrak-tabrak makhluk kecil. Dan terasa nyata.

Saat sebagian kelopak mata membuka, aku kaget bukan kepalang! Hah, apa ini yang berterbangan? Banyak sekali, ribuan jumlahnya! Berputar-putar di seluruh penjuru ruang TV. Cepat-cepat aku belalakan kedua mataku. Astaghfirullah… ribuan laron terbang memenuhi ruangan. Paling banyak di sekitar lampu dan di depan TV. Ratusan yang sudah patah sayapnya tergeletak di lantai. Penuh, penuh ruangan ini oleh laron! Ternyata yang mengerubungi, menabraki dan merayapiku bukanlah kelelawar tetapi makhluk kecil ini!

Masih pukul 2.30 pagi. Otakku bekerja lambat. Yang terpikir hanya keinginan untuk pindah tidur ke kamar. Urusan laron nanti saja. Kumatikan lampu dan TV lalu naik ke kamar di lantai 2. Di anak tangga kulihat serpihan sayap-sayap bertebaran. Banyak sekali. Di lantai dapur juga. Untunglah pintu kamarku tertutup dan lampunya tidak dinyalakan, sehingga laron-laron itu tidak masuk ke dalam kamar.

Pagi setelah shalat Subuh aku menyapu. Membersihkan semua laron dan sayap-sayapnya yang berserakan di seluruh ruangan. Dapur, ruang TV, ruang tengah, ruang tamu dan sampai ke teras. Tak terhitung banyaknya. Juga yang nyangkut di pintu angin di atas jendela, tempat mereka menerobos masuk. Entah darimana datangnya laron-laron itu. Yang jelas sepertinya harus segera menutup lubang angin dengan kawat tipis untuk mencegah makhluk-makhluk kecil masuk. Agar tidur bisa lelap dan tak diganggu mimpi dikerubuti hewan lagi.

Advertisements

Apa Saja Yang Baru?

Selain pekerjaan baru, kota yang baru, suasana yang baru, apalagi yang baru padaku saat ini? Nah ini ada beberapa hal yang baru akhir-akhir ini:

Gelang & Kartu1. Kartu yellow belt bintang 1 ESQ, gelang dukungan terhadap pendirian Menara 165 dan 2 kaos polo merchandise ESQ.

Diperoleh saat menghadiri training ESQ Profesional angkatan 13 Samarinda di Swissbel Hotel Borneo akhir minggu lalu.

2. Rekening tabungan di bank Mandiri dan pembuatan kartu ATM bank BTN.

Lantaran kantor membayar gaji melalui Mandiri, akhirnya aku buka rekening lagi di bank Mandiri berhubung nomor rekening yang dulu ternyata sudah tidak aktif lagi. Sementara untuk kartu ATM BTN ini baru sempat dibuatkan sekarang padahal sudah sejak 2004 memiliki rekening di sana.

3. Pindah dari tempat kost ke mess perusahaan

Phone4. Koneksi internet di handphone.

Akhirnya sempat juga mampir ke grapari Telkomsel untuk mengaktifkannya. Great, now the world is on my hand! *halah, rada berlebihan kayaknya ini* 🙂

5. Keranjingan game online Mafia Wars

Sebagai akibat kecanduan Facebook, jadi keranjingan main game ini nih di sekarang 🙂

6. Koleksi bacaan baru

A Child Called It adalah buku lama (sepuluh tahun?) yang dulu sempat aku incar-incar tapi kemudian tak terbeli dan terlupakan dan baru sekarang kelihatan lagi, Komik Lagak Jakarta edisi koleksi 1 dan buku Reporter and The City yang berkisah tentang seorang reporter TV yang kelihatannya seru (belum dibaca, masih antri).

Reporter and The City A Child Called It Lagak Jakarta edisi koleksi 1

Apalagi ya? Hmm… nanti kalau ada, akan di-update pada postingan selanjutnya. Untuk sementara cukup ini dulu saja.

