The Kite Runner

Tadi malam baru saja menyelesaikan sebuah novel berjudul The Kite Runner. Agak ketinggalan jauh sebenarnya karena novel ini pertama kali dirilis tahun 2003 di Amrik sana. Tapi aku baru tahu dan membacanya sekarang ini.

Novel ini bercerita tentang perjalanan hidup seorang warga Afghanistan yang dibayangi oleh rasa bersalah atas peristiwa masa kecilnya, ditulis dengan sangat memikat dan menyentuh oleh penulis berdarah asli Afghanistan Khaled Hosseini. Sebuah novel yang mampu membawa pembacanya ikut merasakan dan menjalani kehidupan keras di Afghanistan, mulai dari pasca perang saudara, kejatuhan monarki, masuknya Soviet, eksodus warga Afganistan mengungsi ke Pakistan dan negara-negara lain (termasuk Amerika, dimana tokoh utama Amir dibawa oleh ayahnya Baba), sampai ke masa berkuasanya Taliban dan kejatuhannya.

Karakter tokohnya beragam dan kuat. Amir yang dihantui kesalahan masa lalunya, Hassan yang selalu membela dan melayani Amir, Baba yang terhormat tapi harus menerima kekalahan hidup di pengungsian, Rahim Khan yang mengetahui banyak hal mengenai rahasia-rahasia Baba, sampai Assef sang antagonis pemerkosa Hassan yang akhirnya menerima pembalasan Sohrab (anak Hassan) di akhir cerita.

Plot cerita yang melompat-lompat dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya sungguh menarik diikuti. Berat rasanya melepaskan buku ini sebelum selesai karena takut kehilangan detail cerita, budaya dan bahasa khas yang diwarnai rasa Afghanistan kental.

Novel yang bagus. Tak heran jika ia telah diangkat ke layar lebar dan mendapatkan pujian juga.

Advertisements

Passport & Gold Card

Melakukan perjalanan lintas 3 negara (Indonesia – Singapore – Malaysia) setiap akhir minggu sudah menjadi hal yang biasa bagiku. Sama seperti jika di negara sendiri, saat pergi dari satu kota ke kota lainnya seperti dari (misalnya) Batam ke Padang lalu ke Jakarta, juga melewati batas-batas daerah, laut, dan pulau yang berbeda.
Yang membedakannya antara lain dalam moda transportasi yang digunakan. Indonesia (via Batam) menuju Singapore dapat dicapai menggunakan kapal ferry cepat, dilanjutkan dengan transportasi darat kereta MRT dan bus menuju Johor Bahru (Malaysia), dapat ditempuh dalam waktu sekitar 3 jam saja. Sementara kalau dari Batam ke Padang lalu ke Jakarta jelas akan makan waktu berhari-hari untuk ditempuh jika menggunakan jalan darat, sehingga jauh lebih efisien jika menggunakan pesawat terbang.

Hal lain yang membedakan adalah perlunya dokumen perjalanan berupa paspor agar dapat melintasi pintu-pintu imigrasi di setiap perbatasan negara. Setiap kali masuk dan keluar negara, lembaran paspor akan distempel tanda masuk atau keluar untuk memudahkan pengawasan terhadap orang asing. Semakin sering keluar masuk maka semakin banyak stempel yang ada di buku paspor. Dengan frekwensi keluar masuk yang tinggi seperti aku saat ini, maka lembaran-lembaran paspor akan cepat penuh dan jika penuh maka paspor harus diperbaharui untuk mendapatkan buku baru.

Pasporku saat ini yang baru diperpanjang bulan May lalu, sekarang telah terisi penuh sampai halaman 24. Artinya, setengah dari buku paspor Indonesia berketebalan 48 halaman untuk masa pakai 5 tahun telah terpakai dalam waktu kurang dari 6 bulan! Boros sekali, bukan? Jika terus begitu, bisa-bisa setiap tahun aku harus memperbaharui paspor deh…!

Karena itu aku cukup bersyukur disediakan Gold Card oleh perusahaan dimana dengan menggunakan Gold Card sebagai expatriate pass, pasporku tidak perlu lagi distempel oleh imigrasi Malaysia. Paling tidak kepemilikan Gold Card ini dapat mengurangi 33,33% laju pemakaian lembar-lembar paspor! 🙂

(Untuk alasan tertentu, photo memang sengaja dibuat tidak fokus.)

Lidah, Apartemen dan Hikmah

Pepatah bilang lidah tak bertulang untuk menyebutkan bahwa kata atau ucapan seseorang dapat berubah sewaktu-waktu, tidak dapat dipegang, bahkan mendustai yang sebelumnya diucapkan. Mungkin pepatah itu cukup tepat diterapkan pada hal yang sedang kuhadapi sekarang.

