Di Belakang Truk Sampah

Pernah mencium aroma dari truk sampah yang lewat di depan rumah atau saat berpapasan di jalan? Mungkin saat mencium baunya kita akan langsung menutup hidung, menahan nafas, menaikkan kaca mobil, atau menutup pintu dan jendela rumah, agar bau busuk yang menyengat dari kumpulan sampah-sampah itu tidak terhirup lama-lama. Bagi sebagian orang, bau itu bisa membuatnya menyumpah-nyumpah dan bagi sebagian lagi akan menyebabkan muntah.

Tapi pernahkah terfikir oleh kita tentang bagaimana para petugas sampah (dan juga para pemulung) itu ‘berteman’ dengan bau dan limbah-limbah buangan tersebut? Bukankah mereka juga punya hidung untuk membaui semua itu? Bukankah mereka juga punya rasa jijik? Bagaimana mereka beradaptasi?

Itulah yang tadi terfikir olehku ketika berada persis di belakang sebuah truk sampah di lampu merah Simpang Kabil saat kembali dari menjemput Mama Ani dan ADA berenang di Sukajadi. Sebenarnya aku tidak sengaja untuk mengarahkan motor ke belakang truk sampah itu, karena yang kulihat di depan hanyalah sebuah truk tanpa melihat apa bawaannya. Apalagi jalur itu memang jalur kosong (jalur kanan bagi kendaraan yang akan ke Muka Kuning sudah penuh), sehingga aku mengarahkan motor ke situ. Aku baru menyadari itu sebuah truk sampah saat Mama Ani mengomel “Kok di belakang truk sampah sih, Pa? Bau nih!!”.

Udah kepalang di situ dan tak bisa mundur, aku menjawab omelan Mama Ani dengan guyonan “Kapan lagi Ma, mencium bau sampah satu truk begini? Ngga’ tiap hari lho. Nikmati aja ya…” kataku sambil senyum-senyum.

Mama Ani menjawab sengit “Papa ini aneh-aneh aja. Bau sampah kok dinikmati!?” katanya sambil menutup hidung.

Aku tertawa dan saat itulah terfikir pertanyaan-pertanyaan di atas tadi. Ya, bukankah para petugas itu ‘menikmati’ aroma sampah ini setiap hari? Itulah ladang sumber nafkah halal mereka mencari kehidupan untuk keluarganya. Sebagian dari mereka bahkan mungkin telah bekerja seperti itu puluhan tahun. Pernahkah mereka mengeluh? Pernahkah mereka menyesali pekerjaan itu? Pernahkah mereka kesal dengan sikap pongah kita yang meremehkan pekerjaan mereka? Atau marah karena sebagian dari kita juga jijik kepada mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuatku sangat mensyukuri pekerjaanku yang ‘bersih’. Aku tidak harus membaui aroma busuk sampah, karena aku bekerja dalam ruangan wangi ber-AC. Aku tidak harus bergelut dengan limbah-limbah kotor, karena aku duduk di belakang meja kerja yang dilengkapi dengan perangkat komputer, lemari file, kursi-kursi, folder-folder, rak surat, pesawat telepon, bahkan sepasang speaker untuk mendengarkan musik dari komputerku. Aku tidak harus bekerja banting tulang berpeluh-peluh di bawah terik sinar matahari, karena aku bekerja dalam ruangan yang lampu dan AC-nya menyala 24 jam. Aku tidak harus….

Perbandingan itu bisa terus berlanjut panjang. Tapi buatku kejadian ‘salah ambil jalan’ di belakang truk sampah tadi bukanlah hal yang perlu disesali. Aku dapat mengambil pelajaran dari aroma ‘sedap’ sampah-sampah itu, bahkan menikmatinya!🙂

Untuk para petugas sampah dan kebersihan dimana pun berada, salam hormat dan terima kasih untukmu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s