Sedikit Tentang Bayu

Bak roda pedati, begitu orang tua dulu-dulu mengibaratkan kehidupan. Rodanya terus berputar, kadang berada di atas kadang berada di bawah. Ada masa susah, ada masa senang, ada saat pendakian, ada saat di puncak, juga ada saat menurun bahkan ketika berada di titik terendah kehidupan. Dan seperti sejarah, ia akan juga berulang dialami oleh manusia.

Aku mengalaminya seperti Anda juga mengalaminya (mungkin belum mungkin sudah). Begitu juga Bayu, adik iparku. Sejak ikut kami ke Batam tahun 2000, perputaran roda itu nampak padanya. Mulai dari jenjang paling bawah pada hierarki sebuah perusahaan, sebagai operator (bagian packing) ia mulai merangkaki roda pedatinya. Pelan-pelan naik menjadi rework operator, leader, lalu teknisi, kemudian teknisi senior sampai engineering assistant. Berpindah perusahaan. Beragam mesin dan alat testing PCBA. Bergaul dengan solder, osciloscop, pin, komponen elektronik, multimeter, ratusan software, dan sebagainya. Dari Batam, Singapore dan Johor.

Saat itu masih bujang, belum berkeluarga. Bekerja lembur tak masalah baginya, bahkan sepanjang bulan tiada henti. Keinginan untuk belajar dan menguasai bidangnya sangat kuat. Ia muda, ia kuat, ia bebas. Penghasilan bulanan lebih dari cukup untuknya. Hasil kerja kerasnya ia nikmati. Berbagai kebutuhan eksistensi anak muda ia punya. Rodanya terus bergerak.

Kemudian mulai memasuki pintu pernikahan. Tanggung jawab mengganda. Hal yang tadinya tak difikirkan, sekarang mulai menjadi faktor yang harus diperhitungkan benar-benar. Salah akan membawa akibat. Dan hukum sebuah roda pun bekerja, setelah puncak maka ia mulai menurun.

uyab

Langkah yang terburu-buru diambil. Berhenti bekerja, kehilangan pendapatan, kembali ke orangtua (di Jawa dan Sumatera) dan kehabisan tabungan. Padahal ada keluarga yang menjadi tanggungan. Ada tugas sebagai kepala keluarga. Dan kehidupan yang terus bergerak tiada henti untuk diikuti. Dijalani sampai jenuh, butek dan tertekan. Sampai tiba kesadaran untuk memulai kembali.

Ke Batam lagi. Menggali informasi dari awal, membuka koneksi sana sini, menelusuri jejak yang dulu lagi.

Di antara waktu senggang di Batam, ia mendempul dinding rumah kami yang retak, mengecat dan menambal atap yang bocor. “Ini pekerjaanku saat ini, jadi tukang,” katanya saat kami bertemu di Batam bulan lalu, “Di Jawa aku jadi peternak ikut Bapak pelihara kambing dan sapi. Kadang seperti tukang ojek mengantar Ibu atau Puteri ke sana-sini. Atau jadi peladang di Lintau kemarin.” Itulah caranya mendorong roda pedati hidupnya agar bergerak.

Dan kemarin roda itu mulai bergerak kembali, Bayu mengirimkan sebuah pesan pendek, “Aku diterima bekerja di PCI sebagai Asisten Test Engineer, mulai bekerja besok (hari ini).”

Selamat, Bayu! Dorong terus rodamu, dengan kuat dan bersemangat. Ia akan berputar naik dan turun tiada henti. Jangan mudah menyerah dan patah. Belajarlah dari masa lalu. Hidup harus diperjuangkan. Sampai nanti kembali pulang kehadapanNya untuk mempertanggungjawabkan semuanya.

One thought on “Sedikit Tentang Bayu

  1. “arek ndolups” itu lah kata-kata yg slalu ku kenang tentang Bayu Yanu Alfa… my buddy…
    0rangnya super aneh.. simple… tapi pasti…
    seperti nama nya.. Bayu adalah Angin…
    susah di tebak tapi slalu pasti dalam menjalani setiap langkah kehidupan’nya…..

    Gud luck Bro…..

    er-ge-de-es

    heri_st41@yahoo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s