Seperti disebut di sini, aku sudah mendapatkan unit apartemen untuk kami tempati mulai awal Desember nanti. Perjanjian lisan dengan Peter sebagai broker sudah dibuat, bahkan aku sudah menawarkan untuk memberikan uang muka sebagai tanda jadi tapi ditolaknya karena katanya tak perlu.

Tapi yang aku dan Mama Ani lihat ketika kami sampai di apartemen Senin siang kemarin cukup mengecewakan. Di unit A-5-6 itu nampak sudah ada yang menghuni, mereka baru saja pindah hari Minggu! Bahkan Senin malamnya sebagian barang-barang masih nampak dibawa masuk ke dalam.

Apa boleh buat, berarti bukan rejeki kami untuk menyewa unit tersebut. Ini pelajaran bagus untukku agar tidak mudah mempercayai ucapan orang di negeri tetangga ini. Juga mungkin agar aku berusaha lebih keras lagi untuk mencapai sesuatu. Dan semoga Allah memiliki rencana lain yang lebih baik untukku, misalnya mendapatkan unit yang lebih baik fasilitasnya atau yang harga sewanya lebih murah 🙂 Mudah-mudahan saja…

Yang jelas aku harus cari-cari lagi nih…

Renungan 165: Membangun Benteng Yang Kokoh

Materi Renungan 165 ke-4: Membangun Benteng Yang Kokoh. Materi ini sangat terkait dengan Star Principle.

Apa yang Anda rasakan dan nikmati saat ini? Harta kekayaan yang banyak? Keluarga yang lengkap dan bahagia? Keindahan alam sekitar? Rumah yang megah?

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali ‘Imran – 14)

Lupakah manusia darimana datangnya itu semua?

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Al Baqarah – 165)

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (Al Hadiid – 20)

Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? (Ar Rahmaan – 26 ~ 28)

Rumah yang megah dapat terbakar, tersapu banjir, atau roboh diguncang gempa. Orang yang tadinya sehat dapat menjadi sakit dan mati. Harta kekayaan dalam sekejap juga bisa hilang dari genggaman. Lalu apa yang yang akan menjadi benteng kita jika semua itu terjadi? Siapakah yang akan menjadi pemelihara kita kelak?

Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, tuhan apapun yang lain. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya lah kamu dikembalikan. (Al Qashash – 88)

Jika dunia menjadi illah, bagaimana akhir kehidupan kita?

Katakanlah: “Siapakah Tuhan langit dan bumi?” Jawabnya: “Allah.” Katakanlah: “Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudaratan bagi diri mereka sendiri?”. Katakanlah: “Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?” Katakanlah: “Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa”. (Ar Ra’d – 16)

Ketika orang-orang yang kita cintai diambil Allah, ketika harta diambil Allah, bukan karena Allah benci. Justru karena Allah sayang dan menguji kita. Allah tidak ingin kita mencintai selain Dia, karena illah-illah yang lain akan hilang, habis, tidak kekal.

Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (Al Hajj – 31)

Lailahailallah adalah benteng pertahananKu. Barangsiapa yang memasuki bentengKu, niscaya ia akan aman dari siksaKu – Hadist Qudsy riwayah Abu Naim, Ibn Najjar dan Ibn Aakir dari Ali bin Abi Thalib

Pertanyaan untuk direnungkan: Sejauh manakah Anda menjadikan Allah sebagai Illah?

Bayangkan diberikan kehidupan setelah bangun tidur, maka kepada siapa kehidupan itu diberikan olehmu?

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (Al Jaatsiyah – 23)

ESQ Training Profesional 22 Batam

Training ESQ Profesional angkatan ke-22 Batam pada 9~11/November diikuti oleh 74 orang peserta, dua pertiga diantaranya adalah peserta pria. Dan sepertiga dari jumlah peserta kali ini datang dari Singapura. Meski jumlah peserta tidak seramai biasanya, namun tidaklah mengurangi kekhusu’an, keseriusan, kebahagiaan, dan keseruan materi trainingnya. Para peserta nampak terbawa terbang tinggi menembus batas pemikiran dan menukik dalam ke dasar hati berkat bimbingan sang ‘pilot’ Pak Fahrul Jamal dan ‘copilot’ Jusuf Rikza & Candra.

Sulit mengungkapkan kebahagiaan yang kurasakan dapat hadir lagi sebagai ATS kali ini. Melihat deraian air mata, mendengarkan isak tangis, dan merasakan hidayah besar yang turun menghampiri peserta, serta tentu saja juga larut masuk ke dalam diri sendiri, tersungkur dan menangis membasahi pipi dengan air mata keinsyafan. Meski hanya dapat membantu 1,5 hari saja (mulai Sabtu siang sampai Minggu sore), rasanya sungguh sepenuh dada. Hingga hilanglah penat di raga dan tak terasa lelahnya badan karena perjalanan dari JB & kurangnya istirahat di hari-hari sebelumnya. Semua hilang ditimpa semangat tinggi dan keikhlasan berbagi di sana.

