Satu Hari Tiga Negara – 2

(Posting lanjutan dari tulisan ini)

Selanjutnya kami pergi makan siang di salah satu restoran India (lagi!). Aku menikmati nasi putih berlauk gulai kikil, burung dara goreng, tahu saus, sayur kacang panjang, dan minuman Sprite dingin. Teman-teman yang lain kebanyakan juga memilih nasi putih dan lauk-lauk standard, berbeda dengan Pak Chua (General Manager) dan David (Operation Manager) yang memilih nasi Brani (nasi khas India, semacam nasi uduk yang berlemak). Bu Amei (Account Manager) yang duduk di sebelah Pak Chua sempat melirik tagihannya, RM 84 untuk makan 11 orang (si sopir ngga’ makan, katanya masih kenyang dengan sarapan tadi). Jika dikonversi ke Rupiah (RM 1 = Rp 2500), maka rata-rata sekitar Rp. 20.000 saja per orang.

Dari Gelang Patah, kami selanjutnya menuju JHM di Desa Cemerlang – Ulu Tiram. Di JHM telah menunggu 63 orang untuk kami interview, terdiri dari para operator Produksi dan QA yang semuanya adalah orang Indonesia. Berkat bantuan Hermin (Logistic Manager), Yati (HR Asst Manager), dan Binner (Planning Asst Manager), maka aku (Prod Asst Manager) dan Ida (Sr. QA Supervisor) bisa menyelesaikan sesi wawancara itu dalam waktu sekitar 45 menit. Sementara kami mewawancara, Hadimun (Enggineering Asst Manager), Foo Teck Meng (QA Engineer), Rose (Admin Asst Manager) dan Pak David berkeliling factory dengan Pak Chua.

Setelah selesai semua urusan di JHM (termasuk menyerahkan sample reject shield iSirius kepada Pak Stanley Teing (JHM QA Manager) dan sempat bertemu muka dengan sahabatku Moh. Ridzuan), maka kami kemudian bergerak meninggalkan Ulu Tiram. Ternyata Pak Chua mengajak kami untuk makan lagi, padahal baru jam 5 sore (atau jam 4 waktu Indonesia Barat) sebenarnya. Tapi demi menghormati ajakannya, maka jadilah kami ‘makan malam dini’ itu. Kali ini hidangannya adalah seafood beraneka macam, mulai dari udang, kerang, sotong sampai kepiting. Juga ada tom yam, cah kaylan, cah kangkung, dan minuman (aku minum Cappucino Tongkat Ali, hahahaha!). Semuanya RM 155. Dari sini kami berpisah dengan Pak Chua karena beliau ada meeting lain jam 19.00. Thanks for your hospitality, Sir!


Jam 18.30 sore kami melewati Secondlink lagi untuk kembali ke Singapore. Aku sempat khawatir akan mendapat masalah di imigrasi Singapore (passport-ku sudah nyaris penuh, tak ada tempat untuk chop stempel lagi), tapi untungnya tidak menjadi kenyataan. Tanpa banyak tanya petugas imigrasi itu mengecap passportku di halaman yang masih bisa diselipkan stempelnya.

Sampai di Harbour Front sudah jam 19.50, langsung booking ferry Penguin lagi (karena tiketnya memang tiket return) ke Batam pukul 20.40 (waktu Singapore). Sampai di Batam sekitar pukul 21.10 WIB (telat 15 menit, kapal jalannya lambat). Ternyata tidak ada mobil jemputan dari PT yang menunggu, karena sopirnya sudah pulang. Akhirnya aku ke PT naik taksi, dan di PT dijemput oleh Bayu dengan motor GL Pro, sampai di rumah jam 22.00.

Perjalanan melintasi 3 negara, dari jam 7 pagi sampai 10 malam, 8 stempel imigrasi di 4 pos perlintasan, bertemu warga 7 negara (Singaporean, Malaysian, Indonesian, Piliphino, Vietnamesse, Indian, dan Chinesse), melelahkan, seru, dan mengenyangkan! Dan satu lagi: gratis!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s