Hari-Hari

Ah, can’t catch up with the flying time. Feels like do nothing much but it really passing by. Hari-hari yang terlalu cepat berlari.

Sekarang sudah sampai di penghujung bulan lagi. Siap-siap memasuki bulan yang baru. Kehidupan berjalan terus, rutinitas dilakukan, persoalan datang dan pergi, demikian juga manusianya, siang berganti malam, malam mengejar pagi, and what we’ve got? You count yourself!

Jam 5 atau paling telat 5.30 pagi Mama Ani sudah bangun. Disusul ADA tentunya. Mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya agar pukul 6.55 ADA sudah bisa menunggu van jemputan sekolah di pintu gerbang apartemen. Menyiapkan pakaian seragam (yang kadang belum disetrika sehingga harus disetrika dulu), mandi, berdandan, shalat Subuh, sarapan pagi, bekal makanan dan minuman untuk dibawa ADA ke sekolah, memeriksa buku-buku yang dibawa ke sekolah hari itu, memberikan uang jajan (RM2 per hari, dan seringkali utuh tak terpakai ketika sudah pulang sekolah), dll sampai ADA rapi jali dan diantar ke van yang berangkat pukul 7 tepat.

Mama Ani akan melanjutkan kegiatan rumah tangga. Cuci piring, memasak, menyapu, membenahi kamar, merapikan ruang keluarga, membersihkan meja, dll sampai aku pulang (dari kerja malam) ke rumah pukul 11-an. Biasanya lalu kami sarapan bareng, berbincang-bincang dan melakukan kegiatan lain sampai pukul 13.30 dimana waktunya ADA pulang sekolah. Salah satu dari kami akan menjemputnya turun dari van dan selanjutnya kami makan siang bersama. Sebelum tidur, aku shalat Dzuhur dahulu dan pukul 14.00 biasanya sudah ‘hilang’ ke alam mimpi. Kadang ADA dan Mama Ani juga ikutan tidur setelah ADA selesai mengulang pelajaran siang itu.

Jam 18.00 aku dibangunkan untuk shalat Ashar. Biasanya menunggu Magrib pukul 19.20 dulu sebelum kami makan malam dan (kadang) aku melanjutkan tidur lagi. Pukul 20.00 aku mandi dan 20.45 berangkat kerja. Jika badan terasa lelah, aku bisa menunda berangkat kerja sampai pukul 11 atau 12 malam, dimana ADA dan Mama Ani seringnya juga sudah terlelap.

That’s the cycle of our routine life here. Di akhir minggu ada variasi ke gym, berenang, main di playground, berbelanja ke mall, makan di restaurant atau ke pasar malam pada hari Selasa. Not much and quite boring, huh?

Jadi tidak banyak yang perlu diceritakan di sini. Tapi ada photo ADA nih yang ingin dipajang sebagai bonus tulisan ini, hehehe…

ada-baca.jpg

History In The Making

Melihat yang baru di tampilan blog ini?

Ya, image header-nya berubah dari yang standard punya wordpress menjadi image hasil bidikan kamera sendiri. Ini adalah gambar roller coaster Corkscrew hasil petualangan ke Genting Highland 2 minggu lalu itu. Karena ini adalah blog jurnal pribadi, rasanya cocok sekali menggambarkan alur kehidupan seperti gerak roller coaster. Ada masa tenang, ada saat susah, ada pendakian, ada juga turunan curam, ketika kehidupan jungkir balik berputar, melenggok miring, atau berbelok tiba-tiba. Itulah hidup yang harus kita jalani.

Blogroll sudah dilengkapi juga. Semua blog dan website pribadi (dan semuanya adalah gratisan, hahaha…!) sudah tercantum di tag sebelah kanan. Kenapa blog-nya banyak? Karena masing-masing dibuat untuk tujuan dan isi yang berbeda. Silakan meluncur ke sana untuk melihat-lihat.

Lalu tag line-nya pun dirubah. Blog ini adalah tempat aku mencatat alur gerak hidupku dengan semua dinamikanya yang mengalir dari hari ke hari. Mudah-mudahan ia memang bisa menjadi tempat melihat bagaimana seorang Arizaldi Ardal menjalani hidup.