Tugas yang baru dan belum pernah kulaksanakan selama menjadi ATS dan kuemban kali ini adalah menjadi ‘orang Jepang’. Berduet dengan Mas Candra, kami menjadi ‘Jepang keling’ berikat kepala bendera Jepang, berjalan cepat, sedikit membungkuk, dan berbicara khas gaya orang Jepang untuk membacakan 7 prinsip usaha Matsushita. Seru juga ternyata!

Kombinasi dari rasa-rasa yang timbul di dalam hati itulah yang barangkali membuatku selalu kangen ingin berada di ruangan training ESQ. Meski jarak terbentang jauh antara JB dan Batam sekarang buatku, Insya Allah tak mengurangi niat untuk selalu hadir.

Kurus Atau Tak Terurus?

Vigha: “Oom kok bisa kurus sih?

Siti: “Iya, nampak kurus. Kok bisa?

Agus: “Mas Ari, apa rahasianya? Tapi keren lho lebih ramping begitu, mantaaap…!

Azeem: “Oom Ari, kok jadi kurus? Rambutnya panjang lagi!

Kang Didan: “Wuih keren banget! Rada kurusan kayaknya ya…?

Mbak Elny: “Pak Ari nampak kurus. Iya kan, Mbak Ani?

Haaah…??? Banyak sahabat-sahabat 165 yang bertemu di training ESQ Prof-22 Batam akhir minggu lalu mengomentari badanku yang kata mereka nampak lebih kurus. Yang dituliskan di atas adalah beberapa contoh diantaranya.

Dalam hati aku jadi berfikir-fikir, masa’ iya sih? Perasaan tetap segitu-segitu aja, ngga’ kurang ngga’ lebih. Perut masih ‘lebih tinggi dari dada’. Nomor celana masih sama. Gerakan badan tidak terasa lebih ringan. Apa yang bikin nampak kurus? Kok mereka bisa bilang begitu? Kelihatan darimananya ya? Wajahku jadi kempot apa ya?

Ah, mungkin karena rambut yang lebih panjang ‘kali, sehingga wajah nampak lebih kecil? Atau karena pakai jas resmi yang ramping, dibanding sebelumnya pakai jaket jas yang lebih longgar? Atau… ah embuh! Yang jelas saat 10 menit yang lalu menimbang badan di timbangan digital produksi, angkanya masih 80.89 kg. Tetap belum tembus ke kepala 7 seperti pernah disinggung di tulisan ini.

Yang terfikir sekarang malahan; penyebab turunnya berat badan ini apa?
Puasa Ramadhan? Udah lewat…
Capek kerja? Rasanya biasa-biasa saja.
Stress akibat kerja? Entahlah…
Tak terurus? Halah… bisa-bisa diamuk Mama Ani kalau begini! 🙂

Melipat Motor

Sore ini sedikit longgar, jadi meski di sini sudah bilang masih belum sempat, aku sempat-sempatin deh menuliskan sedikit tentang si GL Pro-ku. Bukan karena penting-penting amat (masa’ iya ngga’ penting sih?), tapi karena bisa dituliskan dengan cepat.

Intinya adalah si GL Pro sekarang sudah dilipat. Hah, motor kok dilipat? Gimana melipatnya? Kecelakaan ya, kena gencet mobil atau apa gitu? Aneh-aneh aja nih…

Iya, si GL Pro dilipat terus dimasukin ke dompet! Hahaha… benar banget! Motor GL Pro yang sudah setia menemaniku dan keluarga selama 1 tahun 3 bulan terakhir ini berhasil menemukan pemilik barunya setelah kujual hari Senin sore lalu. Ada seseorang yang ingin memiliki dan mencari motor GL Pro minggu lalu dan bertanya-tanya ke makelar motor bekas yang ada di sekitaran tempat tinggalku. Memang sebelumnya aku pernah menyebut ingin menjual motor (daripada tak terpakai dan nongkrong saja di rumah) kepada salah satu makelar itu, maka ketika ada orang yang ingin melihat motor milikku, sang makelar pun membawanya padaku sekembalinya aku dari Padang.

Setelah diperiksa sana-sini, ditaksir-taksir, di uji coba langsung oleh si pembeli dan bernegosiasi harga, dengan cepat GL Pro itu berpindah tangan! Bahkan saking cepatnya proses itu, aku yang tadinya ingin mengambil photo si Boncel (kata ADA, “nama motor kita itu kan si Boncel, Pa“) sebagai kenang-kenangan, ngga’ sempat memotretnya karena sudah keburu dibawa pergi si pemilik baru.

Ya sudahlah, mudah-mudahan si Boncel mendapatkan pemilik baru yang lebih bisa merawat dan menggunakannya dengan baik. Barang dunia tak ada yang abadi, apalagi aku memang melepasnya dengan ikhlas hati. Dan berharap semoga saja dapat segera memiliki kendaraan pengganti yang lebih baik… 🙂

Bye bye, Boncel!