Aidil Adha 1428H di Gelang Patah

Kamis pagi (untuk hari kerja Rabu) aku pulang lebih awal dari pabrik. Jam 6 teng aku sudah di pintu keluar menunggu van yang akan mengantar pulang ke apartemen. Ya, tentunya karena hari Kamis 20/Dec 2007 adalah bertepatan dengan 10 Dzulhijjah Hari Raya Aidil Adha 1428H, jadi aku pulang awal untuk siap-siap Shalat ‘Ied pagi harinya.

Mama Ani tidak bisa ikut, sedang kurang sehat. ADA juga tidak ikut, belum bangun dan tak bisa dibangunkan. Jadilah aku sendiri yang pergi ke surau Taman Nusa Perintis untuk shalat ‘Ied. Saat sampai di surau, sudah cukup banyak jamaah yang datang. Sama seperti saat Aidil Fitri 2 bulan lalu, wajah-wajah yang hadir nampak bisa dibedakan suku bangsanya. Ada yang dari Bangladesh, India, Indonesia dan tentu saja Malaysia sendiri. Namun semua adalah satu keyakinan, satu ukhuwah dan satu kebahagiaan dalam Islam.

Ketika Ustadz menyampaikan khutbahnya, hujan mulai turun. Tapi itu tidak menggangguku dalam mendengarkan pesan-pesan yang disampaikan dalam khutbah itu. Justru yang datang menganggu adalah rasa kantuk (setalah bekerja semalaman). Berkali-kali aku menguap dan berkali-kali pula aku memaksakan mata dan badan untuk tetap ‘hadir’ di dalam masjid. Aku bertakbir di dalam hati, “Alahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar… Laa illahaillallah huwallahuakbar… Allahu Akbar wa lillaailham…” Cukup ampuh mengusir kantukku!

Hujan ternyata makin menderas. Banyak jamaah yang tertahan tidak bisa pulang termasuk aku. Ternyata malah membawa berkah tersendiri; aku jadi mengetahui satu tradisi di Malaysia di saat hari Raya. Makan nasi ambang ramai-ramai! Aku jadi teringat kebiasaan yang sama di Payakumbuh setelah shalat hari Raya, bahkan cara penyajiannya pun sama. Nasi disajikan di atas nampan besar dengan lauk berupa ayam gulai, daging sapi dan sambal. Satu nampan ‘dikeroyok’ oleh 4~5 orang. Entah kebetulan entah bagaimana, di nampan yang kumakan, selain aku hanya ada 2 orang lelaki lain yang menghabiskan suguhan besar itu. Barangkali faktor dingin cuaca dan (tentu saja, hehehe…) perut yang lapar, nasi ambang satu nampan itu habis kami makan bertiga! Mudah-mudahan menjadi tabungan amal untuk yang telah mempersiapkan makanan lezat tersebut.

Setelah makan, hujan belum kunjung reda. Aku coba telpon ke pool taksi tak ada yang menerima, persis sama ketika Aidil Fitri! Aku dan Mama Ani kontak-kontakan gimana aku bisa pulang. Sambil menunggu, aku mengobrol dengan pengurus surau itu. Darinya aku dapat keterangan bahwa hewan qurban yang akan disembelih hari ini ada 8 ekor lembu! Cukup banyak menurutku untuk ukuran surau kecil dengan penduduk sekitar yang tidak banyak dan merupakan percampuran antar bangsa (Malay, Chinesse, India, dll). Ada keinginan untuk ikut membantu dalam acara pemotongan hewan quran, tapi mengingat kantuk dan Mama Ani yang sedang tidak sehat, akhirnya niat itu kuurungkan.

Setelah beberapa lama, akhirnya berhasil juga menghubungi sopir mobil van perusahaan dan memintanya menjemputku di surau. Dengan begitu sampailah aku kembali ke apartemen tanpa basah kehujanan. Selanjutnya tidak banyak yang bisa diceritakan karena sampai siang lewat sedikit aku tertidur lelap. Halah… hari Raya kok malah tidur, hehehe…!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s