Bapak Datang Ke Batam

Bapak mertuaku datang ke Batam jam 10.30 pagi tadi. Bapak naik pesawat Lion Air penerbangan langsung dari Surabaya. Ini adalah kunjungan Bapak kedua kali ke Batam sejak putri sulungnya, yang adalah Mama Ani, merantau jauh dari rumah. Yang pertama dulu tahun 2000, saat Mama Ani baru saja selesai kontrak kerja 2 tahun dengan PT TEC Indonesia – Batam dan akan melangsungkan pernikahan denganku. Dulu tujuan Bapak datang adalah untuk menemui kami, menjemput Mama Ani, dilanjutkan dengan bersilaturahmi dengan keluargaku di Padang, dan kemudian membawa Mama Ani pulang ke Kediri menyiapkan segala sesuatunya untuk pernikahan kami.

Kali ini juga hampir sama tujuannya, tapi untuk anak yang berbeda, yaitu Bayu. Bayu berencana untuk menikahi Metra dalam waktu dekat, yang jika sesuai rencana mereka akan dilangsungkan pada bulan Februari 2008 mendatang. Karena itulah Bapak datang untuk bersilaturahmi sekaligus melamar Imet ke keluarganya di Bukittinggi.

Kenapa ke Batam dulu adalah agar bisa berangkat bersama aku, Mama Ani dan ADA ke Padang pada tanggal 1 Nov nanti. Kami akan menghadiri acara pernikahan adik bungsuku Melda Rosa dengan Awan Rantisi yang akan dilangsungkan pada tanggal 2~3 Nov.

Jadi buat Bapak, kunjungan kali ini akan bermakna banyak; menemui anak cucu di Batam, bertemu besan di Padang, mewakili keluarga Kediri menghadiri pernikahan Emil, dan melamar Imet untuk Bayu di Bukittinggi.

Untuk Bapak aku mohon maaf atas 2 hal: tidak berada di Batam saat Bapak datang dan tidak adanya photo yang lebih baik daripada yang ditampilkan di sini. Nyuwun pangapunten ingkang saageng-agengi pun, Pak… 🙂

Advertisements

Lupa Jum’at

Sudah 2 kali lupa kalau ini hari Jum’at dan aku harus pergi shalat Jum’at ke mesjid. Tadi pukul 12.25 (waktu Johor) diajak Hadi pergi Jum’atan, barulah teringat, “O iya, ini kan hari Jum’at! Astaghfirullah aladzhiim…!” dalam hati. Buru-buru pergi keluar dan meninggalkan pekerjaan di meja.

Minggu lalu lebih parah. Tersadar kalau itu hari Jum’at sudah pukul 13.07 siang. Lari keluar mencari teman/kendaraan untuk ke mesjid, tapi tak ada lagi. Akhirnya diganti shalat Dzuhur saja di mushalla pabrik.

Ya Allah, ampuni hamba yang khilaf. Ampunilah hamba yang ‘tersesat’ dalam kesibukan dunia ini. Bukakanlah pikiran hamba untuk selalu ingat pada kewajiban-kewajiban hamba. Mudahkanlah jalan untuk hamba, jangan Engkau tutupi pikiran hamba, dan dekatkanlah selalu aku padaMu.

Kenapa Sih, Malaysia?

Apa yang salah dalam hubungan Indonesia – Malaysia? Kenapa ada aroma ketidaksukaan Malaysia terhadap Indonesia yang tercium tajam?
Banyak sudah yang terjadi, Malaysia berlaku arogan dan Indonesia sangat penyabar. Mengenai nasib TKI/TKW kita yang terhinakan (ratusan bahkan ribuan kasus terjadi sepanjang tahun, bahkan kepada wakil resmi bangsa di kancah karate!). Mengenai sengketa pulau-pulau terluar. Mengenai asap kiriman kebakaran di Sumatera atau Kalimantan. Mengenai batik atau rendang atau angklung yang diaku-aku produk budaya Malaysia. Mengenai diskriminasi dan apresiasi yang sangat rendah terhadap Indonesia (bahkan sampai tidak mengakui nama Indonesia dan hanya memanggil orang Indon!). Bahkan sampai soal mencaplok lagu Rasa Sayange dan lagu daerah Sumbar (update). Mengenai banyak hal yang ah…, terkadang bisa menimbulkan sakit hati…

Ada apa, Malaysia? Apa yang salah dengan bangsaku, bangsa Indonesia? Kami tidak benci padamu. Kami punya banyak kawan-kawan di Malaysia, kami semua senang dan baik-baik saja. Bahkan aku pribadi baru saja memulai kehidupan baru di salah satu bagian negerimu. Aku suka karena tak banyak berbeda dengan negaraku. Tapi kenapa sebagai bangsa, kau tunjukkan ketidakbersahabatanmu itu?