Rumah Impian Di Leisure Farm Resort

bayou Bak seorang juragan sukses dengan pundi-pundi penuh uang, aku ke Leisure Farm Resort pada akhir minggu lalu. Setelah lebih dari 1.5 tahun di Gelang Patah, baru kali ini punya kesempatan untuk berkunjung ke sana. Setiap kali melintasi highway 2nd Link menuju Singapore, kawasan ini menarik perhatianku karena pesona padang rumput hijaunya yang luas, rumah villa yang mempesona dan beberapa fasilitas yang terlihat dari jalan. Karena tidak memiliki kendaraan sendiri untuk ke sana, maka kesempatan saat kembali dari membeli ikan segar di Kampung Ujung Pendas (sebuah kampung nelayan, berbatasan selat sempit saja dengan Singapore) bersama Sashi, aku memintanya untuk ke Leisure Farm Resort. Kebetulan ketika berangkat ke Pendas, Sashi juga tertarik melihat sebuah spanduk promosi di depan pintu gerbang, sehingga jadilah kami masuk ke dalam kawasan perumahan eksklusif ini.

Kesan pertama, privasi dan keamanan penghuni sangat terjaga. Petugas keamanan adalah pasukan Gurkha dari Nepal. Pos penjagaannya besar, beberapa orang penjaga terlihat di dalamnya. Dari luar aku melihat pos ini dilengkapi dengan komputer (yang menunjukkan beberapa gambar hidup dari kamera pengintai), beberapa peralatan keamanan serta sepeda-sepeda yang terparkir rapi (kemudian aku ketahui bahwa mereka melakukan ronda keliling kawasan setiap 20 menit dengan mengayuh sepeda-sepeda ini). Meski riwayat keberanian pasukan Gurkha sangat terkenal, namun pasukan yang bekerja di kawasan Leisure Farm melayani tamu atau pengunjung dengan sangat baik, ramah serta penuh senyum. Kesan angker tak terlihat pada mereka. Yang jelas, mereka nampak sangat profesional.

Memasuki kawasan dalam, kesan berikutnya yang muncul adalah rapi, sejuk, bersih, luas dan terawat. Jalannya ada yang diaspal dan di beberapa bagian menggunakan conblock, keseluruhannya dibuat 2 jalur yang dipisahkan oleh taman bunga di tengah-tengah. Di tepi jalan beraneka tumbuhan dan bunga berjejer rapi. Aku sempat melihat petugas keliling menyirami tanaman dengan selang air besar dari truk air. Porresia Golf and Country Club di sisi kanan adalah pemandangan indah lainnya. Demikian juga kontur tanah dan jajaran rumah-rumah mewah di sisi lainnya, sungguh memikat mata yang memandang.

drimbunan

Setelah berkeliling di beberapa areal (menurut website di atas seluas 1765 hektar), Sashi mengajak singgah ke kantor pemasarannya. Kantor itu dinamai D’Rimbunan.

serai1

Kami bertemu dengan Samantha Ann, seorang sales executive di sana. Dengan panjang lebar ia menjelaskan banyak hal kepada kami, terutama sekali syarat-syarat kepemilikan rumah dan fasilitas yang tersedia di dalam resort. Ia menunjukkan maket-maket kawasan dan rumah yang dipajang di dalam sebuah ruangan khusus. Bahkan kami dibawanya melihat rumah contoh untuk satu kawasan tema Bayou Water Village yang dinamai Serai.

Cantik, cantik sekali rumahnya! Bagi Leisure Farm, ia adalah tipe rumah paling kecil, namun ia terasa ‘besar’ dan fungsional. Rumahnya eksklusif sekaligus terbuka secara alami. Berada dalam lingkungan yang komunal namun mewah. Secara menyeluruh, barangkali inilah rumah impian bagi sebuah keluarga kecil dengan satu dua orang anak yang menginginkan ketenangan dan kedamaian.

Dan seperti impian, terkadang ia begitu sulit dijangkau. Rumah kecil bertingkat 2 dengan 4 kamar tidur itu dihargai lebih dari RM500 ribu. Silakan dikonversi ke Rupiah jika RM1=Rp3300 saat ini! Belum lagi nantinya ada biaya bulanan untuk perawatan sebesar RM440, tagihan listrik dan air, keanggotaan klub dan sebagainya. Dengan berbagai fasilitas di dalam resort (golf course, klub berkuda, taman agrikultur, fasilitas olahraga dan rekreasi, arena camping, danau, serta banyak lagi rencana pembangunan ke depan), sepertinya memang harus menjadi seorang juragan kaya raya untuk menikmati itu semua. Untuk saat ini, rumah di Leisure Farm cukup disimpan sebagai angan-angan saja.

