(Kurang) Tertarik Piala Dunia 2010

Babak penyisihan grup Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan sudah hampir selesai. Beberapa kali terjadi kejutan dimana tim negara unggulan kalah atau tidak menunjukkan penampilan yang baik. Orang-orang ramai menjadi komentator dadakan, merasa paling tahu apa yang terjadi di lapangan hijau. Nuansa Piala Dunia terasa dumana-mana.

Ditengah semua kebisingan Piala Dunia sepakbola tersebut, aku kok merasa tidak begitu tertarik untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan itu ya? Padahal kalau biasanya yang bermain klub-klub unggulan atau negara-negara besar sepakbola dunia, aku selalu tidak mau ketinggalan menyaksikan. Bahkan begadang sampai pagi pun dilakoni.

Mungkin karena masih di babak penyisihan barangkali ya? Siapa tahu nanti di babak-babak selanjutnya pertandingan dan persaingannya akan makin seru sehingga lebih menarik perhatianku. Mari kita lihat… 🙂

Advertisements

Menua Itu Keren

Di masjid seusai shalat Jum’at tadi aku melihat seorang bapak tua. Ia memakai baju koko putih, berpeci dan sarung kotak-kotak. Yang menarik perhatianku dari si bapak ini adalah kulitnya yang keriput. Entah bagaimana, keriputnya terlihat keren dimataku. Mungkin karena keriputnya rata atau mungkin karena warna kulit bapak itu yang agak terang, pokoknya keriputnya itu kelihatan asyik saja dipandang.

Ternyata menua itu juga bisa terlihat keren, tidak melulu dinilai lemah atau tak berdaya!

Mudah-mudahan saat aku menua kelak, Insya Allah atas seizin Allah SWT, aku bisa terlihat keren juga 🙂

Dikeroyok Laron

Aku merundukkan kepala. Pintu goa ini cukup rendah. Senter kuarahkan ke depan dan ke atas. Beberapa ekor kelelawar nampak terganggu oleh cahayanya. Sebagian mulai terbang turun dan berputar-putar.

Gelap dan licin sekali. Aku harus ekstra hati-hati melangkah. Semakin masuk dan semakin berbahaya di dalam goa. Kelelawar-kelelawar itu bertambah banyak berputar-putar dalam jarak yang dekat denganku. Sebagian mulai menabrak tubuh. Senut-senut rasanya.

Ahhh… aku terpeleset! Senter terlempar dan jatuh di dekat kaki. Cahayanya menyorot ke arah kepalaku, menyilaukan. Teriakan kerasku dan sorot cahaya lampu semakin membuat kelalawar-kelelawar itu beringas. Aku yang dalam posisi terduduk mereka kerubuti. Menggigit lenganku. Menabrak kening. Menyerang telinga. Hinggap di badan. Semakin banyak dan banyak. Aku kewalahan. Dikeroyok tanpa henti.

Tak ada pertolongan. Suara teriakan tolong tak dapat keluar dari mulutku. Susah sekali berteriak. Aku juga tidak dapat membuka mata. Semuanya gelap. Hanya rasa sakit dan sakit yang terasa. Ratusan kelelawar mengerubungiku!

Tiba-tiba aku tersentak. Suara komentator pertandingan bola di televisi. Ahhh… aku tersadar, ternyata hanya kelelawar di dalam mimpi! Mataku berkeriap mencoba membuka. Mencoba meraih kesadaran. Rasa dikerubungi masih ada. Masih terasa ditabrak-tabrak makhluk kecil. Dan terasa nyata.

Saat sebagian kelopak mata membuka, aku kaget bukan kepalang! Hah, apa ini yang berterbangan? Banyak sekali, ribuan jumlahnya! Berputar-putar di seluruh penjuru ruang TV. Cepat-cepat aku belalakan kedua mataku. Astaghfirullah… ribuan laron terbang memenuhi ruangan. Paling banyak di sekitar lampu dan di depan TV. Ratusan yang sudah patah sayapnya tergeletak di lantai. Penuh, penuh ruangan ini oleh laron! Ternyata yang mengerubungi, menabraki dan merayapiku bukanlah kelelawar tetapi makhluk kecil ini!

Masih pukul 2.30 pagi. Otakku bekerja lambat. Yang terpikir hanya keinginan untuk pindah tidur ke kamar. Urusan laron nanti saja. Kumatikan lampu dan TV lalu naik ke kamar di lantai 2. Di anak tangga kulihat serpihan sayap-sayap bertebaran. Banyak sekali. Di lantai dapur juga. Untunglah pintu kamarku tertutup dan lampunya tidak dinyalakan, sehingga laron-laron itu tidak masuk ke dalam kamar.

