Hearing di DPRD

Kamis 25/Nov ini tadi aku ke DPRD Batam untuk hearing dengan Komisi 4 menyangkut persoalan perselisihan perburuhan dengan anggota Serikat Pekerja yang di-PHK bulan lalu. Pihak perusahaan diwakili oleh aku (Produksi) dan Heriyati (HR) ditemani oleh Pak Ricky dari Tunas Karya dan Mba’ Wati dari BBC (Batamindo Bussiness Council).

Dalam acara yang seharusnya hanya menjadi ajang dengar pendapat tersebut, terjadi pemihakan yang sangat kentara oleh anggota Komisi 4 kepada para ter-PHK. Kecenderungan untuk menyalahkan perusahaan telah terlihat dengan sangat jelas dari awal sehingga atmosfir yang tercipta dalam ruangan tersebut adalah hanya bagaimana menyudutkan pihak perusahaan tanpa melihat dari sisi pandang yang berbeda.

Setelah pengaduan dari pihak ter-PHK selesai dibacakan, salah seorang anggota Komisi 4, Sdr Karles Sinaga langsung mengomentari kejadian PHK sebagai tidak memenuhi syarat, tanpa mendengarkan terlebih dahulu penjelasan dari pihak perusahaan. Apalagi ketika kemudian orang yang sama memotong penjelasanku dengan mengatakan bahwa perusahaan hanya berargumen untuk menutupi kesalahan-kesalahan, maka semakin jelas bahwa Komisi 4 telah melangkahi fungsinya sebagai Legislatif.

Maka ketika pihak Dinas Tenaga Kerja sebagai penengah perselisihan juga cuci tangan dan menuduh perusahaan telah melanggar prosedur, kami hanya diam saja tidak mengomentari apa-apa. Demikian juga ketika pihak Dewan Pimpinan Cabang Batam Serikat Pekerja Metal Indonesia berbicara mengatakan bahwa Management perusahaan tidak tahu Undang-Undang dan aturan Ketenagakerjaan, serta bahwa HR perusahaan hanya sebagai eksekutor dari keinginan perusahaan.

Sangat disayangkan anggota Komisi 4 DPRD Batam tidak melihat persoalan ini dengan bijak serta telah melangkahi kewenangan Eksekutif dalam menyalahkan salah satu pihak. Seharusnya mereka hanya mendengarkan persoalan dan memberikan rekomendasi jalan keluar terbaik, bukan untuk menghakimi dan menuduh tanpa dasar.

Rekomendasi mereka bukanlah garis akhir dari perselisihan perburuhan ini, masih panjang jalan untuk mencapai kesepakatan dengan para ter-PHK.

Advertisements

Jalan-jalan Akhir Pekan – 2

Melanjutkan tulisan sebelumnya, akhir pekan kemaren kami menemukan acara parade tokoh kartun di Mega Mall. Acara ini adalah salah satu dari sekian banyak acara yang digelar secara besar-besaran dan berturut-turut setiap bulan oleh salah satu pengembang kawasan perumahan mewah untuk menawarkan properti yang mereka bangun. Bagi kami sekeluarga, menikmati acara-acara yang digelar tentunya bukan karena ingin memiliki salah satu properti yang ditawarkan. Saat ini angka ratusan juta rupiah atau miliaran untuk satu bangunan bahkan masih sangat jauh dari angan-angan. Seperti juga kebanyakan penonton lain, kami hanya menikmati tontonan gratis dan menghibur serta syukur-syukur dapat hadiah!
Parade tokoh kartun yang digelar Minggu kemaren itu memang menarik minat banyak pengunjung untuk melihat, terutama sekali anak-anak kecil. Mereka berkerumun di sekeliling panggung dan berteriak-teriak melambaikan tangan kepada tokoh-tokoh kartun kesenangan mereka. Persis seperti para fans kepada artis idolanya. Ada Spiderman, Micky dan Minnie Mouse, Power Rangers, Dora, Sponges Bob dan banyak lagi icon-icon kartun baru yang aku tidak kenal tapi sangat digemari anak-anak sekarang. Mereka bergoyang, melambaikan tangan, bersalaman, menari, melompat dan berbagai aktifitas lain yang membuat anak-anak kecil terpukau dan histeris. Banyak adegan lucu yang tidak saja membuat anak-anak terpingkal-pingkal tapi juga membuat para orang tua dan dewasa yang menyaksikan ikut tertawa.
Tapi ada juga anak kecil yang memandang cemas, takut bahkan menangis melihat tokoh kartun tersebut. Barangkali memang karena tidak pernah melhat tokoh kartun tersebut di televisi atau mungkin karena tokoh kartun di TV tidak sebesar yang mereka lihat sekarang ini. Maklumlah orang yang berada dibalik kostum kartun tersebut kan orang dewasa semua, bahkan laki-laki berbadan kekar (untuk tokoh-tokoh Power Rangers dan Spiderman).