Jika warga kami marah padamu, itu adalah hal yang sangat wajar. Gambar ini adalah contohnya. Kami harap kamu maklum dan sadar diri untuk tidak benar-benar menjadi seperti yang disebut disitu.

Salam damai dari Indonesia!

Lift Aneh?

Lift adalah fasilitas peralatan standar yang umum tersedia di gedung-gedung bertingkat tinggi. Naik turun dari satu lantai ke lantai yang lain menjadi mudah, cepat dan tidak melelahkan. Pernah membayangkan, atau mungkin melakukan, naik dari lantai dasar ke lantai 20 (misalnya) dengan cara manual melalui tangga? Pasti sangat melelahkan! Namun bisa saja hal tersebut terjadi jika terdapat kerusakan pada lift yang memakan waktu lama untuk diperbaiki, sehingga para penguna terpaksa menempuh jalan tangga untuk mencapai lantai yang ingin ditujunya.
Pernah juga mendengar orang terjebak di dalam lift kan? Karena faktor teknis atau mekanis, tiba-tiba saja lift bisa berhenti di sembarang ketinggian sehingga membuat pengguna di dalamnya terjebak tak bisa kemana-mana. Bahkan diperparah lagi oleh kemungkinan matinya lampu, alat komunikasi atau pendingin udara di dalamnya, menimbulkan rasa panik bagi mereka yang terjebak.

Itulah yang terpikir tadi malam saat aku mengalami kejadian sedikit aneh dengan lift di apartemen blok A (setiap blok di apartemen memiliki 2 lift untuk turun naik). Aku masuk lift sebelah kanan dari lantai dasar bersama Hadi dan satu orang penghuni lagi. Hadi memencet tombol 4, aku 5 dan seorang lagi 10 untuk sampai ke lantai apartemen masing-masing. Pintu menutup dan lift naik seperti biasa, berhenti di angka 4 dan Hadi keluar. Sampai pintu menutup kembali semua berlangsung normal. Lift naik ke lantai 5 dimana aku akan keluar. Tapi ketika lampu indikator di panel menunjukkan angka 5 dan lampu di tombol angka 5 sudah mati (tanda sudah sampai di tingkat yang dituju), lift tiba-tiba berguncang. Aku dan si pemuda kaget dan berpandangan heran. Apalagi kemudian lift bergerak naik terus tanpa membuka pintu atau berhenti di lantai 5. Ketika sampai di lantai 10, tombol angka 10 mati tapi lift naik terus ke atas. Kami kembali berpandangan dan mengangkat bahu tidak mengerti apa yang terjadi. Kami biarkan saja lift bergerak semaunya. Kami juga tidak memencet tombol apa-apa lagi setelah itu.

Lift terus naik sampai ke lantai 16, lantai tertinggi di apartemen Nusa Perdana, di situlah lift berhenti. Tanpa membuka pintu, lift kembali bergerak turun, angka di panel bergerak turun 15… 14… 13… 12… 11… dan 10. Pintu terbuka, si pemuda tersenyum senang dan ia keluar dari lift. Nah lift sudah kembali berfungsi, pikirku. Aku tekan tombol angka 5 dan lift bergerak turun. Di panel muncul 9… 8… 7… 6… dan 5. Pintu terbuka, alhamdulillah ucapku dalam hati. Namun ketika melangkah keluar lift dan belok kanan ke arah unit nomor 3, aku sadar aku tidak berada di lantai 5. Aku ternyata keluar lift di lantai 4! Hah, kok bisa? Bukannya tadi aku memencet tombol 5 dan angka di panel menunjukkan angka 5 ketika pintu terbuka? Aku yakin sekali aku tidak salah pencet atau salah lihat. Aneh banget!

Kutekan kembali tombol naik agar lift kembali dan aku bisa naik ke lantai 5. Lift datang beberapa saat kemudian, dari dalamnya keluar Nursodik yang tinggal di unit yang sama dengan Hadi. Kuceritakan padanya kejadian yang kualami dan ia tertawa heran. Sedikit ragu aku masuk kembali ke dalam lift dan dengan bismillah kutekan angka 5. Ternyata kali ini tidak ada masalah, aku berhasil sampai di lantai 5.

