Jalan Kaki Malam Sendiri

Meski secara umum dilaporkan oleh Overseas Security Advisory Council bahwa tingkat kriminalitas di Malaysia tahun 2006 rendah dan tindak kekerasan terhadap orang asing adalah relatif tidak biasa (yang berbanding terbalik dengan laporan tahun sebelumnya 2005 dari Kuala Lumpur Royal Malaysia Police College), namun beberapa laporan kejahatan di surat kabar lokal seperti Berita Harian dan Harian Metro baru-baru ini menunjukkan bahwa tingkat kriminalitas harian di Johor Bahru memang cukup mengkhawatirkan.

Itulah sebabnya kenapa aku dan teman-teman beberapa kali diingatkan oleh teman-teman Singaporean seperti TS Ng, David Ho, ataupun Pak Chua sendiri untuk tidak pergi keluar sendiri-sendiri (terutama pada malam hari), sebaiknya pergi berombongan agar lebih selamat dari tindak kejahatan seperti rampok dan jambret. Mungkin karena mereka adalah warga negara Singapore yang memang sangat terjaga dari tindak-tindak kejahatan karena pemerintah yang protektif terhadap warganya, yang berbeda dari cara pemerintah Indonesia atau Malaysia melindungi warganya. Sehingga tingkat kekhawatiran sekaligus tingkat kewaspadaan mereka cukup tinggi.

Jadi itulah yang terpikir olehku ketika harus menunggu kontainer datang hari Rabu malam lalu. Kontainer yang tadinya dijanjikan datang pukul 18.00 ternyata baru muncul pukul 22.30 malam. Akibatnya aku terpaksa harus pulang ke apartement dengan berjalan kaki karena tidak ada lagi mobil van perusahaan yang tersedia. Ketika aku keluar dari pintu gerbang, para petugas keamanan dari Tegas Security bertanya bagaimana aku akan pulang, “Ade kereta kah?” (apakah aku ada membawa mobil?), yang kujawab dengan gelengan, “Tak ade kereta, balik jalan kaki sahaja”. Mereka saling berpandangan, mungkin sangat heran dengan ‘keberanianku’ (atau kenekatan ya?) pulang jalan kaki sendirian di malam selarut itu.

Tapi dengan Bismillah dan berpasrah diri pada Allah SWT, setiap langkah kaki aku iringi dengan Lailahailallah menelusuri jalan sepi menuju apartement sejauh kurang lebih 700 meter tersebut. 400 meter pertama jalan keluar dari kawasan industri masih diterangi lampu di kanan jalan dan masih ada petugas keamanan bersenjata senapan laras panjang di ujung jalan (yang juga memperhatikanku dengan pandangan heran). Sisa jarak selanjutnya menuju apartemen adalah jalan umum yang sepi dan tanpa penerangan jalan. Disepanjang jalan 300 meter ini aku meningkatkan kewaspadaan dan sangat berhati-hati dengan kemungkinan bahaya yang bisa datang, baik dari pemakai jalan raya maupun pemunculan tiba-tiba dari balik rerimbunan semak di kiri jalan. Berkali-kali aku mengawasi sekeliling dengan waspada, entah karena terpengaruh peringatan teman-teman Singaporean, pengaruh berita koran, atau karena rasa takutku sendiri. Namun yang pasti Alhamdulillah aku berhasil mencapai tikungan jalan ke apartment (yang sudah berpenerang jalan dan banyak ruko) dengan selamat tanpa gangguan. Ketika aku hendak menyeberang jalan, aku melihat sebuah mobil patroli polisi bergerak lambat persis di belakangku.

Apakah ini pertolongan Allah untukku, mengirimkan patroli polisi untuk ‘melindungiku’? Karena bisa saja jika memang ada pelaku kejahatan yang telah bersiap-siap beraksi namun tidak jadi karena melihat mobil polisi di kejauhan. Wallahualam… Yang jelas aku bersyukur bahwa aku selamat dan tidak mengalami hal-hal yang tidak diinginkan ketika berjalan kaki sendirian malam hari di Gelang Patah.

2 thoughts on “Jalan Kaki Malam Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s