Sejarah sedang dibuat…

KL Trip – Hari Kedua

Bangun pagi masih dengan lelah tersisa, kami lalu berkemas-kemas mengisi rencana perjalanan selanjutnya. Aku beli sarapan pagi di restoran di luar hotel (tuh, bahkan sarapan pun tidak masuk ke dalam sewa tarif kamar yang selangit itu!) untuk kami makan bersama, ADA dan Mama Ani bersiap-siap dan setelah itu check-out. Saat aku menyelesaikan pembayaran, Mama Ani sempat berkenalan dengan seorang ibu dari Aceh yang ternyata urang awak Payakumbuh juga, yang bernasib sama dengan kami, kemalaman dan tidak dapat hotel lain lagi. Mereka malahan dari Singapore yang “sangat sepi dan ngga’ seru di sana saat tahun baru China” katanya, sehingga mereka memutuskan ke KL untuk berlibur.

Perjalanan kami dimulai dengan berjalan kaki ke China Town. Masih pagi dan belum ramai, tapi para pedagang sudah mulai menggelar dagangannya. Sama seperti saat aku pertama kali ke KL di tahun 2002 dulu, barang dagangan di China Town tidak banyak berubah. Pakaian, tas-tas, jam tangan (sebagian besar adalah imitasi merk-merk terkenal), makanan dan minuman, buah-buahan dan tentu saja suasana khas perkampungan China.

china-town-1.jpg china-town-2.jpg

Selanjutnya ke Sentral Market yang sangat sangat ramai. Seperti disebut di bagian pertama perjalanan ini, banyak sekali pendatang (terutama pekerja asing) dari negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Vietnam, dll yang memanfaatkan hari libur dengan mengunjungi KL. Dimana-mana ada mereka dan malah jarang terlihat wajah-wajah melayu diantara keramaian itu. Suasananya crowded sekali.

Di tengah kerumunan pejalan kaki itulah aku nyaris kehilangan tas pinggangku! Tanpa sadar dan tanpa sengaja, tas pinggang berisikan dompet (dengan semua isinya berupa uang, kartu identitas, kartu kredit, dll), paspor, tiket, thumbdrive, dan beberapa benda penting lainnya itu terlepas dari pinggang dan jatuh di trotoar jalan. Aku tidak tahu dan tidak menyadarinya sampai ada seseorang yang menepuk pundakku dan mengatakan tasku jatuh. Aku menoleh ke belakang dan astaghfirullah… tas pinggang hitam itu tergeletak 5 meter di belakangku diantara lalu lalang orang yang sangat ramai. Buru-buru aku berbalik, mengambilnya dan bersyukur sekali tas pinggang berharga itu masih menjadi milikku. Andai saja ia hilang, maka… (ah tak usah diteruskan, ngga’ kebayang deh paniknya).

Kami sampai di satu perhentian bus (lupa namanya) dimana kami naik bus #11 menuju Batu Caves. Perjalanan 30 menit membawa kami ke gua peribadatan Hindu yang terkenal dengan tangga tinggi, patung raksasa dan upacara-upacaranya. Ini photo-photo saat di sana:

batu-caves-1.jpg batu-caves-2.jpg batu-caves-3.jpg batu-caves-4.jpg batu-caves-8.jpg batu-caves-10.jpg batu-caves-5.jpg batu-caves-7.jpg batu-caves-9.jpg batu-caves-6.jpg

Jumlah anak tangga yang nampak di photo adalah 272 buah, setinggi 100 meter dengan kemiringan hampir 60 derajat! Capek mendaki? Tentu saja. Mama Ani beberapa kali harus berhenti untuk beristirahat dan menarik nafas. Hebat sekali semangatnya untuk menikmati perjalanan ini, mengingat Mama Ani mengidap asthma dan sangat tidak terbiasa dengan kerja keras seperti ini!

Turun dari Batu Caves perjalanan selanjutnya adalah ke KLCC atau lebih dikenal dengan Menara Kembar Petronas. Karena tidak ada bus langsung ke sana dan ketidaktahuan jalan, kami sempat 3 kali ganti moda transportasi dan harus berjalan kaki dari satu moda ke moda yang lain: bus kota #11, kereta LRT dan kereta ERL. Inilah yang jadi bahan omelan Mama Ani dan ADA, “Jalan-jalan sama Papa nih bener-bener jalan deh kita!” 🙂

Akhirnya sampai juga di KLCC, menara terkenal itu. Photo-photo deh di taman di depannya:

klcc-1.jpg klcc-2.jpg klcc-3.jpg klcc-4.jpg klcc-5.jpg klcc-6.jpg

Setelah puas mejeng dan untuk memenuhi tuntutan perut, kami masuk ke Suria shopping mall di sebelahnya KLCC. Mama Ani dan ADA makan sementara aku akhirnya gagal menentukan pilihan makanan (berpuluh outlet makanan dan tak satupun yang menarik seleraku! the class is just simply too high for my kampong taste!). Duduk-duduk sebentar di situ sambil melihat pemandangan indah ke taman di sebelahnya.

