Baik Untuk Baik dan Buruk Untuk Buruk

Seperti biasanya, pagi tadi aku dan keluarga berangkat meninggalkan rumah jam 7 tepat. Tujuannya ada 2, pertama mengantar ADA dan Mama Ani ke sekolah TK Islam Al Barkah di Baloi Persero dan selanjutnya aku akan menuju kantor. Dengan Bismillahirrahmanirrahiim, kami mulai bergerak dari rumah. Aku selalu berhati-hati mengendarai GLPro-ku, tidak ngebut, tidak ugal-ugalan, selalu memposisikan kendaraan di kiri jalan (tidak mengambil jalan di tengah), dan berusaha sabar di jalan raya.

Namun ada yang lain pagi tadi.

Setelah keluar dari perumahan dan bergabung dengan arus ramai kendaraan di jalan raya, aku sempat meneriaki (atau mengumpati ya?) sebuah angkutan umum karena mengambil jalan terlalu ke kanan dan membahayakan posisi kendaraanku. Rasanya seperti sebuah refleks terhadap bahaya yang muncul tiba-tiba, mulutku meneriakkan “HOI… !!!”, jempol kiri memencet klakson bertubi-tubi dan kedua tanganku menggiring motor lebih ke kiri. Motor nyaris turun ke jalan tanah, namun aku berhasil menjaga keseimbangan dan kami selamat untuk melanjutkan perjalanan seperti biasa. Hanya saja istriku khawatir jika sopir angkutan umum itu marah dan akan berbalik mengejar kami. Tapi aku tenangkan istriku dengan mengatakan bahwa sopir itu tak akan mengejar karena kendaraannya penuh dengan penumpang dan lalu lintas cukup padat. Apalagi dia yang ‘bersalah’ dalam hal tadi.

Namun dalam hati aku juga merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Entah apa, tapi aku adalah orang yang sangat percaya bahwa setiap perbuatan akan mendapatkan balasan. Perbuatan baik akan berbuah baik dan perbuatan buruk akan berbuah buruk.

Dan perasaan atas sesuatu itu kemudian mendapatkan jawabannya ketika motor aku belokkan ke pom bensin di Sukajadi. Saat berbelok, aku merasa ban belakang agak ‘lari’ (menggelesot). Biasanya ini terjadi kalau ban dalam keadaan lunak/kempes. Ternyata benar, ketika antri isi bensin aku memeriksa ban belakang sangat kempes alias bocor! Motor tak lagi dapat ditumpangi. Aku coba tanya-tanya ke pegawai di pom bensin tsb jika mereka punya pompa angin, yang ternyata tidak ada. Walhasil, setelah isi bensin, aku harus mendorong motor ke tempat tambal ban terdekat (yang jauhnya sekitar 400 meter) dan tidak dapat mengantar ADA & Mama Ani tepat waktu ke sekolah.

Namun pertolongan Allah SWT sungguh sangat tak terduga! Kesombonganku (yang telah meneriaki sopir angkutan umum dan menghakimi bahwa itu adalah kesalahannya) berbuah ban bocor, namun Allah SWT mengirimkan pertolongannya menyelesaikan persoalanku. Pertolongan pertama datang ketika aku, ADA dan Mama Ani mulai jalan kaki meninggalkan pom bensin. Secara tiba-tiba ada suara ibu-ibu yang memanggil istriku “Mama ADA!” dari sebuah mobil yang baru saja selesai mengisi bensin. Ternyata ibu itu adalah teman istriku yang juga akan mengantar anaknya ke sekolah yang sama dengan sekolah ADA. Ibu itu berbaik hati mengizinkan ADA dan Mama Ani untuk menumpang naik mobilnya sampai sekolah.

Pertolongan kedua datang dari tukang tambal ban. Setelah ban diperiksa, ternyata aku harus ganti ban dalam karena bocornya tepat di samping pentil (tak bisa ditambal). Harga ban dalamnya Rp. 30.000, sementara uang yang ada padaku saat itu hanyalah Rp. 6.500! Darimana dapat tambahannya? ATM jauh, teman yang tinggal dekat situ tak ada, sementara ban dalam harus diganti agar motor dapat dipakai kembali. Minta tolong pada siapa? Ketika ban sedang diganti itu, aku bicara jujur pada si ibu (ya, tukang tambal bannya adalah seorang wanita!) bahwa uangnya tak cukup dan aku menawarkan menjaminkan KTP. Tanpa banyak tanya dan sambil terus bekerja, ibu tukang tambal ban itu langsung menyetujui! Aku menjanjikan akan menebus KTP itu pada siang hari, saat menjemput anak pulang sekolah.

Sungguh, Allah SWT adalah Sang Maha Adil. Ketika kita berbuat baik, maka perbuatan itu akan berbuah baik. Dan ketika kita berbuat buruk, maka ia akan berbuah buruk. Hanya Allah SWT Sang Al Baari’ (Yang Maha Mengatur) dan Al Qoodir (Yang Maha Menentukan) bila buah-buah perbuatan itu akan diberikan. Apakah langsung ketika di dunia atau nanti di akhirat kelak.

Sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s