Pagi setelah shalat Subuh aku menyapu. Membersihkan semua laron dan sayap-sayapnya yang berserakan di seluruh ruangan. Dapur, ruang TV, ruang tengah, ruang tamu dan sampai ke teras. Tak terhitung banyaknya. Juga yang nyangkut di pintu angin di atas jendela, tempat mereka menerobos masuk. Entah darimana datangnya laron-laron itu. Yang jelas sepertinya harus segera menutup lubang angin dengan kawat tipis untuk mencegah makhluk-makhluk kecil masuk. Agar tidur bisa lelap dan tak diganggu mimpi dikerubuti hewan lagi.

Mimpi Lamborghini

white-lamborghini

Lamborghini namanya. Tadi malam ia lewat di dalam mimpi, sedang berpacu dengan sebuah Ferrari merah. Menderum-derum, melenggok berputar beraksi, mencicit-cicit bunyi bannya, menyilaukan mata yang memandang.  Ah… entah untuk apa ia datang di kelelapan tidurku? Jelas ia hanya menggoda, karena ia tahu ia adalah mimpi bagi begitu banyak insan modern, termasuk aku.

lamborghini-showroom-singapore

Cukup melihat dari kejauhan saja. Dari tepi jalan sebuah showroom di negeri singa. Lamborghini sungguh tak terperi dan tak terjangkau. Mungkin sebaiknya ia memang cukup hadir di mimpi-mimpiku saja, karena jelas ia tak akan pernah hadir secara nyata dalam hidupku.

Hitung Kancing HP2133

Ambil… tidak… ambil… tidak… ambil… tidak… ambil…

hp-2133-mini-note-pc

Sudah di depan mata, sudah dipegang-pegang, sudah diutak-atik, sudah dicoba, sudah dibawa pulang, sudah diteliti dan sudah disepakati bersama Mama Ani.

Suka? Memang. Canggih? Pasti. Spesifikasi produk? Mantap. Perlu? Iya. Design? Oke banget. Harga? Terjangkau.

Jadi, keputusannya?

Ambil… tidak… ambil… tidak… ambil… tidak… ambil…

Ferry Sepi

Ini juga gambar yang diambil di awal bulan ini, persisnya pada 1 Januari 2009. Hari pertama di tahun baru yang sekaligus juga hari pertama penerapan kebijakan baru pemerintah Indonesia dalam hal Fiskal Luar Negeri.

pelabuhan-sepi kapal-sepi

Entah karena masih kelelahan setelah pesta malam tahun baru ataukah sebagai efek dari kebijakan baru pemerintah tentang FLN, yang jelas di pelabuhan ferry Batam Centre nampak sepi, tidak banyak aktivitas dan penumpang seperti sebelumnya. Photo di pintu pemeriksaan fiskal & imigrasi dan di dalam kapal ini menunjukkan betapa sepinya aktivitas di awal tahun.

Mudah-mudahan suasana ini tidak berkelanjutan. Demi kemajuan pulau Batam.

Lift Aneh – Part 2

Hayyahh…. terperangkap di lift lagi! Pagi-pagi mau berangkat kerja, bareng pak Chua, kebawa naik ke lantai 15, untungnya ngga’ begitu lama, selamat tak ada kejadian apa-apa.

Tapi blackout di dalam saat lampu mati sekitar 15 detik benar-benar pekat. Pak Chua yang hanya sejangkauan tangan tak nampak oleh mataku. Guncangan saat awal kejadian di lantai 3 tak seberapa, tapi saat lift mendadak naik ke lantai 15, berhenti dan berguncang di sana cukup bikin keder. Kebayang kalo sesuatu terjadi dan kotak besi itu terjun bebas ke bawah…

Bagusnya alarm berfungsi dengan baik saat ditekan. Suaranya kencang dan terdengar di seluruh lantai di blok A itu. Petugas keamanan yang sedang berjaga bertindak cepat memberi pertolongan. Ada 2 petugas yang naik ke lantai 15 membantu kami berdua keluar setelah pintu lift dibuka paksa. Posisi lift tidak rata dengan lantai 15, lebih tinggi sekitar 50 cm sehingga kami berdua harus melompat keluar. Bersama mereka kami turun dengan lift sebelah menuju lantai dasar dengan aman dan selamat.

Aku tidak panik atau khawatir, mungkin karena pengalaman sebelumnya. Apalagi sinyal Maxis dalam lift pada handphone kulihat cukup kuat, sehingga aku bisa menghubungi dan dihubungi oleh Mama Ani dan teman-teman yang sudah menunggu di dalam mobil van jemputan. Biasanya kalau di dalam lift ini sinyalnya lemah sekali, pembicaraan sering terputus jika masuk ke dalamnya. Inilah yang juga membantu cepatnya pertolongan datang (seorang teman memberitahu ke petugas di pos jaga), jadi aku dan pak Chua tidak lama-lama terperangkap di dalam.

Harus diusulkan kegiatan maintenance lift yang lebih sering nih ke pihak manajemen apartemen. Agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi.