Ke Batam Untuk ATS ESQ

Sore nanti aku pulang ke Batam. Rencananya aku akan menjadi ATS pada training ESQ Profesional angkatan 21 Batam yang akan dilangsungkan hari Jum’at sampai Minggu 28~30/Sept. Untuk training kali ini, aku bisa membantu pelaksanaan training untuk Jum’at dan Sabtu saja, karena hari Minggu aku harus kembali ke Gelang Patah karena dapat giliran tugas sebagai Duty Manager di perusahaan.
Advertisements

Undangan Berbuka, Gratifikasi?

Aku diundang makan berbuka puasa oleh salah satu penyalur tenaga kerja kemarin. Sebuah restoran cantik yang lumayan jauh dari Gelang Patah, namanya Garden Steamboat Restaurant di kawasan Taman Pelangi dekat Jusco di wilayah Tebrau, 40 menit berkendara.

Karena baru kali ini makan di restoran steamboat, awalnya bingung aja ngelihatin begitu banyak bahan makanan mentah begitu. Siapa yang masakin? Gimana masaknya? Berapa banyak yang boleh diambil? Apa saja yang mau dimakan? Halah… dasar ndeso! 🙂

Bukan makan-makannya yang ingin kutulis di sini, tapi masalah gratifikasi-nya. Undangan berbuka ini tergolong gratifikasi bukan? Kalau iya, sah ngga’ untukku?

Mungkin kalau bukan aku yang mengurus rekrutmen tenaga kerja di Produksi, aku tak akan diundang hadir. Mungkin kalau bukan aku yang duduk di posisi Production Manager, aku tak akan diundang hadir. Mungkin kalau bukan aku yang mengambil keputusan, aku tak akan diundang hadir. Mungkin kalau aku tidak berhubungan baik dengan boss penyalur itu, aku tidak akan diundang hadir.

Jadi kenapa aku diundang? Gratifikasi? Yang kuragukan hanya itu, halal dan sah tidak makanan yang kumakan tersebut?

Ya Allah, ampuni hambaMu yang dho’if ini. Jangan gelapkan mata hatiku dengan kenikmatan makanan dunia karena sungguh aku merindukan makanan surgaMu. Jangan tukar nikmat meminum air sungai surgaMu dengan minuman dunia yang sesaat saja segarnya. Ya Allah, hapuskan congkak dan sombong di hati hamba karena ianya membuat hamba jauh dariMu.

Tanpa Sahur, HP Koit dan Semut

Halah… ngga’ sahur lagi! Baru terbangun pukul 6 teng (waktu JB), saat Liputan 6 SCTV dimulai. Udah dibela-belain tidur di sofa ruang tamu dengan TV hidup sepanjang malam, tetap saja setan kantuk itu memberati mata. Akhirnya tetap diniatin berpuasa sambil kemudian buru-buru mengambil wudhu untuk sholat Subuh.

Biasanya sahur dibangunin alarm HP. Tapi gara-gara adaptor charger-nya terbakar (kemungkinan) di Batam akhir minggu lalu, si Siemens jadul itu jadi ngga’ berfungsi sejak kemaren. Iya, koit ngga’ bisa dipakai buat telpon-telponan, SMS-an, dan lain-lain. Serasa sedih deh jadinya… 😦 Sekarang masih ditangani Bayu, gimana caranya charger itu bisa dipakai lagi. Kalau beli di sini sih bisa aja. Tapi ngga’ ada waktu buat muter-muter di toko-toko. Working 9 to 9 is more than enough to consume all my energy, huh!

Sepulang kerja yang menemani hanya MP4. Aku nyuci baju, masak air, menikmati jeruk manis (Mama Ani yang masukin ke tas dari Batam) sambil nonton Identity di Channel 5 ditemani lagu-lagu pop Indonesia terbaru hasil download-an di Multiply. Barisan semut merah di pinggiran dinding memanjang dari pintu masuk ke kamar David menarik perhatian sekaligus menambah kegiatan tadi malam. Barangkali ada makanan yang dibiarkan terbuka atau remah-remah di lantai yang mengundang mereka datang. Kusapu bersih ke saluran pembuangan air dekat mesin cuci di teras samping.

Tanpa sahur bukan alasan untuk loyo. Got to work everything out today. Keep the spirit alive!

ADA Puasa Penuh Pertama

Nah, ini sejarah baru lagi buat ADA. Setelah berhasil melakukan puasa setengah hari, maka inilah puasa satu hari penuh ADA yang pertama di bulan Ramadhan !
Ini dilakukannya pada hari Sabtu 22/Sept kemarin. ADA berhasil menahan diri untuk tidak makan dan minum karena disemangati oleh Mama Ani dengan, “Kan pagi tadi ikutan sahur tuh, jadi harusnya ADA bisa puasa satu hari. Kalau bisa, nanti sore saat jemput Papa di Batam Centre, ADA dibeliin baju baru deh..!