Catatan: photo diunduh dari website resmi Leisure Farm Resort.

Mengepel? ADA Bisa!

Ma, ADA ngepel aja ya…” kata ADA turun dari kursi. Ide bagus, pikirku, daripada sibuk aja menempel persis di belakangku dan bertanya, melihat, mengintip, bergelayut, memijat pundak, pindah-pindah kursi, pegang-pegang udang, bersandar di kulkas, turun ke lantai dan mendekat ke wastafel tempat aku mencuci daging, sotong, udang, dan ayam hasil belanja ke pasar tani Minggu pagi. Padahal sejak memulai kegiatan membantu Mama Ani di dapur, ADA juga sudah dialihkan perhatiannya dengan menyalakan TV (ada Dora Emon di RCTI), ngemil snack, dan makan es krim yang dibeli kemarin sorenya. Niatnya dia mungkin ingin membantu, tapi jadinya malah bikin repot. Yang bajunya dijadiin lap setelah pegang bawanglah, yang ngejatuhin sotonglah, yang inilah, itulah. Lama-lama risih juga mendengarnya mulutnya dan mulut Mama Ani ‘cececowet’ terus, jadi ketika ia menyampaikan ide di atas kami setuju saja.

Iya, boleh. Itu ambil pel-pelannya di samping kulkas. Embernya di kamar mandi ya” jawab Mama Ani. “Oke Ma!” jawab ADA sigap melompat turun dari kursinya. Diambilnya mop alat pel di samping kulkas dan bergegas ke kamar mandi. Aku fikir, “Wah hebat juga ADA, sudah bisa bantu Mamanya bersihin rumah!” Mungkin udah sering bantu-bantu sebelumnya.

Airnya jangan penuh-penuh ya, ADA!” sambil mengupas bawang Mama Ani memberikan instruksi. “Ya, Ma” jawab ADA dari kamar mandi. “Peras dulu mop-nya yang kuat, ntar malah becek semua!” lagi satu instruksi dari dapur. “OK, Ma!” dijawab lagi dengan pede-nya. “Matiin krannya. Embernya biar di situ saja, ADA yang keluar masuk cuci mop!” instruksi baru lagi. “Iya Ma.” terdengar jawabannya. “Udah dibasahin belum mop-nya?” pertanyaan untuk memastikan, yang dijawab, “Iya, ini sudah mulai” terdengar suara-suara mop dan tongkatnya terbentur-bentur.

Emangnya ADA sudah bisa ngepel, Ma?” kuputar kran mencuci tangan setelah potongan terakhir daging selesai dibersihkan. Saat menegakkan badan, ughhh… punggung terasa sakit karena membungkuk cukup lama membersihkan semua bahan makanan tadi. Otot yang tadinya tertarik melengkung kencang, kembali mengendur ke posisinya melancarkan aliran darah. Jari-jari tanganku tampak pucat dan berkerut kedinginan terendam air. Perlu istirahat sebentar sebelum meneruskan kegiatan yang lain. “Belum sih, tapi kemarin dia ada lihat Mama ngepel sekali” jawab Mama Ani.

Gubraks!!! Apa jadinya hasil mengepel anakku yang cantik riang gembira tralala lala penuh pesona tiada tara itu???

Lantai kamar utama becek, percikan air di dinding, seprai yang terjuntai ke lantai ikutan basah, tas tangan Mama Ani (kebetulan tergeletak di lantai, belum diletakkan di meja kecil samping tempat tidur) seperti kena hantam sesuatu (jelas mop pel!), rambut-rambut rontok nampak dimana-mana (karena lantai tidak disapu dahulu sebelum di-pel), keset kamar mandi ikutan lembab (entah mop basah yang diparkir atau kaki ADA yang basah turun naik di situ), celana jeans jatuh di lantai (sebelumnya digantung di belakang pintu, kemungkinan besar kesenggol tongkat pel), satu botol lotion juga ada di lantai (pasti kesenggol juga!)….

Dan saat aku melihat itu, “Udah Pa, Papa yang terusin! Capek nih, ADA mau baca aja!

