Menikmati hari-hari yang baru di sebuah sudut desa di Pasuruan, Jawa Timur adalah menikmati irama dan suasana kehidupan yang sungguh berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Tidak ada mall atau jalan toll. Tidak ada gymnasium, kolam renang atau arena bowling. Tidak juga kartu-kartu magnetic digital, dering handphone, grafik-grafik computer atau deru tembakan chip elektronik pada papan sirkuit. Tiada tekanan target kerja atau ketakutan tidak dapat memenuhi komitmen pada customer.

Yang ada hanya alam, alam dan alam.
Lenguhan sapi yang sedang diperah susunya, tarikan nafas pada udara yang begitu segar dan bebas polusi, pandangan yang lepas dan teramat dekat pada bernas-bernas padi di sawah saat bertelanjang kaki menelusuri pematangnya, kelompok-kelompok petani yang tengah bungah bekerja memanen hasil satu musim, titik-titik murni embun di dedaunan, anak-anak yang bermain bola di sawah yang telah kering setelah panen, iringan bebek yang sedang mencari makan, senyum ikhlas dari orang-orang yang bahkan tidak dikenal dan belum pernah dijumpai, cericit burung di atas pohon…
This is life!
Kehidupan yang berasal dan menyatu dengan alam. Yang dimulai di awal Subuh dan berakhir tak lama setelah Isya. Rutin dijalani sebagai wujud pengabdian dan kepatuhan pada sang pemberi yang Maha Hidup dan Maha Mengatur.
Aku menikmatinya, sungguh!
Tidakkah engkau ingin, Kawan?
Jo, I like this posting. It brings me to somewhere that i used to be. You just make me miss my Padang…
I think we all miss that environment. We used to be familiar with those robotic’s life and goin’ mad about it. I consider myself lucky to be here with all these peacefull things now…
Wanna join me, Boy?