Novel Di Atas Sajadah Cinta

Nampaknya aku sudah menjadi salah seorang dari penggemar karya-karya novel sastra Islami dari Habiburrahman El Shirazy. Novel-novel karyanya benar-benar novel pembangun jiwa, sebutan yang diberikan ketika ia meluncurkan novel Ayat-Ayat Cinta.

2 karya lain dari Kang Abik (panggilan akrab Habiburrahman El Shirazy) Di Atas Sajadah Cinta dan Pudarnya Pesona Cleopatra yang beberapa bulan lalu pernah kubaca, kemaren sore aku baca ulang. Jika dulu aku membacanya biasa-biasa saja, maka baca ulang kali ini memberikan kesan yang mendalam di hati, terutama pada Di Atas Sajadah Cinta. Ada pelajaran dan hikmah yang kudapat.

Kalimat dan episode paling menyentuh dari mini novel Di Atas Sajadah Cinta buatku adalah ketika tokoh Zahid menangis terlambat bangun untuk shalat tahajjud dan mengucapkan do’a: “Ilahi, jangan kau gantikan bidadariku di syurga dengan bidadari dunia. Ilahi, hamba lemah, maka berilah kekuatan.”

Sungguh gambaran rasa cinta yang luar biasa kepada Allah SWT. Zahid tidak ingin setetes rasa cinta dunia menghalanginya mendapatkan surga akhirat. Bayang-bayang rasa cinta dan rindu serta tidak ingin kehilangan Afirah bercampur dengan rasa cinta dan takut adzab Allah SWT, membuatnya jatuh pingsan dan mengakibatkan ia terlambat bangun shalat tahajjud.

Aku tertonjok sangat. Aku belum sampai pada tingkat kecintaan yang begitu tinggi dan agung. Aku tidak menyesali tidak melaksanakan shalat tahajjud, jika terbangun aku akan shalat, tapi jika baru terbangun di saat subuh, aku merasa tidak apa-apa. Padahal shalat sunat tahajjud bernilai sangat tinggi dan merupakan puncak kedekatan seorang hamba dengan penciptanya.

Aku sudah coba melecut diri untuk lebih rajin shalat tahajjud, antara lain tidak tidur terlalu malam, selalu mengingatkan diri menjelang tidur agar bangun lebih cepat, meminta istri membangunkanku jika ia terbangun tengah malam, sampai menyalakan alarm. Namun kadang-kadang usaha itu tidak berhasil juga. Berat kantuk di pelupuk mata jauh menggodaku untuk lebih memilih tidur daripada menghadap Allah SWT. Rasa malas menggayuti dan menakut-nakuti diriku akan dinginnya air wudhu. Aku lebih sering kalah daripada menang menghadapi setan-setan itu. :(

Aku ingin seperti Zahid yang memiliki cinta Ilahi sangat besar. Aku ingin lebih dekat dengan Allah SWT, antara lain melalui shalat tahajjud. Akan kucoba terus…

PS: Untuk yang ingin membaca Di Atas Sajadah Cinta secara online, silakan ke tautan ini.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s