Maksud hati hendak istirahat ngelurusin badan sejenak, malah dikasih kerjaan baru! Bukannya membuat rumah jadi bersih, malah nambah-nambahin kerjaan! Lebih kerennya lagi, kekacauan hebat yang ditimbulkan oleh ide cemerlang sesaatnya itu ditinggalkan dengan begitu santai. ADA masuk ke kamarnya, menyalakan AC, ambil buku latihan dan mulai asyik menulis sambil tiduran. Oh perfect!

Siapa lagi yang harus membereskan kekacauan yang telah terjadi kalau bukan Papanya? Tapi pinggangku??? Grrrr…!!!

Lift Aneh – Part 2

Hayyahh…. terperangkap di lift lagi! Pagi-pagi mau berangkat kerja, bareng pak Chua, kebawa naik ke lantai 15, untungnya ngga’ begitu lama, selamat tak ada kejadian apa-apa.

Tapi blackout di dalam saat lampu mati sekitar 15 detik benar-benar pekat. Pak Chua yang hanya sejangkauan tangan tak nampak oleh mataku. Guncangan saat awal kejadian di lantai 3 tak seberapa, tapi saat lift mendadak naik ke lantai 15, berhenti dan berguncang di sana cukup bikin keder. Kebayang kalo sesuatu terjadi dan kotak besi itu terjun bebas ke bawah…

Bagusnya alarm berfungsi dengan baik saat ditekan. Suaranya kencang dan terdengar di seluruh lantai di blok A itu. Petugas keamanan yang sedang berjaga bertindak cepat memberi pertolongan. Ada 2 petugas yang naik ke lantai 15 membantu kami berdua keluar setelah pintu lift dibuka paksa. Posisi lift tidak rata dengan lantai 15, lebih tinggi sekitar 50 cm sehingga kami berdua harus melompat keluar. Bersama mereka kami turun dengan lift sebelah menuju lantai dasar dengan aman dan selamat.

Aku tidak panik atau khawatir, mungkin karena pengalaman sebelumnya. Apalagi sinyal Maxis dalam lift pada handphone kulihat cukup kuat, sehingga aku bisa menghubungi dan dihubungi oleh Mama Ani dan teman-teman yang sudah menunggu di dalam mobil van jemputan. Biasanya kalau di dalam lift ini sinyalnya lemah sekali, pembicaraan sering terputus jika masuk ke dalamnya. Inilah yang juga membantu cepatnya pertolongan datang (seorang teman memberitahu ke petugas di pos jaga), jadi aku dan pak Chua tidak lama-lama terperangkap di dalam.

Harus diusulkan kegiatan maintenance lift yang lebih sering nih ke pihak manajemen apartemen. Agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi.

Cerita (Agak) Seram

2 hari menjelang pulang ke Batam, “Pa, lotion Ponds-ku yang baru itu hilang! Rexona-nya juga. Apa Papa sembunyiin ya?” Mama Ani melapor sambil mencurigai. “Ah engga’ lah! Emangnya Papa udah genit pakai lotion segala? Coba tanya ADA, siapa tahu dia yang simpan?” jawabku sambil sedikit bercanda. Saat ADA ditanya dan ternyata dia juga tidak tahu menahu, jadilah ini cerita kehilangan pertama.

2 hari kemudian, di kapal ferry saat menyeberang dari Harbour Front, Singapore ke Batam. “Pa, tadi mandi pakai sabun yang mana?” Mama Ani bertanya. “Sabun Lux padat. Aku tadi ‘kan mandi di kamar mandi satunya. Kenapa?” jawabku sambil balik bertanya. “Tadi aku cari di kamar mandi depan, sabun Lux yang kupakai mandi tadi malam tidak ada. Akhirnya aku mandi pakai Biore cair. Kemana perginya ya?“. Aku menggeleng tidak tahu. Dan itu menjadi cerita kehilangan kedua.

2 hari setelah kembali (Selasa) ke Johor. “Papa, ada sesuatu yang ngga’ beres nih! Masa’ sekarang kalung assesori Mama juga hilang?” dengan sengit dan nafas memburu. Aku ingat terakhir ADA mematut-matut diri di depan kaca dengan kalung itu, “Coba panggil ADA. Terakhir Papa lihat dia yang pakai, terus Papa suruh lepasin biar Mama ngga’ marah kalo tiba-tiba rusak” saranku. “Engga’ Pa! Hari itu kan langsung ADA letakkan di meja rias Mama” ADA muncul dengan pembelaan diri. “Lha, terus siapa yang ambil kalung Mama itu?” tanya Mama Ani bingung. Itu cerita kehilangan yang ketiga.

