Menjadi ATS di ESQ Training

Seperti telah disebutkan dalam posting sebelumnya, akhir minggu lalu (tanggal 2, 3 dan 4 Maret) aku menjadi ATS (Alumni Training Support) pada Training ESQ Profesional Angkatan 15 Batam di Planet Holiday Hotel. Bukan untuk bermaksud riya, namun posting ini adalah sebagai sharing atas pengalaman yang luar biasa dan banyak hikmah yang dipetik.

Sehari sebelum training diadakan, ba’da Magrib para calon ATS berkumpul di Planet Holiday untuk menyiapkan segala sesuatunya. Menyusun meja, kursi, garis-garis batas, training kit (tas, buku, pulpen, dan buku saku panduan alumni), peralatan, dsb. Untuk training minggu lalu itu, semua persiapan baru dapat dimulai jam 10 malam karena kebetulan malam itu Galaxy room dipakai seminar oleh Asuransi Prudential hingga jam 9 malam. Sehingga baru jam 01.30 pagi kami selesai mengatur ruangan. Saya sampai rumah hampir jam 2, ngobrol sebentar dengan istri lalu tidur. Alhamdulilah jam 4 sudah bangun kembali untuk tahajjud dan subuh, mempersiapkan diri, dan jam 05.40 meninggalkan rumah menuju hotel. Sesampainya di hotel saya dibuat kagum oleh pada para ATS lain, mereka semua sudah hadir di ruang training pagi itu!! Padahal saya kira karena tadi malam pulang sudah sangat larut, mungkin ada yang akan datang terlambat. Ternyata tidak, malahan saya yang bisa dianggap terlambat. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang punya komitmen sangat tinggi.

ATS bertugas dari jam 6 pagi sampai 8 malam. Diawali dengan briefing bersama yang terdiri dari do’a, review kegiatan hari sebelumnya, penjelasan singkat materi training dan apa yang harus dilakukan ATS pada setiap materi tsb, sesi singkat tanya jawab, dan yell-yell (yell ESQ, ikrar, dan salam semut). Kemudian masing-masing ATS akan menuju posisi tugas masing-masing untuk menyambut peserta; ada yang di lobby hotel, di lantai 2, di lantai 3, di registrasi/absensi, di dalam ruangan training, di belakang layar, dsb. Semuanya bekerja untuk membantu menyiapkan agar tidak ada acara yang tersendat, terganggu, kacau, salah, atau sampai mengecewakan. Dalam kata-kata Pak Sonny Pane, koordinator ATS laki-laki: “Kita bekerja untuk menjamu tamu agung, tamu Allah”. Maka para ATS benar-benar berusaha melayani para peserta dan alumni dengan sebaik-baiknya. Semua dilakukan dengan ikhlas, tidak dibayar, dan hanya berharap ridha Allah SWT.

Pada saat training berlangsung, ATS standby di posisi masing-masing. Ada yang jaga pintu (terutama sekali saat ruangan dalam keadaan gelap, tidak boleh ada yang keluar-masuk lewat pintu utama), ada yang jaga lampu (harus mengikuti kode posisi lampu yang disampaikan oleh Asst. Trainer lewat handytalkie), ada yang di belakang layar, dan yang lain menjaga di belakang peserta. Di saat standby di posisi masing-masing inilah, meski sedang bertugas, ATS juga dapat mengikuti materi training dengan baik dan bisa dibuat menangis juga kok🙂. Tentunya tidak dapat secara bebas melepaskan tangisan seperti peserta.

Di akhir setiap sesi, saat para peserta break pagi/siang/sore, ATS menyiapkan alat bantu training untuk sesi berikutnya, menyediakan tempat shalat berjamaah, merapikan kursi, dan mengatur peserta agar duduk di tempat yang telah ditentukan (jika tukar posisi duduk pria dan wanita). Juga untuk mengingatkan peserta untuk kembali ke ruang training dengan membunyikan mainan bebek. Jika sudah selesai semua, barulah ATS bisa istirahat secara bergantian. Setelah training selesai, ATS kembali mengadakan briefing bersama Asst. Trainer/Trainer untuk mereview training hari itu dan persiapan untuk hari berikutnya. Juga ada do’a, yell dan salam semut.

Secara fisik cukup melelahkan namun secara batin sangatlah membahagiakan, karena ATS membantu orang lain mendapatkan pengalaman spiritual yang tak mereka dapatkan di tempat lain. Itu yang membuat bahagia. ATS hadir untuk membantu training dan training adalah wadah ATS untuk menzakatkan fithrah menolongnya.

Dalam salah satu materi training ESQ disebutkan ada 4 jenis kebahagiaan; fisik, intelektual, emosi dan spiritual. 3 kebahagiaan yang pertama diperoleh karena kita diberi/menerima, dan yang terakhir dirasakan ketika memberi. 3 hari penuh sebagai ATS aku sangat merasakan kebahagiaan karena memberi itu. Kebahagiaan ketika membantu, melayani, mempersilakan, dan memberi senyuman. Kebahagiaan ketika rela menyusun sepatu-sepatu peserta yang tidak diletakkan pada tempatnya. Kebahagiaan ketika ikhlas mengumpulkan sampah, balon, tissue, batu-batu jumrah, dsb yang kadang dibiarkan begitu saja dalam ruang training. Kebahagiaan ketika melihat peserta mendapatkan hidayah Allah SWT. Kebahagiaan ketika memiliki kemampuan mengatur kebahagiaan diri sendiri, yang didapat hanya ketika memberi/mengeluarkan. Kebahagiaan yang tanpa embel-embel jabatan, pamrih, uang, posisi, gengsi, dan ego.

Menjadi ATS adalah keikhlasan tanpa pamrih dan hanya mengharap ridha pahala dari Allah SWT. Menjadi ATS adalah menzakatkan fithrah saling menolong. Menjadi ATS adalah bagian dari total action membantu kelancaran acara training.

Aturan baru dari Korwil Kepri mulai Maret ini, ATS yang bertugas haruslah yang bisa full time 3 hari (tidak boleh setengah-setengah), dibatasi sesuai jumlah peserta (kalau tidak salah, komposisinya 1:10), dan akan dipergilirkan (agar jangan orang yang itu-itu saja yang menjadi ATS). Di sisi lain, ATS mendapatkan peningkatan perhatian dari Korwil berupa tersedianya sarapan pagi (kue dan minuman), makan siang dan makan malam.

Untuk training angkatan berikutnya, aku ingin kembali mendaftar sebagai ATS. Boleh dibilang, aku ketagihan!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s