Hadiahnya tidak saja datang dari kami, tapi juga dari Harris Hotel & Resorts. Nah lo, kok bisa? Karena keberanian ADA juga, ketika ia tampil di panggung terbuka di Mega Mall yang saat itu sedang mengadakan acara bazzar Ramadhan. Salah satu pengisi acara adalah pihak Harris. Ketika pembawa acara melemparkan pertanyaan kepada pengunjung menanyakan warna khas Harris Resort, ADA yang berdiri dekat panggung langsung mengacungkan telunjuk dan menjawab, “Orange, Oom!“. Ia diajak naik ke panggung dan diberikan beberapa pertanyaan standar untuk anak seusianya seperti nama, umur, kelas berapa, udah bisa mengaji atau belum, dan yang lain.

Hadiahnya? Sebuah boneka Dino lucu yang sedang berselancar di papan orange. Plus undangan berbuka puasa gratis di Harris Resorts untuk 2 orang yang berlaku sampai tanggal 1 Oktober. Alhamdulillah…

Sabtu kemarin itu sendiri kami berbuka di Solaria. Kalau ke Harris yang di Marina sana, wah kejauhan deh buat berbuka. Nanti saja free invitation itu dimanfaatkan. Atau kalaupun tidak jadi makan gratis di sana, paling tidak kami sudah merasa senang dengan pencapaian ADA berpuasa penuh satu hari.

Nomor 165

Akhirnya ketemu juga nomor pasca bayar Hotlink dari Maxis berakhiran 165 di Johor Bahru ini! Setelah sekian lama mencari-cari dan sempat menggunakan nomor lain untuk sementara, besok aku akan mulai memakai dan memperkenalkan nomor telpon baru ini kepada semua sahabat, relasi, kawan kerja, saudara, dan keluarga.
Alhamdulillahirabbil ‘alamiin… senang dapat nomor (60) 017 xxxx 165 ini! Ia akan menemani nomor (62) 0813 xxxxx 165 Simpati Telkomsel milikku yang kupakai di Batam.

1 Ikhsan
6 Prinsip
5 Langkah

TKW Lugu dan Indonesiaku

Aduh sedih deh melihat gadis-gadis bangsaku terlongong-longong (benar ngga’ ada kata ini dalam bahasa Indonesia? maksudku adalah terpelongo dan terbengong-bengong) melihat kilau kemajuan Singapura. Kepala celingukan kanan kiri, rona takjub di wajahnya, dan bahasa tubuh yang menunjukkan keminderan mereka. Juga kegamangan budaya berada di sebuah negara yang teknologi layanan publiknya sudah sangat maju.

Mereka yang kumaksud adalah gadis-gadis muda usia yang datang ke Singapura untuk bekerja sebagai TKW (entah apa bidang pekerjaannya nanti) yang tadi kutemui di Harbour Front. Gadis-gadis lugu yang entah direkrut dari pelosok Indonesia yang mana. Gadis-gadis 18~20 tahunan berkaos oblong lusuh bercelana jeans berambut pendek (sepertinya rambut pendek ini adalah syarat dari agensi yang merekrut mereka, menjadi perhatianku karena potongannya sama satu sama lain) yang datang dengan menyeret tas besar milik mereka. Gadis-gadis yang bahkan tak tahu bagaimana caranya keluar dari ruangan berpintu kaca otomatis!

Di luar berbagai perlakuan yang akan mereka dapatkan, keberhasilan atau penderitaan, ataupun juga pengalaman dan kehidupan baru, aku berpikir sampai kapan bangsaku akan terus mengekspor warganya yang tak berpendidikan dan berkemampuan bagus demi menangguk sedikit devisa dari luar negeri? Sampai kapan bangsaku yang dulu begitu dihormati di Asia Tenggara (ah, rindu dengan pemimpin seperti engkau, Bung Karno!) akan terus menjadi bangsa yang tak dihormati dan dinista (bahkan oleh sesama Melayu!) karena stereotip kelas pembantu? Sampai kapan mentalitas korup bangsaku akan terus ada karena jika ia hilang maka tercipta stabilitas ekonomi dan keamanan yang lebih baik demi tumbuhnya roda-roda kehidupan yang akan mengundang investor berduyun-duyun datang?

Manusia Indonesia tidak bodoh sesungguhnya, andai punya kesempatan untuk belajar ke tingkat yang lebih tinggi. Pengalaman berinteraksi dengan beragam manusia dari berbagai bangsa telah menunjukkan padaku bahwa orang luar negeri tidak selalu lebih pintar dari kita. Malahan dalam banyak hal kutemui bahwa orang Indonesia selain lebih cerdas dan baik, kita juga lebih tangguh, pekerja keras, bersemangat tinggi, dan tidak gampang menyerah dengan keadaan. Bukankah itu modal yang luar biasa?

Jadi kunci sebenarnya adalah pendidikan yang lebih baik untuk membuka kesempatan yang lebih luas. Aku teringat pertanyaan Kaisar Hirohito ketika Jepang hancur lebur dalam Perang Dunia ke-2, “Seberapa banyak guru kita yang masih hidup?”. Sebuah pertanyaan tanda kepedulian yang luar biasa atas nasib bangsa di masa yang akan datang. Hirohito sangat mengerti pentingnya pendidikan bagi bangsanya. Dan dengan dasar itulah Jepang bangkit menjadi raja ekonomi dunia saat ini.

Bagaimana pendidikan Indonesia saat ini? Bagaimana nasib bangsa ini nanti? Akankah terus selugu para TKW itu yang terlongong-longong di negara orang lain?