Anakku Alifia ADA (biasa kami sapa dengan ADA) termasuk salah satu yang sangat menikmati pertunjukkan tersebut. Ia terlihat senang sekali dan tertawa-tawa melihat aksi para tokoh kartun di panggung. Berkali-kali ia berteriak memanggil tokoh kartun favoritnya agar datang mendekat dan ia bisa memegang, diusap kepalanya atau bersalaman dengan mereka. Dan setiap kali ia berhasil salaman atau memegang tokoh kartun tersebut, ia akan tersenyum bangga ke arahku dan istriku. Kami ikut tersenyum bahagia melihat kegembiraannya.

Tak puas-puasnya ia memandang mereka dengan wajah yang sumringah kesenangan. ADA terus memanggil nama-nama seperti Dora dan Minnie dan melambai-lambaikan tangan. Sehingga saat kami mengajaknya untuk pergi, ia berkali-kali menolak ngga’ mau. Untungnya acara segera berakhir dan para tokoh kartun tersebut segera turun dari panggung. Kami berikan kesempatan pada ADA untuk bisa menyentuh mereka semua dengan berada di jalur jalan yang akan mereka lewati ke ruang ganti/istirahat mereka. Tapi meski semua tokoh kartun itu sudah lewat dan ia berhasil memegang mereka, ADA terus mengikuti bahkan sampai ke depan ruang ganti. Sampai aku mengajaknya pergi dan bilang kalau mereka udah capek dan mau istirahat dulu, baru ADA mau diajak pergi berbelanja.

Ah, dunia anak memang dunia impian.
Semuanya masih serba indah dan bertumpu tinggi di atas harapan.
Aku ingin memberikan dunia anak yang sempurna untuk ADA di masa kecilnya, agar ia siap tumbuh dan berkembang dari hari ke hari dan waktu ke waktu.

Jalan-jalan Akhir Pekan – 1

Hari Minggu kemaren pergi mengajak keluarga kecilku ke Mega Mall. Tujuan utamanya sih pergi berbelanja kebutuhan untuk satu minggu ke depan, sekalian jalan-jalan di akhir pekan. Jalan-jalan akhir pekan ini penting untuk istri dan anakku sebagai penghilang kejenuhan setelah satu minggu tidak pergi kemana-mana. “Terkurung di rumah saja”, kata istriku.

Ada benarnya, pertama karena istriku memang wanita rumahan. Senang beraktifitas dan berada di dalam rumah. Ia jarang mau pergi mengunjungi rumah tetangga untuk sekedar ngobrol seperti yang banyak dilakukan ibu-ibu di komplek perumahan. Atau ikut arisan biar bisa kumpul-kumpul. Atau menghadiri undangan kegiatan ibu-ibu seperti selamatan, pengajian, dll. “Buang-buang waktu serta bikin hati jadi keruh saja”, katanya. Barangkali karena apa yang dibicarakan ibu-ibu tersebut biasanya tidaklah jauh dari hal-hal membandingkan keluarga masing-masing, kekayaan, perhiasan atau ngerumpiin hal-hal yang tak jelas.

Kedua karena rumah kami memang kawasan perumahan baru yang belum dilewati oleh transportasi umum sehingga akses dari dan ke luar kawasan tidak lancar. Kalau mau keluar, kami harus berjalan kaki dulu mencapai jalur transportasi umum terdekat yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah. Itupun harus melewati jalan yang sedikit menanjak lalu menurun cukup tajam. Bagi istriku ini adalah perjalanan yang melelahkan karena ia tidak terbiasa berolahraga dan karena badannya yang besar (hm biasalah, wanita tak ingin disebut gemuk 🙂). Belum lagi rasa kasihan kalau melihat anak kami si ADA yang juga harus ikut berjalan kaki sejauh itu.

Berbeda denganku yang setiap hari pergi bekerja keluar dan melewati jalur tersebut. Rasa ‘terkurung’ atau capek tidak pernah begitu menjadi persoalan buatku. Interaksi dengan teman-teman dan anak buah di perusahaan membuatku bisa selalu terisi dengan hal-hal yang baru. Demikian juga dengan saat mendaki atau menuruni bukit, aku sudah terbiasa mendidik tubuhku dari kecil untuk tidak manja menghadapi kondisi apapun. Jadi meskipun sekarang beratku 80 kg, aku masih cukup fit untuk banyak aktifitas berat, cepat dan memakan tenaga.

Akhirnya jalan-jalan di akhir pekan adalah satu kegiatan yang rutin kami lakukan untuk membawa suasana baru di hati, membersihkan kejenuhan di pikiran, dan juga melihat ‘kehidupan di luar’, sekaligus untuk memenuhi kebutuhan dapur untuk satu minggu. Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlewati, itu kata pepatahnya.