Kenapa hal seperti itu bisa terjadi? Kesalahan teknis, mekanis, humanis atau…? Entahlah!

Novel Baca Ulang

Ada kebiasaan baru yang kulakukan di saat senggang sekarang ini; membaca ulang novel-novel lama koleksiku yang kubawa dari rumah di Batam.
Setelah menyelesaikan Prime Witness-nya Steve Martini dan Ca Bau Kan-nya Remy Silado beberapa waktu lalu, saat ini aku sedang membaca ulang novel lain Steve Martini Compelling Evidence.

Kapan waktu membacanya? Bukannya udah capek kerja 9 to 9 di pabrik? Ya dicari-cariin waktunya di kala senggang. Pagi hari saat ‘ngebom’ toilet (hush, jangan berfikir macam-macam! 🙂 ), malam hari setelah mandi, sholat Isya, dan makan malam di kala nonton TV, dan menjelang tidur (sampai bukunya terlepas dari pegangan tangan). Kalau lagi seru ceritanya, kadang dibawa juga ke pabrik dan dibaca saat jam istirahat. Dengan cara dan waktu baca seperti itu, tak heran jika satu novel baru selesai terbaca ulang dalam 2 minggu, bahkan lebih!

Sengaja baca yang ringan-ringan, kelasnya novel aja, biar ngga’ nambah mumet pikiran. Kalau baca buku agama, autobiography atau buku sosial politik, kayaknya engga’ dulu. Nanti saja kalau pikiran sudah lebih stabil dan punya waktu luang lebih banyak.

Unit Apartemen Yang Akan Disewa

Siang tadi jam istirahat aku bertemu Peter Lee, Marketing Manager Nusa Perdana Apartment di kantornya di Management Office apartemen. Peter menelponku jam 10 tadi untuk janjian melihat unit apartemen yang akan aku sewa bagi kami sekeluarga nanti.

Ternyata dari 3 unit yang diperlihatkan (B-15-3, B-6-3 dan A-5-6), salah satunya persis berseberangan dengan unit yang sekarang kutempati (sewaan perusahaan), yaitu di A-5-6. Dengan pertimbangan kelengkapan isi peralatan rumah (selain yang standard seperti sofa, meja makan, kitchen stove, lemari, meja TV dan kasur) dan kesanggupan membayar sewa bulanan, aku memilih unit A-5-6 untuk di sewa. Di unit ini tersedia kulkas baru, mesin cuci, AC di ketiga kamarnya, water heater di kamar mandi, tabung gas di dapur, dan TV 24 inch. Selain itu, teralis besi juga terpasang di pintu depan dan ruang cuci samping. Untuk lebih meningkatkan rasa aman, aku meminta disediakan teralis di sisi dalam rumah yang menghadap ke lapangan olahraga dan taman bermain, yaitu untuk di 3 kamar dan ruang keluarga. Peter menyatakan kesanggupan untuk menyediakannya sebelum kami pindah ke sana.

Harga sewanya? Cukup tinggi, but value define the price, right?

Mama Ani senang sekali diberitahu bahwa kami sudah mendapatkan unit apartemen untuk disewa. Suaranya terdengar bersemangat saat kutelpon sekembalinya aku ke kantor.

Malam Sebelum Pulang Ke Batam

Maunya berenang rame-rame dengan Mama Ani dan ADA di malam terakhir kunjungan 2 minggu mereka kali ini. Dari kamar di lantai 5 kami turun sudah memakai pakaian renang di balik baju luar. Sampai di bawah ternyata kolamnya nampak kotor. Beberapa kotoran mengambang di permukaan air yang biru, seperti helaian rambut, daun, bekas gumpalan ludah, sampai ke percikan kotoran burung di pinggir kolam.

Tidak jadi berenang deh! Padahal ADA sudah sempat basah kuyub nyebur ke kolam kecil dan melompat-lompat di bawah pancuran lumba-lumbanya.

Ganti kegiatan dengan nongkrong di kantin samping kolam. 2 prata kosong untuk ADA, 2 prata telor untuk Mama Ani dan nasi campur untukku adalah menu makan malam kami akhirnya. Menikmati di sisi kolam, disinari cahaya temaram lampu sekeliling kolam renang, dan kesiur pohon palem yang ditiup angin malam, ternyata asyik juga. Sayang ngga’ ada photonya buat dipajang di sini.