KL Trip – Hari Kedua

Bangun pagi masih dengan lelah tersisa, kami lalu berkemas-kemas mengisi rencana perjalanan selanjutnya. Aku beli sarapan pagi di restoran di luar hotel (tuh, bahkan sarapan pun tidak masuk ke dalam sewa tarif kamar yang selangit itu!) untuk kami makan bersama, ADA dan Mama Ani bersiap-siap dan setelah itu check-out. Saat aku menyelesaikan pembayaran, Mama Ani sempat berkenalan dengan seorang ibu dari Aceh yang ternyata urang awak Payakumbuh juga, yang bernasib sama dengan kami, kemalaman dan tidak dapat hotel lain lagi. Mereka malahan dari Singapore yang “sangat sepi dan ngga’ seru di sana saat tahun baru China” katanya, sehingga mereka memutuskan ke KL untuk berlibur.

Perjalanan kami dimulai dengan berjalan kaki ke China Town. Masih pagi dan belum ramai, tapi para pedagang sudah mulai menggelar dagangannya. Sama seperti saat aku pertama kali ke KL di tahun 2002 dulu, barang dagangan di China Town tidak banyak berubah. Pakaian, tas-tas, jam tangan (sebagian besar adalah imitasi merk-merk terkenal), makanan dan minuman, buah-buahan dan tentu saja suasana khas perkampungan China.

china-town-1.jpg china-town-2.jpg

Selanjutnya ke Sentral Market yang sangat sangat ramai. Seperti disebut di bagian pertama perjalanan ini, banyak sekali pendatang (terutama pekerja asing) dari negara-negara Asia Selatan seperti India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Vietnam, dll yang memanfaatkan hari libur dengan mengunjungi KL. Dimana-mana ada mereka dan malah jarang terlihat wajah-wajah melayu diantara keramaian itu. Suasananya crowded sekali.

Di tengah kerumunan pejalan kaki itulah aku nyaris kehilangan tas pinggangku! Tanpa sadar dan tanpa sengaja, tas pinggang berisikan dompet (dengan semua isinya berupa uang, kartu identitas, kartu kredit, dll), paspor, tiket, thumbdrive, dan beberapa benda penting lainnya itu terlepas dari pinggang dan jatuh di trotoar jalan. Aku tidak tahu dan tidak menyadarinya sampai ada seseorang yang menepuk pundakku dan mengatakan tasku jatuh. Aku menoleh ke belakang dan astaghfirullah… tas pinggang hitam itu tergeletak 5 meter di belakangku diantara lalu lalang orang yang sangat ramai. Buru-buru aku berbalik, mengambilnya dan bersyukur sekali tas pinggang berharga itu masih menjadi milikku. Andai saja ia hilang, maka… (ah tak usah diteruskan, ngga’ kebayang deh paniknya).

Kami sampai di satu perhentian bus (lupa namanya) dimana kami naik bus #11 menuju Batu Caves. Perjalanan 30 menit membawa kami ke gua peribadatan Hindu yang terkenal dengan tangga tinggi, patung raksasa dan upacara-upacaranya. Ini photo-photo saat di sana:

batu-caves-1.jpg batu-caves-2.jpg batu-caves-3.jpg batu-caves-4.jpg batu-caves-8.jpg batu-caves-10.jpg batu-caves-5.jpg batu-caves-7.jpg batu-caves-9.jpg batu-caves-6.jpg

Jumlah anak tangga yang nampak di photo adalah 272 buah, setinggi 100 meter dengan kemiringan hampir 60 derajat! Capek mendaki? Tentu saja. Mama Ani beberapa kali harus berhenti untuk beristirahat dan menarik nafas. Hebat sekali semangatnya untuk menikmati perjalanan ini, mengingat Mama Ani mengidap asthma dan sangat tidak terbiasa dengan kerja keras seperti ini!

Turun dari Batu Caves perjalanan selanjutnya adalah ke KLCC atau lebih dikenal dengan Menara Kembar Petronas. Karena tidak ada bus langsung ke sana dan ketidaktahuan jalan, kami sempat 3 kali ganti moda transportasi dan harus berjalan kaki dari satu moda ke moda yang lain: bus kota #11, kereta LRT dan kereta ERL. Inilah yang jadi bahan omelan Mama Ani dan ADA, “Jalan-jalan sama Papa nih bener-bener jalan deh kita!”๐Ÿ™‚

Akhirnya sampai juga di KLCC, menara terkenal itu. Photo-photo deh di taman di depannya:

klcc-1.jpg klcc-2.jpg klcc-3.jpg klcc-4.jpg klcc-5.jpg klcc-6.jpg

Setelah puas mejeng dan untuk memenuhi tuntutan perut, kami masuk ke Suria shopping mall di sebelahnya KLCC. Mama Ani dan ADA makan sementara aku akhirnya gagal menentukan pilihan makanan (berpuluh outlet makanan dan tak satupun yang menarik seleraku! the class is just simply too high for my kampong taste!). Duduk-duduk sebentar di situ sambil melihat pemandangan indah ke taman di sebelahnya.

Sore menjelang dan kami bergerak lagi ke Puduraya. Ada niatan tadi pagi, kalau bisa dapat kamar penginapan maka kami akan stay lagi satu malam untuk menikmati KL di waktu malam. Ternyata sama seperti sehari sebelumnya, penginapan-penginapan masih memajang tulisan full house alias penuh itu di lobby-lobbynya.

Ya sudahlah, kami putuskan kembali ke JB saja. Di depan Puduraya ada satu bus double deck dari Konsortium sedang parkir cari penumpang. Kutanya agen yang berdiri di situ bus ini kemana, ke JB katanya. Kutanya harga tiket, RM25 katanya. Ya udah, naiklah kami bertiga dan duduk di kursi masing-masing (“di atas ya Pa, biar bisa lihat pemandangan” pinta ADA). Tepat pukul 5 bus bergerak meninggalkan KL. Dalam hati sebenarnya masih pengen menikmati KL, tapi situasinya tidak memungkinkan.

Kami sampai JB pukul 9 malam dengan hati yang senang, terpuaskan keinginan berlibur bersama, senang pulang dan pergi dengan selamat, memiliki kesan yang kuat di pikiran, meski tak dapat dipungkiri terasa penat juga badan berjalan jauh.

Eh ada yang sudah bilang, “Berikutnya kita ikut paket tour ke Melaka yuk Pa!”๐Ÿ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s