Sambil bercanda aku bilangin bahwa siapa tahu diantara ADA atau Mama Ani tidur ngelindur lalu secara tak sadar membuang/menyembunyikan barang-barang itu. Karuan saja aku diprotes menuduh sembarangan oleh kedua jelitaku itu. 🙂

Aku menanyai Mama Ani siapa-siapa yang bertamu ke rumah beberapa hari seputar kejadian. Apa ada orang mencurigakan yang nampak. Apa pernah teralis dan pintu depan dibiarkan tidak terkunci. Apa pernah meletakkan barang di tepi jendela. Dan aku juga memikirkan kemungkinan duplikat kunci dimiliki orang lain serta berbagai kemungkinan lain. Tapi semua itu tidak memberikan jawaban, malahan menimbulkan komplikasi ke pertanyaan-pertanyaan lain yang lebih rumit. Misteri hilangnya barang-barang itu tak menemukan jawabannya. Sebagai orang yang beriman dan percaya bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah SWT, aku berdo’a semoga kehilangan barang tersebut tidak terjadi lagi. Salah satu yang kulakukan adalah dengan membacakan Ayat Kursi di seluruh area rumah.

Sabtu akhir minggu lalu, sebuah SMS dari Mama Ani masuk, “Pa, telpon sekarang! Penting!” begitu bunyinya. Aku sedang dalam meeting operasional pagi itu, tapi karena pesannya penting (dan ngga’ biasanya seperti itu) maka aku keluar dari meeting untuk menelpon. Mama Ani kemudian dengan bersemangat bercerita bahwa barang-barang yang hilang sudah ditemukan.

Pagi itu saking penasarannya dengan kehilangan-kehilangan yang terjadi, Mama Ani menelusuri tepi-tepi bangunan apartemen blok A untuk mencari-cari. Awalnya ia menemukan pecahan wadah bekas Rexona di tempat parkir motor di samping bangunan. Kemudian ia ternampak ikat rambut ADA di halaman rumah lantai satu yang berada sejajar di bawah rumah kami. Lalu ia melihat bahwa di teras rumah lantai dua kemungkinan juga ada barang di sana. Ternyata benar! Banyak barang-barang kami ditemukan disana, bahkan yang tidak kami ketahui ketiadaanya di rumah. Setelah dikumpulkan, maka inilah beberapa barang yang dijumpai: beberapa ikat rambut, pulpen, gelang assesori, kalung assesori, pulpen tip-ex, tang (!), penghapus, lem, kalender meja dan handphone lama Mama Ani! Gemparlah kami dan orang-orang sekitar yang kami ceritakan mengenai asal-usul penemuan barang-barang itu.

Tidak diketahui siapa yang membuang barang-barang itu dari rumah kami di lantai empat. Tidak diketahui kapan barang-barang tersebut mulai raib. Tidak diketahui untuk apa alasan barang-barang itu dibuang. Tidak jelas ini dan itu. Maka mulailah muncul ide-ide supranatural, yang makin lama makin menyeramkan. Sampai kemudian ada yang menyarankan untuk melakukan pengusiran makhluk halus yang siapa tahu menghuni rumah kami. Aku awalnya skeptis, namun setelah dipikir-pikir, something must be done to clear away the doubts.

Singkat cerita, Eko (teknisi Maintenance apartemen) mengajak seseorang yang paham dunia itu ke rumah untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, Sabtu sore itu juga. Dan inilah kata Bang Hussin (yang tak ingin disebut dukun, paranormal, dsb itu) setelah ‘pertarungan, pertengkaran dan pengusiran’ dilakukan: ada makhluk halus yang menjadi penunggu tas dan barang-barang yang ditinggalkan Ina. Makhluk itu marah pada Mama Ani karena Mama Ani pernah mengganggu barang-barang Ina. Jadi ia membalas dengan membuangi barang-barang Mama Ani.