Sore menjelang dan kami bergerak lagi ke Puduraya. Ada niatan tadi pagi, kalau bisa dapat kamar penginapan maka kami akan stay lagi satu malam untuk menikmati KL di waktu malam. Ternyata sama seperti sehari sebelumnya, penginapan-penginapan masih memajang tulisan full house alias penuh itu di lobby-lobbynya.

Ya sudahlah, kami putuskan kembali ke JB saja. Di depan Puduraya ada satu bus double deck dari Konsortium sedang parkir cari penumpang. Kutanya agen yang berdiri di situ bus ini kemana, ke JB katanya. Kutanya harga tiket, RM25 katanya. Ya udah, naiklah kami bertiga dan duduk di kursi masing-masing (“di atas ya Pa, biar bisa lihat pemandangan” pinta ADA). Tepat pukul 5 bus bergerak meninggalkan KL. Dalam hati sebenarnya masih pengen menikmati KL, tapi situasinya tidak memungkinkan.

Kami sampai JB pukul 9 malam dengan hati yang senang, terpuaskan keinginan berlibur bersama, senang pulang dan pergi dengan selamat, memiliki kesan yang kuat di pikiran, meski tak dapat dipungkiri terasa penat juga badan berjalan jauh.

Eh ada yang sudah bilang, “Berikutnya kita ikut paket tour ke Melaka yuk Pa!” 🙂

KL Trip – Hari Pertama

Haah… akhirnya di-posting juga cerita liburan ini! Tertunda-tunda terus (kalah dengan pekerjaan dan posting di blog-blog yang lain), banyak revisi di sana-sini dan masih gagap juga dengan fasilitas di WordPress ini.

Seru abis! Itulah dua kata untuk mengungkapkan bagaimana rasanya liburan 2 hari kami pada libur tahun baru China minggu lalu. Seru perjalanannya, seru mainnya dan seru petualangannya.

Mau mulai dari mana ya? Dari awal berangkat di Johor Bahru aja deh… (selanjutnya Johor Bahru akan disingkat JB saja)

Rabu malam 6/Feb jam 10 kami sudah sampai di terminal bus Larkin untuk mencari bus yang akan menuju Kuala Lumpur (selanjutnya akan disingkat KL). Sebenarnya pada siang harinya kami juga sudah ke sana untuk memesan tiket, tapi sudah kehabisan dan banyak bus operator tidak menjual tiket untuk malamnya karena mereka tidak tahu pasti apakah bus akan ada atau tidak. Maklum, ini adalah hari libur (Tahun Baru Cina) dan bus dengan perjalanan terjadwal biasa semua sudah habis dipesan. Lagipula harga yang ditawarkan siang itu hampir 2 kali lipat dari harga normal. Setelah bertanya sana sini dan dengan beberapa pertimbangan, akhirnya kami putuskan berangkat malam hari dengan sistem tembak saja: jika ada bus maka kami berangkat, jika tidak ada maka kami akan pulang dan esoknya coba lagi.

Ternyata malamnya malah lebih gila lagi. Calon penumpang lebih banyak, bus yang tersedia semakin sedikit dan harga tiket semakin melambung! Tarif normal untuk bus executive (kursi 2-1) dari JB ke KL adalah RM24, tapi malam itu ditawarkan RM70! Nyaris 3 kali lipatnya dan jelas-jelas menambah beban ke budget perjalanan kami. Cari sana-sini dan mempertimbangkan beberapa hal (biaya, waktu, kerepotan, rencana jalan, dll) akhirnya kami memutuskan untuk membeli 2 tiket bus untuk bertiga (aku, Mama Ani dan ADA) dengan harga RM65 (ini pun setelah nego alot dengan agen busnya).

Akhirnya berangkat juga! Tepat pukul 00.30 sesuai dijanjikan, bus berangkat menuju KL. Aku sharing tempat duduk dengan ADA (ADA kupangku), karena ternyata bentuk kursinya tidak memungkinkan untuk duduk berjejer bertiga (tidak seperti yang kami bayangkan dimana kami bisa duduk berdampingan bertiga). Sepanjang perjalanan ADA lebih banyak tertidur.

ada-tidur.jpg

Sampai di KL, kami turun di terminal Puduraya. Masih pukul 5.30 pagi, belum masuk waktu Subuh. Tapi ramainya orang tidak seperti menunjukkan waktu yang masih dini hari! Di jalan, di emperan toko, di restoran-restoran, dimana-mana banyak sekali pendatang, sopir taksi, penjual makanan, dll yang berada di sekitaran terminal Puduraya.

