Dikeroyok Laron

Aku merundukkan kepala. Pintu goa ini cukup rendah. Senter kuarahkan ke depan dan ke atas. Beberapa ekor kelelawar nampak terganggu oleh cahayanya. Sebagian mulai terbang turun dan berputar-putar.

Gelap dan licin sekali. Aku harus ekstra hati-hati melangkah. Semakin masuk dan semakin berbahaya di dalam goa. Kelelawar-kelelawar itu bertambah banyak berputar-putar dalam jarak yang dekat denganku. Sebagian mulai menabrak tubuh. Senut-senut rasanya.

Ahhh… aku terpeleset! Senter terlempar dan jatuh di dekat kaki. Cahayanya menyorot ke arah kepalaku, menyilaukan. Teriakan kerasku dan sorot cahaya lampu semakin membuat kelalawar-kelelawar itu beringas. Aku yang dalam posisi terduduk mereka kerubuti. Menggigit lenganku. Menabrak kening. Menyerang telinga. Hinggap di badan. Semakin banyak dan banyak. Aku kewalahan. Dikeroyok tanpa henti.

Tak ada pertolongan. Suara teriakan tolong tak dapat keluar dari mulutku. Susah sekali berteriak. Aku juga tidak dapat membuka mata. Semuanya gelap. Hanya rasa sakit dan sakit yang terasa. Ratusan kelelawar mengerubungiku!

Tiba-tiba aku tersentak. Suara komentator pertandingan bola di televisi. Ahhh… aku tersadar, ternyata hanya kelelawar di dalam mimpi! Mataku berkeriap mencoba membuka. Mencoba meraih kesadaran. Rasa dikerubungi masih ada. Masih terasa ditabrak-tabrak makhluk kecil. Dan terasa nyata.

Saat sebagian kelopak mata membuka, aku kaget bukan kepalang! Hah, apa ini yang berterbangan? Banyak sekali, ribuan jumlahnya! Berputar-putar di seluruh penjuru ruang TV. Cepat-cepat aku belalakan kedua mataku. Astaghfirullah… ribuan laron terbang memenuhi ruangan. Paling banyak di sekitar lampu dan di depan TV. Ratusan yang sudah patah sayapnya tergeletak di lantai. Penuh, penuh ruangan ini oleh laron! Ternyata yang mengerubungi, menabraki dan merayapiku bukanlah kelelawar tetapi makhluk kecil ini!

Masih pukul 2.30 pagi. Otakku bekerja lambat. Yang terpikir hanya keinginan untuk pindah tidur ke kamar. Urusan laron nanti saja. Kumatikan lampu dan TV lalu naik ke kamar di lantai 2. Di anak tangga kulihat serpihan sayap-sayap bertebaran. Banyak sekali. Di lantai dapur juga. Untunglah pintu kamarku tertutup dan lampunya tidak dinyalakan, sehingga laron-laron itu tidak masuk ke dalam kamar.

Pagi setelah shalat Subuh aku menyapu. Membersihkan semua laron dan sayap-sayapnya yang berserakan di seluruh ruangan. Dapur, ruang TV, ruang tengah, ruang tamu dan sampai ke teras. Tak terhitung banyaknya. Juga yang nyangkut di pintu angin di atas jendela, tempat mereka menerobos masuk. Entah darimana datangnya laron-laron itu. Yang jelas sepertinya harus segera menutup lubang angin dengan kawat tipis untuk mencegah makhluk-makhluk kecil masuk. Agar tidur bisa lelap dan tak diganggu mimpi dikerubuti hewan lagi.

3 thoughts on “Dikeroyok Laron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s