Siapa itu Ina? Ia adalah penjaga toko di kantin apartemen yang kami bantu tampung di rumah kami setelah majikannya tak membayarinya lagi biaya transport dari penginapannya yang lama. Demi menghemat biaya, ia menyewa satu kamar di rumah kami yang kosong tak terpakai. Hanya sebentar ia tinggal bersama kami, tak sampai 2 minggu. Tanpa pemberitahuan dini, tiba-tiba toko yang dijaganya dijual dan ia harus ikut majikannya segera ke tempat yang baru. Itulah mengapa ia tak sempat mengemasi keseluruhan barang-barangnya. Satu tas dan beberapa pernak perniknya tertinggal di rumah kami.

Lalu untuk apa Mama Ani ‘mengganggu’ barang-barang itu? Untuk mencari alamat atau no telp Ina yang bisa dihubungi, agar ia mengambil kembali barang-barangnya. Karena semua alamat dan no telp yang ada tidak dapat dihubungi, makanya Mama Ani mencari-cari pada barang-barang Ina yang tertinggal. Tak dinyana, malah ada ‘penghuninya’, merasa terganggu dan balas dendam!

Sampai tulisan ini aku tulis, Alhamdulillah tidak ada gangguan barang hilang lagi. Ini hari ketiga setelah ‘pengusiran’ dilakukan, batas waktu dimana aku sudah boleh membuang ‘jeruk nipis’ senjata pertempuran dengan makhluk halus itu ke tempat sampah. Bang Hussin berpesan untuk tidak menyentuh jeruk nipis itu dengan tangan saat membuangnya dan ia berjanji akan kembali dalam beberapa hari untuk memastikan sang makhluk tidak kembali lagi.

Update 05/Sept: Eko bercerita bahwa aliran air ke apartemen blok C mengalami gangguan kemarin. Saat Eko memeriksa ruang kontrol, ternyata kran air yang mengarah ke blok C dalam posisi terkunci. Satu-satunya orang yang punya kunci ke ruang kontrol instrumen air (dimana barang-barang Ina sekarang disimpan) adalah Eko. Apakah makhluk halus itu yang kembali beraksi? Wallahu’alam…

Rumah Kemuning

Setelah satu tahun meninggalkan Batam dan kami tidak lagi menghuni rumah di Bukit Kemuning, mungkin ada yang bertanya-tanya bagaimana dengan rumah tersebut, kondisi atau statusnya sekarang. Serta mungkin juga cukup heran dengan tingginya frekwensi kepulanganku (dan atau keluarga) ke Batam dikaitkan dengan perihal kebutuhan akomodasi.

Secara resminya rumah tersebut kami sewakan pada pasangan muda Parno & Lastri. Mereka membayar sewa rumah, membayar tagihan listrik air, membayar pungutan RT/RW/sampah/keamanan, dan membiayai perbaikan-perbaikan ringan yang diperlukan jika terjadi. Tentunya perawatan rumah berikut keamanan dan kebersihannya menjadi tanggung jawab mereka sepenuhnya. Yang menjadi perjanjian khusus dengan mereka adalah meski yang disewakan adalah satu rumah tetapi kamar tidur utama masih menjadi milik kami. Ini dimaksudkan agar kapan saja aku (dan atau kami) pulang ke Batam dan perlu menginap, maka selalu ada tempat bernaung yang bisa dituju. Tidak perlu menyewa hotel atau menumpang di tempat saudara/teman. Sebagai imbal baliknya, mereka diperbolehkan menggunakan peralatan rumah tangga yang kami tinggalkan seperti kulkas, mesin cuci, rak piring sendok garpu, lemari bahkan sampai ke antena TV. Mungkin terdengar tidak biasa tapi seperti itulah perjanjiannya.

Jika dihitung-hitung, sewa rumah (berikut perabotan) yang kami bebankan pada mereka jelaslah sangat sangat murah untuk ukuran Batam. Tapi bukan uang yang aku dan Mama Ani lihat di sana. Keterawatan dan keamanan rumahlah yang menjadi pertimbangan utama. Diikuti oleh faktor membantu orang yang membutuhkan. Dan jika melihat pada situasi dan kondisi sekarang, rasanya tidak ada yang perlu disesali. Sebaliknya malah justru rasa senang yang ada di hati, which is actually priceless.

Saat ke Batam akhir minggu lalu, aku sempat mengambil bebrapa photo rumah tampak depan. Silakan klik photo untuk melihat lebih jelas.