Kami mencari mushalla untuk shalat Subuh dulu dan setelahnya lalu sarapan pagi. Aku dan ADA makan lontong sayur sementara Mama Ani makan soto pakai lontong juga. Tapi ah, asli rasa makanan terminal, ngga’ ada enaknya! But not many choices available that morning so we have to digest it as it is.

Rencana perjalanan kami hari pertama adalah ke Genting Highland. Silakan ke sini untuk melihat bagaimana kami menuju ke sana. Yang jelas, sesampainya di Genting Highland kami bertiga terkagum-kagum dan excited sekali dengan semua yang ada. Mulai dari bunga-bunga, pemandangan, arena permainan, fasilitas yang ada, semuanya…

Ini beberapa photo saat di sana:

gondola.jpg pintu-masuk.jpg berpelukan.jpg bergaya.jpg bergaya2.jpg bergaya3.jpg bergaya4.jpg coaster2.jpg space-shot.jpg dinosaur-land.jpg boom-boom-car.jpg coaster1.jpg numpak-gajah.jpg

Mama Ani takut-takut pengen di gondola skyway, excited dan memuji Allah di taman bunga, dan menikmati Monorail, Boating, dan Dinosaurland yang kami ikuti. ADA enjoy sekali di Busy Bugs, Circus Ride dan Junior Bumper Car, menjerit-jerit dan menangis di roller coaster Corkscrew dan Flying Dragon (lihat ekspresinya di photo!) tapi masih juga berani nantangin naik Cyclone. Sementara aku merasakan adrenalin yang terpacu saat di Space Shot.

Wuih, pokoknya seru, seru dan seru!

Dan satu hari penuh di Genting Highland tidaklah cukup untuk menikmati semua wahana yang ada. Too many things and so little time. Turun dari Genting sudah malam dan meski di jadwal bus masih ada, ternyata tidak ada lagi bus yang ke Puduraya seperti yang kuinginkan. Terpaksa kami naik bus yang ke Gombak dan dari situ naik kereta LRT lagi menuju Puduraya. Sebenarnya tidak persis Puduraya karena kami turun di Pasar Seni dan berjalan kaki sambil mencari hotel di sekitaran situ.

Penginapan penuh semua di sana! Mulai dari kelasnya backpacker, inn, lodge, sampai hotel berbintang, semua fully book! Fiuuh… kami berkeringat mencari ke sana kemari dan sampai jam 10.30 malam belum dapat tempat menginap juga. Saat libur memang dimanfaatkan banyak orang untuk mengunjungi KL dan mereka tentu menginap di penginapan-penginapan di lokasi strategis seperti Puduraya. Aku melihat banyak sekali pekerja-pekerja asing dari Bangladesh, Nepal, Vietnam, India, Pakistan, dll membanjiri KL datang dari beberapa kota sekitarnya. Mereka nampak berkelompok-kelompok dan berjalan kesana kemari memenuhi jalan.

town-crowd.jpg busy-town.jpg kl-night-view-from-hotel.jpg ancasa-hotel.jpg

Lelah kesana kemari tidak dapat tempat menginap, akhirnya kami putuskan menginap di AnCasa hotel. Itupun tidak dapat kamar standard lagi sehingga kami memilih kamar superior. Lihat sendiri tarifnya, weiks! Jadinya over budget lagi, over budget lagi… dan (hiks…) dengan sangat terpaksa menggesek si kartu sakti yang sudah lama tidak digunakan itu!

Berendam di air hangat (“Seperti yang di TV-TV itu lho Pa!” kata ADA mengomentari bathtub, yang kemudian diisinya sabun cair sehingga banyak busanya), makan malam, lalu masuk selimut. Ahhhh… nikmat sekali melepaskan penat perjalanan satu hari.

Jangan Tonton Acara TV Indonesia!

Halah! Budaya apa yang dibawa infotainment itu ke dalam rumah kita? Menyuruh orang berzina terang-terangan atas nama hari kasih sayang (prek, cuih!)? Mengindoktrinasi masyarakat dengan kebiasaan yang tabu? Membiasakan hal yang seharusnya terdengar di ranah personal menjadi konsumsi publik?

Pulang kerja malam udah kesiangan, aku sedang mengambil handuk hendak mandi saat telinga mendengar kata-kata pembawa acara infotainment (tak usah disebut nama dan acaranya, no point!) yang terasa sangat keterlaluan untukku. Dengan lantang dan suara ditegas-tegaskan, ia mengatakan, “Pemirsa, apa saja yang dilakukan para selebrita kita dalam menunjukkan kasih sayang kepada pasangannya? Bagaimana mereka menyikapi bentuk ungkapan kasih sayang yang diberikan kepada mereka dari pasangannya masing-masing? Apakah hari raya kasih sayang ini akan menjadi momentum… bla-bla-bla

Sungguh keterlaluan! Itu pembawa acara atau si script writer punya otak ngga’ untuk membawakan atau menuliskan kata-kata itu? Siapa dia berani-beraninya menasbihkan 14 Februari sebagai hari raya? Sejak kapan orang merayakannya? Siapa yang merayakan? Apa yang harus dirayakan?

Aku misuh-misuh. Mama Ani bilang semua infotainment sibuk menayangkan berita dengan topik yang sama: perayaan hari kasih sayang. Sudah sejak beberapa hari yang lalu dan mungkin sampai beberapa hari ke depan, acara infotainment terus membahas apa dan bagaimana para selebrita menghadapi hari yang katanya untuk menunjukkan kasih sayang itu! Apa tidak pekak telinga dengan serbuan berita-berita itu? Apa tidak membanjiri pikiran dan membentuk kesan jika itu terus menerus disampaikan? Apa tidak akan menjadikan sesuatu yang tabu menjadi hal yang biasa-biasa saja? Penciptaan budaya zina di tengah masyarakat!

Damn! Semakin benci dengan acara TV Indonesia. Tak ada yang bermutu, sampah, sampah, dan sampah!

Surau-Surau di Fasilitas Publik Malaysia

Miris dengan tempat sholat di Hi-Tech Mall Surabaya dalam salah satu postingan Wahida, aku malah dikasih tugas memotret surau di salah satu plaza di JB oleh si Mbak ini. Lantaran jarang main ke plaza dimaksud maka baru sekarang punya gambarnya. Sekalian saja saat ke KL minggu lalu, aku ambil juga gambar surau di terminal bus Pudu Raya dan salah satu dari surau di Genting Highland. Yang lain segera menyusul jika ada.
angsana-plaza.jpg Angsana Plaza
Surau ini luas, adem, bersih dan fasilitasnya cukup lengkap. Bahkan punya ruang khusus untuk penjaga surau dan tempat berganti pakaian di dalam surau. Tempat wudhu ada 2, di dalam dan di luar. Terpisah oleh gorden di ujung adalah tempat shalat wanita.
genting-highland.jpg Genting Highland
Daya tampungnya tidak banyak, untuk sekitar 10 orang saja jika shalat berjamaah. Yang terasa ngga’ afdhol adalah letak tempat wudhu (di dalam) yang berada di arah kiblat, sehingga orang shalat menghadap ke situ. Tempat shalat wanita terpisah. Ada beberapa surau di sekitar arena permainan dan taman di Genting ini yang dapat dipergunakan untuk shalat. Pesannya jelas: jangan lupa shalat meski sedang seru-serunya bermain di fasilitas hiburan yang ada.
pudu-raya-bus-terminal.jpg Pudu Raya Terminal
Melihat tempatnya yang di atas terminal bus (di lantai 4), awalnya terpikir surau yang sederhana. Ternyata cukup bagus, luas dan memiliki tempat penitipan barang/sepatu. Di balik pintu kaca bergorden hijau di sebelah kiri adalah tempat shalat wanita yang sama juga luasnya. Di bagian luar ada teras 2 meteran sepanjang lebar surau untuk duduk-duduk atau tiduran bagi orang yang ingin istirahat.

Belum Selesai Utak Atik

Sudah 3 hari mengutak-atik agar blog ini kembali seperti saat di blogspot, tapi belum selesai juga. Terdapat ‘kerusakan’ pada beberapa file setelah di-import dari sana. Link yang menjadi acak adut, attachment photo yang hilang atau tak bisa dibuka/muncul, layout yang berubah, dll.

Karena perbaikan dilakukan disela-sela waktu pekerjaan utama di kantor, jadi ya belum selesai semua. Target awal tadinya hari ini sudah selesai, ternyata masih jauh dan banyak lagi yang harus dikerjakan. Terpaksa ditunda ke minggu depan karena sampai akhir minggu ini aku tidak masuk kerja libur tahun baru China.